Baldah Thayyibah Saja Tidak Cukup, Kita Butuh Rabbun Ghafur

www.majelistabligh.id -

Dalam suasana penuh hikmah di Kajian Ramadan 1446 H yang diselenggarakan oleh Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur, pada Sabtu (8/3/2025), Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, KH. Dr. Saad Ibrahim, mengungkapkan pandangannya mengenai kondisi Indonesia dari perspektif agama dan kehidupan berbangsa.

Dalam ceramahnya, beliau menyampaikan bahwa Indonesia merupakan bagian dari surga yang diletakkan di bumi, sebuah ungkapan yang menggambarkan betapa kaya dan indahnya negeri ini.

Pernyataan ini bukanlah sekadar ungkapan metaforis semata, melainkan didasarkan pada pemikiran salah seorang mufassir asal Mesir yang pernah berkunjung ke Indonesia pada tahun 1960-an.

“Ulama tersebut melihat langsung keindahan alam Indonesia, mulai dari hamparan pegunungan yang hijau, lautan yang luas dan kaya, serta keberagaman hayati yang luar biasa. Secara fisik, Indonesia telah memenuhi kriteria sebagai “baldah thayyibah”, atau negeri yang baik dan sejahtera,” katanya

Tema kajian yang diangkat oleh PWM Jawa Timur tahun ini adalah “Baldah Thayyibah: Refleksi untuk Negeri”. Dalam pemaparannya, Kiai Saad menjelaskan bahwa Indonesia sudah termasuk dalam kategori “baldah thayyibah” dari segi fisik.

“Artinya, secara geografis dan sumber daya alam, negeri ini telah dikaruniai banyak keistimewaan yang menjadikannya tempat yang nyaman untuk dihuni dan dikelola,” tegasnya.

Namun, Kiai Saad menegaskan bahwa predikat “baldah thayyibah” bukan hanya berlaku bagi Indonesia semata. Banyak negara lain di dunia yang juga memiliki kondisi fisik dan geografis yang baik, dengan sumber daya alam yang melimpah.

“Oleh karena itu, tantangan yang dihadapi Indonesia bukanlah sekadar mempertahankan keindahan alam dan kekayaan bumi, melainkan bagaimana menjadikannya sebagai modal untuk membangun peradaban yang lebih baik,” terangnya.

Dalam perspektif Islam, konsep “baldah thayyibah” tidak cukup jika hanya merujuk pada kemakmuran duniawi. Sebuah negeri yang baik tidak hanya diukur dari keberlimpahan sumber daya alam atau keindahan lingkungannya, tetapi juga harus memiliki dimensi spiritual yang kuat.

Oleh karena itu, menurut Kiai Saad, Indonesia tidak boleh berhenti hanya pada status sebagai “baldah thayyibah”, melainkan harus dilanjutkan dengan “wa rabbun ghafur”, yaitu negeri yang tidak hanya sejahtera secara fisik, tetapi juga mendapatkan ampunan dan ridha dari Allah SWT.

Dalam hal ini, ungkap Kiai Saad, kepemimpinan nasional memegang peranan yang sangat penting. Pemimpin bangsa tidak boleh hanya fokus pada pembangunan infrastruktur dan ekonomi, tetapi juga harus memperhatikan pembangunan spiritual dan moral masyarakat.
“Tanpa keseimbangan antara kemajuan duniawi dan ukhrawi, sebuah negeri yang makmur secara fisik bisa kehilangan arah dan akhirnya jatuh dalam kehancuran moral,” tandas manatan ketua PWM Jatim itu.

Sebagai pengingat, Kiai Saad menyinggung kisah negeri Saba’ yang diceritakan dalam Al-Qur’an. Negeri ini pada awalnya adalah sebuah “baldah thayyibah”, dengan tanah yang subur, sumber daya yang melimpah, serta kehidupan masyarakat yang sejahtera.

Namun, karena mereka mengabaikan ketaatan kepada Allah SWT dan mulai berlaku sombong serta melupakan nilai-nilai ketuhanan, akhirnya negeri tersebut mengalami kehancuran.

“Kisah ini menjadi pelajaran berharga bagi Indonesia agar tidak terjebak dalam kesalahan yang sama. Indonesia telah diberkahi dengan kekayaan alam yang luar biasa, tetapi jika nilai-nilai agama dan spiritualitas diabaikan, maka bukan tidak mungkin negeri ini juga akan mengalami kemunduran sebagaimana yang terjadi pada negeri Saba’,” terang dia.

Sebagai sebuah bangsa yang besar, Indonesia memiliki tanggung jawab untuk menjaga keseimbangan antara pembangunan fisik dan pembangunan moral. Infrastruktur yang megah, ekonomi yang maju, dan sumber daya alam yang melimpah harus diiringi dengan kesadaran spiritual dan kepatuhan kepada ajaran agama.

Dengan demikian, pembangunan nasional tidak hanya berorientasi pada kepentingan duniawi, tetapi juga memperhatikan aspek ukhrawi yang akan membawa keberkahan bagi seluruh masyarakat.

Kiai Saad mengajak seluruh elemen bangsa, baik pemimpin maupun rakyat, untuk bersama-sama membangun Indonesia dengan landasan keimanan yang kuat. Negeri ini tidak boleh hanya menjadi “baldah thayyibah” dalam arti fisik, tetapi juga harus menjadi negeri yang mendapatkan ampunan dan rahmat dari Allah SWT.

“Dengan demikian, Indonesia tidak hanya makmur dan sejahtera di dunia, tetapi juga menjadi negeri yang diberkahi hingga akhirat,” katanya.

Sebagai penutup, Kiai Saad, mengingatkan bahwa tugas kita bukan hanya menjaga anugerah yang telah diberikan, tetapi juga memastikan bahwa negeri ini terus berada dalam lindungan dan kasih sayang Allah.

Dengan semangat kebersamaan dan keimanan yang teguh, Indonesia dapat menjadi negeri yang tidak hanya maju secara ekonomi dan infrastruktur, tetapi juga menjadi negeri yang diberkahi dengan keberkahan spiritual dan nilai-nilai keagamaan yang kokoh. (*/wh)

Tinggalkan Balasan

Search