Senada dengan itu, buku The Death of Expertise karya Tom Nichols menyoroti bahaya “matinya kepakaran”—yakni ketika kebohongan kolektif dan fake news menggantikan fakta hanya karena lebih viral dan banyak penonton.
Televisi di Persimpangan Jalan
Apakah televisi akan punah? Tidak sepenuhnya. Namun wajahnya pasti akan berubah. Laporan Deloitte Global Media Trends (2022) menyebut bahwa masa depan televisi ada pada konvergensi lintas platform: streaming, mobile, dan interaktif.
Stasiun besar dunia seperti BBC, Al Jazeera, dan bahkan TVRI mulai menerapkan strategi integrasi multiplatform: dari siaran langsung, video pendek, artikel daring, infografik, hingga podcast.
Profesor Jeff Jarvis menyatakan dalam bukunya Geeks Bearing Gifts, “News is no longer a product. It’s a process—built by conversation, not just broadcast.” Di masa depan, media yang punya komunitas, bukan sekadar studio, yang akan bertahan.
Lima Strategi Menjawab Tantangan
Agar tidak kian terpuruk, industri media televisi perlu segera melakukan langkah strategis:
Transformasi Digital Menyeluruh
Tidak cukup hanya membuat kanal YouTube, redaksi harus beralih dari pola pikir monolog ke dialog, dari massa ke komunitas.
Investasi SDM Digital
PHK harus diimbangi dengan rekrutmen tenaga kerja digital native yang menguasai algoritma, SEO, dan tren konsumsi baru.
Pemulihan Etos Jurnalistik
Kecepatan tak boleh mengorbankan akurasi. Televisi harus kembali menjadi sumber informasi yang etis dan mendidik.
Kolaborasi Lintas Lembaga
Kerja sama dengan pesantren, kampus, dan komunitas lokal dapat memperkuat konten dan distribusi informasi.
Dorongan Regulasi Inklusif
Pemerintah perlu merancang regulasi yang adaptif terhadap inovasi, sekaligus menjaga etika dan kualitas penyiaran.
PHK massal hanyalah puncak gunung es dari transformasi besar dalam dunia media. Ini saatnya refleksi, bukan ratapan. Media yang tanggap terhadap perubahan, yang bisa membaca arah zaman, akan tetap bertahan dan relevan.
Sebaliknya, mereka yang terjebak dalam romantisme masa lalu akan tergerus oleh sejarah. Media tetap dibutuhkan—bukan hanya sebagai sumber informasi, tapi juga sebagai penjaga akal sehat publik dan penyalur nilai-nilai luhur, termasuk dalam konteks dakwah Islam di era digital yang kompleks ini. (*)
*) Anggota Lembaga Sensor Film (LSF) Jawa Timur 2017-2021 dan Mahasiswa Doktoral UIN Jakarta
