Antara Firman Allah dan Pemahaman: Peran Seorang Mubaligh

www.majelistabligh.id -

*)Oleh: Agus Priyadi, S.Pd.I.

Terkadang, kita berpikir bahwa menjadi juru bicara adalah sebuah kehormatan besar. Terlebih lagi jika menjadi juru bicara seorang pejabat tinggi negara, seperti presiden, yang merupakan simbol tertinggi kekuasaan pemerintahan. Pekerjaan ini tentu tidak mudah, karena memerlukan beragam kompetensi—mulai dari etika, kemampuan berbahasa, komunikasi, kecakapan sosial, hingga wawasan yang luas.

Menjadi juru bicara bukanlah profesi biasa, melainkan tugas istimewa yang diidam-idamkan banyak orang. Selain prestise yang tinggi, posisi ini juga biasanya disertai fasilitas dan penghasilan yang layak. Singkatnya, menjadi juru bicara merupakan anugerah dan kehormatan yang besar.

Namun, pernahkah kita membayangkan menjadi juru bicara Allah SWT?

Pertanyaannya, apakah Allah memerlukan juru bicara? Bukankah Dia Mahakuasa dan dapat menyampaikan segala sesuatu dengan sempurna?

Masalahnya bukan pada kemampuan Allah menyampaikan, tetapi pada kemampuan manusia memahami. Firman Allah adalah kebenaran absolut, sedangkan manusia memiliki keterbatasan dalam menangkap makna yang terkandung di dalamnya. Karena itu, diperlukan seorang penyampai—juru bicara—yang menjelaskan firman Allah agar bisa dipahami dan diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari.

Wahyu Allah, yakni Al-Qur’an, diturunkan dalam bentuk global dan penuh hikmah. Penjelasan lebih lanjut diperlukan agar makna-maknanya dapat dipahami umat. Tak semua orang memiliki kapasitas untuk menafsirkan dan menyampaikan isi wahyu tersebut. Dibutuhkan ilmu-ilmu pendukung seperti Bahasa Arab, ilmu nahwu, shorof, ulumul Qur’an, dan sebagainya.

Dalam konteks ini, seorang mubaligh adalah juru bicara Allah SWT di muka bumi. Ia menyampaikan risalah-Nya kepada umat manusia, menjelaskan kandungan Al-Qur’an dan hadis Nabi SAW agar dapat dipahami dan diamalkan. Tugas ini tidak bisa dilakukan sembarangan; diperlukan bekal keilmuan dan keikhlasan dalam berdakwah.

Setiap Muslim sejatinya memiliki kewajiban dakwah, sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW: “Sampaikanlah dariku walau satu ayat.” Namun dalam skala yang lebih luas, menjadi seorang mubaligh menuntut pemahaman mendalam terhadap teks-teks keagamaan agar pesan yang disampaikan tidak menyesatkan.

Islam adalah agama rahmat bagi seluruh alam (rahmatan lil ‘alamin). Oleh karena itu, kehadiran para mubaligh sangat penting untuk menebarkan nilai-nilai Islam yang membawa kedamaian, keadilan, dan kasih sayang. Mereka menjalankan misi besar: menegakkan amar ma’ruf nahi munkar, sebagaimana difirmankan Allah SWT:

“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar. Merekalah orang-orang yang beruntung.” (QS. Ali Imran: 104)

Tugas dakwah bukan hanya menyangkut tanggung jawab sosial, tetapi juga tanggung jawab spiritual. Mubaligh mengajak manusia kembali kepada tujuan utama penciptaan: menyembah Allah SWT. Sebagaimana firman-Nya:

Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadah kepada-Ku.” (QS. Az-Zariyat: 56)

Sayangnya, banyak manusia lupa akan perjanjian fitrahnya kepada Allah, sebagaimana disebutkan dalam QS. Al-A’raf: 172, bahwa semua manusia sebelum lahir telah bersaksi bahwa Allah adalah Tuhan mereka. Namun setelah lahir ke dunia, banyak yang mengingkarinya. Maka, tugas mulia mubaligh adalah mengingatkan kembali manusia kepada fitrahnya dan mengajak mereka menuju jalan yang diridai Allah.

Tugas dakwah juga bersifat protektif, menyelamatkan diri dan keluarga dari siksa neraka. Allah SWT berfirman:

Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” (QS. At-Tahrim: 6)

Neraka adalah seburuk-buruk tempat kembali, diperuntukkan bagi mereka yang mengabaikan perintah-Nya. Oleh sebab itu, dakwah adalah bentuk cinta dan kepedulian terhadap sesama agar tidak tergelincir ke jalan yang salah.

Mubaligh adalah ujung tombak penyampai pesan ilahi. Ia bukan sekadar pengkhotbah, tetapi juru bicara Tuhan yang membimbing umat menuju keselamatan dunia dan akhirat. (*)

*) Ketua Majlis Tabligh Ranting Danaraja, anggota MT PCM Merden, anggota KMM PDM Banjarnegara dan santri sekolah tabligh PWM Jawa Tengah di Banjarnegara.

Tinggalkan Balasan

Search