Di tengah sorotan global terhadap krisis iklim dan kerusakan lingkungan, Pimpinan Pusat Nasyiatul Aisyiyah (PPNA) mengambil langkah nyata dengan meluncurkan program Bootcamp Duta Green Nasyiah.
Bertempat secara daring dan diikuti ratusan kader perempuan muda Muhammadiyah dari berbagai wilayah Indonesia, bootcamp ini bertujuan untuk mengarusutamakan peran keluarga, terutama kaum perempuan. dalam merawat bumi.
“Program ini bukan hanya tentang pelatihan, tapi tentang membangun kesadaran ekologis sejak dari rumah. Kami ingin menjadikan keluarga sebagai titik mula perubahan yang nyata,” ujar Ariati Dina Puspitasari, Ketua Umum PPNA, saat membuka acara pada Sabtu (17/5/2025). Sedianya, kegiatan ini akan berlangsung sampai Rabu (21/5/2025).
Bootcamp ini merupakan bagian dari gerakan Green Nasyiah Berbasis Eco Family, sebuah pendekatan berbasis nilai Islam yang mendorong gaya hidup ramah lingkungan di ruang domestik.
Ariati menjelaskan, gerakan ini lahir dari kepedulian terhadap data yang menyatakan bahwa perempuan merupakan kelompok paling rentan terdampak perubahan iklim, namun sekaligus memiliki potensi luar biasa sebagai agen perubahan.
“Jika kita membaca sejarah, kita akan melihat bagaimana perempuan memiliki kekuatan untuk menjaga kehidupan. Nusaibah binti Ka’ab menjadi inspirasi kami, perisai Rasulullah saw di medan perang. Duta Green Nasyiah adalah Nusaibah masa kini, perisai untuk menjaga bumi dan masa depan umat manusia,” ucapnya penuh semangat.
Selama lebih dari satu bulan, dari 17 Mei hingga 21 Juni 2025, para peserta akan mengikuti berbagai sesi edukatif seperti webinar, diskusi panel, praktik komunitas, serta tantangan eco-living yang berfokus pada pengurangan sampah, pengelolaan limbah rumah tangga, konservasi air, hingga edukasi lingkungan kepada anak-anak.
Menteri Lingkungan Hidup Dr. Hanif Faisol Nurofiq, yang hadir sebagai pembicara kunci, menyambut baik inisiatif ini. Ia menegaskan bahwa kesadaran lingkungan tidak bisa dilepaskan dari nilai-nilai keislaman.
“Air, tanah, dan hutan adalah anugerah Allah SWT yang tidak boleh dirusak. Islam sangat tegas dalam ajaran untuk tidak berlebih-lebihan dalam penggunaan sumber daya. Gerakan seperti Green Nasyiah ini adalah wujud konkret dari ajaran Islam dalam menjaga keseimbangan alam,” tuturnya.
Menurutnya, perubahan iklim adalah isu lintas sektor yang memerlukan keterlibatan seluruh lapisan masyarakat, dan perempuan memiliki peran sentral yang kerap terabaikan.
“Perempuan adalah penjaga air, pengelola pangan, pengolah limbah, dan pendidik generasi. Mereka berada di garis depan kehidupan sehari-hari, dan karena itu harus menjadi subjek utama dalam gerakan lingkungan,” tambah Hanif.
Sementara itu, dukungan terhadap gerakan ini juga datang dari berbagai lembaga, termasuk BAZNAS RI, yang sedang mengembangkan konsep Green Zakat.
H. Rizaludin Kurniawan, Pimpinan BAZNAS RI Bidang Pengumpulan, menyampaikan bahwa gerakan ini memiliki keselarasan nilai dengan prinsip keberlanjutan yang diusung zakat produktif.
“Saya sangat mengapresiasi konsep Green Nasyiah yang berbasis eco-family. Semua bisa dimulai dari hal kecil di rumah kita—memilah sampah, menanam sayur, hemat air, mendidik anak tentang tanggung jawab ekologis. Kalau dilakukan secara kolektif, dampaknya luar biasa,” ujarnya.
Dalam pelaksanaannya, peserta tidak hanya belajar teori, tetapi juga diminta menyusun Rencana Tindak Lanjut (RTL) yang akan mereka terapkan di rumah masing-masing. RTL ini akan menjadi alat ukur implementasi eco-living di lingkungan domestik, serta menjadi portofolio kader dalam mengembangkan gerakan lingkungan di komunitas Muhammadiyah.
Salah satu peserta, Fatimah Azzahra, kader Nasyiah dari Makassar, mengungkapkan antusiasmenya.
“Saya baru sadar betapa banyak kebiasaan kita di rumah yang ternyata tidak ramah lingkungan. Dari kebiasaan membuang air cucian begitu saja, sampai penggunaan plastik sekali pakai. Melalui bootcamp ini saya jadi tahu cara memperbaiki itu semua,” ujarnya.
Program ini juga dilengkapi dengan tantangan individu dan keluarga, seperti diet plastik, pengomposan sampah organik, dan penghijauan lahan rumah. Hasil dari tantangan ini akan dibagikan sebagai inspirasi perubahan perilaku ekologis yang dimulai dari rumah.
Menurut panitia pelaksana, bootcamp ini adalah awal dari gerakan jangka panjang yang akan diperluas ke tingkat wilayah dan daerah.
“Kita ingin membangun jejaring perempuan peduli lingkungan yang aktif dan konsisten. Tidak berhenti di satu program, tapi menjadi budaya baru di kalangan keluarga Muhammadiyah,” ujar salah satu koordinator.
Di tengah krisis ekologis yang semakin mendesak, Green Nasyiah hadir sebagai suara alternatif dari komunitas perempuan Muslim muda Indonesia. Suara yang tidak hanya menyuarakan keprihatinan, tetapi juga menghadirkan solusi.
“Ini bukan sekadar kampanye hijau. Ini adalah gerakan spiritual, kultural, dan sosial yang berakar dari Islam berkemajuan. Kami percaya, dari tangan-tangan perempuan dan dari ruang-ruang keluarga, perubahan besar bisa dimulai,” pungkas Ariati. (*/wh)
