Bangun Budaya Aman, UMM Kampanyekan Pendidikan Karakter dan Gender

www.majelistabligh.id -

Kekerasan seksual kini menjadi isu krusial dalam dunia pendidikan, bahkan seringkali dilakukan oleh pihak yang seharusnya menjadi panutan, yakni para pendidik.

Dr. Ariana Restian, dosen PGSD Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), menilai bahwa persoalan ini dipicu oleh berbagai faktor, salah satunya adalah ketimpangan relasi kuasa antara guru dan siswa atau senior dan junior.

Minimnya literasi seksual dan pemahaman tentang kesetaraan gender turut memperparah keadaan, menyebabkan batas-batas personal sering dilanggar.

Ditambah lagi, budaya patriarki serta sikap menyalahkan korban (victim blaming) membuat para korban enggan mengungkapkan kekerasan yang dialaminya, karena merasa tidak memiliki ruang aman untuk bersandar.

Ariana menegaskan pentingnya menciptakan lingkungan pendidikan yang aman dan nyaman bagi semua pihak.

“UMM telah mengambil langkah nyata untuk mencegah kekerasan seksual, di antaranya dengan memasukkan nilai-nilai kesetaraan gender dalam mata kuliah Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK), menyediakan kanal pelaporan yang aman dan bersifat rahasia, serta memberikan pendampingan kepada korban melalui UPT Bimbingan dan Konseling,” jelasnya pada Rabu (30/4/2025).

Selain itu, UMM juga membentuk Satuan Tugas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual.

“Upaya-upaya ini bisa menjadi inspirasi bagi sekolah atau lembaga pendidikan lainnya,” ujar Ariana.

Lebih lanjut, ia mengajak seluruh elemen pendidikan untuk memiliki kesadaran kolektif dalam menangani kasus kekerasan seksual dengan cepat dan berpihak kepada korban.

Budaya saling menjaga harus dibangun, serta menghentikan kebiasaan menyalahkan korban. Akses terhadap layanan hukum, psikologis, dan konseling juga perlu diperluas.

“Akar masalah seperti ketimpangan sosial dan dominasi budaya patriarki turut membuat suara korban semakin tidak terdengar,” tegasnya.

Sosialisasi mengenai kekerasan seksual pun dinilai masih kurang menyentuh sisi empati masyarakat.

Oleh karena itu, Ariana menekankan pentingnya pendidikan karakter yang menanamkan empati, keberanian bersuara, serta kesadaran atas hak dan batas diri.

Dia juga menyoroti pentingnya pendidikan seksual yang tidak hanya menjelaskan aspek biologis, tetapi juga membekali siswa dengan pemahaman mengenai batas aman dalam berinteraksi, serta bagaimana menjalin hubungan yang sehat dan saling menghormati.

“Harapan kami, kampus-kampus dapat menjadi pelopor terciptanya lingkungan belajar yang aman, inklusif, dan beradab. UMM sendiri berkomitmen menjadikan kampus sebagai tempat tumbuhnya manusia yang utuh, cerdas secara intelektual, kuat secara moral, dan luhur dalam adab. Kami berharap adanya sinergi antara kebijakan, sistem pendukung, dan budaya kampus yang tegas menolak kekerasan dalam bentuk apapun,” tutupnya. (*)

 

Tinggalkan Balasan

Search