Menjadi mualaf di negara yang tidak percaya agama, memang banyak rintangan. Hal ini juga dialami oleh Ayana Jihye Moon, wanita asal Korea Selatan. Perjalanan menuju mualaf ditentang orang tua. Bahkan keluarganya menilai aturan dalam agama Islam sangat aneh sehingga mereka tidak bisa menerima ajaran agama.
Muslimah diwajibkan memakai hijab, orang Islam tidak boleh makan babi, itu terdengar aneh bagi orang tuanya. Tetapi justru inilah yang membuat Ayana Moon penasaran, meski saat itu umurnya masih 7 tahun. Ketertarikan wanita ini pada Islam, tidak lepas pengaruh kakeknya, seorang politikus yang sering bercerita tentang budaya Islam.
Rasa penasaran ini yang membuat Ayana mendalami kebudayaan Timur Tengah selama sembilan tahun. Sejak SMP, ia belajar tentang Islam secara mandiri, menghadiri seminar, dan membaca buku-buku akademik meskipun kemampuan bahasa Inggrisnya saat itu masih terbatas. Ketertarikannya yang mendalam mendorongnya untuk mengenal ajaran Islam lebih jauh hingga akhirnya ia memutuskan memeluk agama Islam saat usianya memasuki 16 tahun.
“Saya mempelajari budaya Timur Tengah selama bertahun-tahun, dan lebih mendalami Islam. Akhirnya, saya memutuskan untuk menjadi Muslimah pada tahun 2012,” kata Ayana dalam kanal Youtube Trans7.
Secara hukum, Korea Selatan tidak memiliki agama resmi negara. Konstitusi mereka menjamin pemisahan antara agama dan negara (Jeonggyo bunri). Artinya, pemerintah tidak boleh memihak atau mendanai satu agama tertentu di atas yang lain. Budaya Korea kental dengan nilai-nilai Konfusianisme (seperti hormat kepada orang tua dan etika kerja) serta tradisi Shamanisme atau percaya pada dukun dan ramalan.
Meski ditentang orang tua, Ayana Moon tetap teguh dengan keislamannya. Bahkan ia rela meninggalkan keluarganya ke Malaysia untuk mendalami Islam, meski harus mencari uang sendiri. “Itu masa yang sulit yang saya alami, tapi saya percaya itu adalah ujian dari Allah SWT,” ujarnya.

Setelah menempuh pendidikan di Malaysia, Ayana Moon berpindah ke Indonesia. Justru di Indoesia inilah Ayana Moon menemukan banyak pengalaman, khususnya dalam memperdalam agama Islam. Apalagi karena perjalanannya yang inspiratif, membuat banyak muslimah di Indonesia menjadikannya teladan, sehingga ia makin dikenal di negara ini.
“Sudah lebih dari tujuh tahun tinggal di Indonesia. Saya bukan artis, saya bukan selebriti, saya bukan siapa siapa di bidang ini, dan saya selalu berpikir ini bukan pekerjaan yang bisa saya lakukan terus-menerus karena di sini entertainment itu sangat pendek,” ujar Ayana.
Selama tinggal di Indonesia, ia bersyukur telah mendapat kesempatan untuk menjadi brand ambassador berbagai produk kecantikan. Dari situ Ayana menilai bahwa Indonesia adalah negara yang cocok dengan kehidupannya. Ia bisa memperdalam ilmu politik bisnis, juga mayoritas warga negaranya beragama Islam.
Saat pengalaman pertama menjalankan ibadah puasa di Indonesia, ia sempat bingung. Sebab untuk memulai awal puasa harus menunggu sidang dan keputusan dari otoritas negara. Kalau di Korea cukup menunggu keputusan KMF, sebuah organisasi Islam pertama dan satu-satunya di Korea Selatan yang berawal dari suatu komunitas masyarakat Muslim asli penduduk Korea.
“Saya suka makan cilok pas berbuka. Cilok saya kasih nilai delapan karena enak. Es teler saya suka itu, kalau kolak saya kasih nilai lima,” jelasnya lagi.
Ayana tetap istiqomah dan kini dikenal luas di Indonesia dan Malaysia sebagai selebgram berhijab. Ia juga menulis buku “Ayana: Journey to Islam”, dan kerap menjadi pembicara publik yang menginspirasi banyak orang. Kisahnya bukan hanya tentang perubahan keyakinan, tetapi juga tentang keberanian, keteguhan hati, dan pencarian makna hidup yang mendalam.
Dalam kesendiriannya di Indonesia, Ayana selalu berdoa: “Ya Allah, tolong berikan kesempatan untuk saya menguatkan iman. Dan akhirnya sampai saat ini semuanya berjalan lancar,” ungkap Ayana Moon. (*)
