Bahagia yang Disegerakan

*) Oleh : Agus Wahyudi
www.majelistabligh.id -

Sore itu, di sebuah kantor di lantai tinggi gedung pencakar langit, suasana terasa lengang. Seorang atasan melangkah pelan menuju meja staf mudanya, yang masih sibuk di balik layar komputer. Tanpa senyum, dengan suara tegas namun dingin, ia berkata:

“Maaf, saya tak bisa datang ke pernikahanmu. Tapi… kenapa kamu buru-buru menikah?”

Kalimat itu menggantung di udara, menyesakkan. Ucapan yang terdengar sederhana, namun sarat makna—seolah mengingatkan bahwa posisi si anak muda masih jauh dari puncak, masih staf biasa, dan mungkin… belum waktunya mengambil keputusan sebesar itu.

Si anak muda hanya mengangguk pelan. Tidak membantah. Tidak pula membenarkan. Dia tahu, mungkin ada maksud baik di balik kalimat sang bos.

Tapi ada juga rasa ganjil yang menyesakkan dada. Kalimat sang bos kemudian berlanjut dan semakin mengendap dalam pikirannya.

“Bekerja keraslah sampai kamu mendapatkan semua yang kamu impikan. Bekerja keras, lalu sukses, kaya, dan baru setelah itu kamu akan bahagia.”

Kalimat itu terus terngiang. Lama. Tidak terlupakan. Seakan menjadi dogma yang diam-diam tertanam di kepalanya: kerja keras, kaya, bahagia. Dia mulai ragu: benarkah kebahagiaan adalah sesuatu yang harus ditunda, dikejar setelah lelah tak bersisa?

Tahun demi tahun berlalu. Sang anak muda tetap bekerja. Kadang ia mengingat ucapan bosnya saat melewatkan makan siang demi target, saat melewatkan waktu bermain bersama anak pertamanya demi lembur.

Tapi dia memilih jalannya sendiri. Menikah di usia muda. Hidup sederhana tapi penuh tawa. Tak selalu cukup, tapi cukup bahagia.

Lima belas tahun kemudian, kabar itu datang seperti angin dingin di siang yang panas. Bosnya dirawat di rumah sakit. Butuh transplantasi hati. Satu-satunya cara agar hidupnya bisa diselamatkan.

Operasi besar pun dilakukan. Bertaruh nyawa. Bertaruh harapan. Dan sejak hari itu, hidupnya tak lagi sama.

Setiap pagi, sang bos kini rutin menelan segenggam obat dengan hati-hati, mengikuti takaran dan jadwal yang sudah ditetapkan, hampir seperti kebiasaan yang tak bisa dilewatkan.

Dua yang dulu begitu menyukai daging merah, makanan laut, makanan manis, kini harus menjalani hidup dengan penuh batasan.

Tidak ada lagi makan malam mewah sembari tertawa keras di restoran ternama. Tidak ada lagi hidangan favorit yang bisa disantap tanpa rasa khawatir.

Mobil-mobil mewah yang dulu dibanggakan — deretan kendaraan mahal dengan logo eksklusif yang terparkir rapi di garasi rumahnya — kini nyaris tak tersentuh. Dia lebih memilih berjalan kaki pagi hari, pelan-pelan menyusuri jalan kompleks sembari menenangkan pikirannya.

Kadang, ia terlihat ikut senam lansia di taman kecil dekat rumahnya. Seorang lelaki paro baya yang dulu begitu disibukkan dengan rapat dan target, kini berjuang menjaga denyut kehidupan dari hal-hal paling sederhana: napas yang tenang, jantung yang stabil, dan hati yang bertahan.

Kekayaan yang dulu dikejar-kejar, kini justru menjadi ironi. Karena untuk makan saja, dia harus menahan selera. Untuk bepergian jauh, harus berkonsultasi dengan dokter. Untuk bahagia, tak lagi bisa semudah meraih dompet.

Dan si anak muda,  yang dulu ditegur karena menikah terlalu dini — kini sudah menjadi pria dewasa. Hidupnya memang tak berlimpah harta. Tapi setiap sore, dia bisa duduk di beranda rumah bersama anak-anaknya. Mendengarkan cerita mereka, tertawa, dan merasa utuh.

Dulu, sang bos bilang: “Kerja keraslah dulu, baru bahagia.”

Namun hidup diam-diam mengajarkan pelajaran yang berbeda: Mungkin, justru karena kita bahagia — kita bisa bekerja keras dengan hati yang ringan.

Dan kekayaan yang sesungguhnya adalah waktu yang kita habiskan bersama orang yang kita cintai, sebelum semuanya terlambat.

***

Dalam pandangan Islam, pernikahan bukanlah sekadar urusan kesiapan finansial. Ia adalah ibadah. Jalan menuju ketenangan jiwa. Sarana untuk menjaga fitrah kemanusiaan. Allah SWT berfirman:

“Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, agar kamu merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang.”
(QS. Ar-Rum: 21)

Menikah dalam Islam tidak menunggu kaya. Bahkan Rasulullah saw pernah menyebutkan dalam hadis:

“Tiga golongan yang berhak mendapatkan pertolongan Allah: orang yang berjihad di jalan Allah, budak yang menebus dirinya untuk merdeka, dan orang yang menikah karena ingin menjaga kehormatannya.” (HR. Tirmidzi)

Islam tidak menuntut kesiapan materi berlebih untuk menikah, tapi kesiapan hati untuk bertanggung jawab dan berjalan bersama dalam suka dan duka.

Karena sejatinya, menikah bukan tentang siapa yang sudah “jadi apa”, tetapi siapa yang bersedia tumbuh bersama.

Soal rezeki, Allah SWT sudah berjanji:

“Jika mereka miskin, Allah akan memberi kemampuan kepada mereka dengan karunia-Nya.” (QS. An-Nur: 32)

Rezeki tidak selalu datang lebih dulu. Kadang justru menyusul setelah seseorang mengambil langkah iman, seperti menikah.

Dalam rumah tangga, rezeki bisa datang dari kerja keras bersama, dari doa anak yang tulus, atau dari istri yang sabar dan mendukung.

Begitu pula soal bahagia. Dalam Islam, kebahagiaan sejati bukan berasal dari harta benda yang berlimpah, tetapi dari hati yang rida. Jiiwa yang tenang. Hubungan yang baik dengan Allah serta sesama. Nabi Muhammad saw bersabda:

“Sungguh beruntung orang yang masuk Islam, diberi rezeki yang cukup, dan Allah menjadikannya qana’ah (merasa cukup) dengan apa yang diberikan kepadanya.” (HR. Muslim)

Kekayaan, jabatan, dan popularitas bukanlah jaminan bahagia. Banyak yang memiliki semuanya, tapi hatinya kosong. Banyak pula yang hidup sederhana, tapi hatinya penuh syukur.

Hidup bukan tentang menunda bahagia sampai tua. Hidup adalah tentang bersyukur atas yang ada. Tidak melewatkan kesempatan untuk mencintai, memberi, dan menjalani hidup dengan iman yang lurus.

Karena bisa jadi, ketika kita sibuk mengejar “bahagia” yang tak kunjung tiba, kita justru melewatkan detik-detik kecil yang sebenarnya adalah kebahagiaan itu sendiri.

***

Waktu bergerak tanpa kompromi. Ia tidak menunggu siapa pun. Dalam laju kehidupan yang sering kali dibingkai dengan target dan pencapaian, kita mudah terjebak dalam logika: “nanti saja bahagia, setelah semua tercapai.”

Rasionalitas modern mendorong kita berpikir bahwa kebahagiaan harus ditunda sampai kita merasa cukup secara materi. Namun, pertanyaannya: cukup itu batasnya di mana? Dan lebih penting lagi: apakah kita akan sempat sampai ke sana?

Realitas hidup menunjukkan bahwa kesehatan tidak bisa dibeli saat ia hilang. Waktu bersama orang tercinta tidak bisa diulang ketika mereka telah tiada.

Dan kesempatan menjalani hidup dengan hati yang lapang tidak bisa diraih jika kita terus dikejar ambisi yang tak pernah bertepi.

Secara spiritual, Islam mengajarkan keseimbangan antara ikhtiar dan tawakal, antara dunia dan akhirat.

Kita diperintahkan bekerja dan berusaha, tapi tidak diperbudak oleh dunia. Kita diajak membangun, tapi juga diajak merenung dan bersyukur.

Kebahagiaan dalam Islam bukanlah puncak dari kekayaan, tapi hasil dari hati yang tenang, amal yang baik, dan hubungan yang harmonis. Baik dengan manusia maupun dengan Sang Pencipta.

Rasulullah saw sendiri adalah contoh terbaik: hidup sederhana, tapi penuh cinta dan makna. Beliau tidak mewariskan istana, tapi mewariskan kedamaian dan keteladanan.
Dalam hidupnya, keluarga, waktu untuk sahabat, dan ibadah tidak ditukar dengan ambisi duniawi.

Kita tentu boleh bercita-cita tinggi. Tapi jangan sampai cita-cita itu menunda kebahagiaan yang bisa kita rasakan hari ini, dari canda anak, senyum istri, waktu luang bersama orang tua, hingga sekadar duduk tenang membaca ayat-ayat Allah.

So, hidup bukan tentang menunggu waktu yang ideal untuk bahagia. Hidup adalah tentang memaknai setiap waktu yang ada.

Menjalaninya dengan penuh kesadaran. Da, menyadari bahwa sering kali kebahagiaan itu bukan hasil akhir, tetapi cara kita melangkah. (*)

 

 

Tinggalkan Balasan

Search