Orang Yahudi dan Nasrani menganggap bahwa mereka akan masuk surga. Allah SWT kemudian menegaskan bahwa kategori ahli surga adalah bagi siapa saja yang menyerahkan dirinya kepada Allah dan berbuat baik.
Allah SWT berfirman:
بَلٰى مَنۡ اَسۡلَمَ وَجۡهَهٗ لِلّٰهِ وَهُوَ مُحۡسِنٌ فَلَهٗۤ اَجۡرُهٗ عِنۡدَ رَبِّهٖ وَلَا خَوۡفٌ عَلَيۡهِمۡ وَلَا هُمۡ يَحۡزَنُوۡنَ
“Tidak! Barangsiapa menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah, dan dia berbuat baik, dia mendapat pahala di sisi Tuhannya dan tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati.” (QS. Al-Baqarah [2]: 112)
Rasulullah saw menegaskan bahwa siapapun yang dia telah menyerahkan wajahnya kepada Allah SWT, artinya ia telah masuk Islam, kemudian ia berbuat baik, maka Allah SWT akan memberikan balasan pahala berupa surga, dan ia tidak akan merasa takut dan bersedih hati.
Ayat tersebut menjelaskan bahwa tidak cukup seseorang hanya masuk Islam saja, namun juga ia harus berbuat baik, sehingga ia akan diberi pahala yang besar yaitu surga, dan ia tidak akan merasa takut dan sedih.
Artinya muslim dan berbuat baik adalah satu paket, yang akan membuat pelakunya diberi balasan pahala yang besar yaitu surga yang merupakan sebaik-baiknya tempat kembali. Firman Allah SWT:
خٰلِدِيۡنَ فِيۡهَا ؕ حَسُنَتۡ مُسۡتَقَرًّا وَّمُقَامًا
“Mereka kekal di dalamnya. Surga itu sebaik-baik tempat menetap dan tempat kediaman.” (QS. Al-Furqan : 76).
Artinya pula bahwa perbuatan baik yang dilakukan oleh siapapun yang tidak menyerahkan dirinya kepada Allah SWT, maka ia tidak akan diberi pahala oleh Allah SWT yaitu surga dan amal perbuatannya menjadi sia-sia.
Sebab ketika seseorang menyerahkan dirinya kepada Allah SWT (berIslam), maka ia secara otomatis akan menyandarkan seluruh amal perbuatannya berdasarkan pada aturan Allah SWT, taat pada perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.
Melaksanakannya dengan penuh keikhlasan dan keridaan.
Sehingga seorang yang telah menyerahkan orientasi hidupnya kepada Allah SWT (ber-Islam) ia akan beramal saleh, berbuat baik, sesuai dengan perintah Allah SWT dan larangannya.
Maka seorang yang telah menyerahkan dirinya kepada Allah SWT (berIslam), tidak akan mengatakan bahwa Allah SWT beranak dan diperanakan, tidak akan menyerupakan Allah SWT dengan makhluk-Nya, dan tidak akan menyamakan kekuatan Allah SWT dengan makhluk-Nya.
Maka mereka yang telah menyerahkan dirinya kepada Allah SWT berarti dia telah berIslam, dan pelakunya disebut sebagai muslim.
Karenanya seseorang yang telah berIslam, maka ia harus berbuat baik, yaitu beramal saleh sehingga ia akan dimasukkan kedalam golongan orang-orang yang berbuat baik ” muhsinun”.
Adapun amal saleh yang dilakukan oleh seorang muslim adalah perbuatan yang harus memenuhi dua syarat, yaitu niat ikhlas karena Allah SWT dan cara benar seperti yang dicontohkan oleh Rasulullah Muhammad saw.
Karenanya untuk mengetahui cara benar seperti yang dilakukan oleh Rasulullah Saw, maka setiap muslim diwajibkan untuk mencari tahu mencari ilmu, sehingga ia akan lurus benar dalam melakukan amal salehnya.
Sehingga Allah SWT akan menerima amal salehnya. Sebagaimana firman Allah SWT:
اۨلَّذِىۡ خَلَقَ الۡمَوۡتَ وَالۡحَيٰوةَ لِيَبۡلُوَكُمۡ اَيُّكُمۡ اَحۡسَنُ عَمَلًا ؕ وَهُوَ الۡعَزِيۡزُ الۡغَفُوۡرُۙ
“Yang menciptakan mati dan hidup, untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Mahaperkasa, Maha Pengampun.” (QS. Al-Mulk: 2)
Setiap muslim akan mencari tahu bagaimana Rasulullah Saw shalat, puasa, menunaikan zakat, berhaji, dan cara bermuamalah. (*)
