Gerakan Muhammadiyah terus konsisten mendampingi kelompok masyarakat yang terpinggirkan. Tak hanya sekedar urusan-urusan fikih, tapi juga pendidikan, kesehatan, ekonomi, sosial, politik, dan budaya. Hal ini sesuai dengan semangat menolong berlandaskan Al Ma’un yang diajarkan dan dipraktikkan Kiai Ahmad Dahlan.
Ketua Majelis Pemberdayaan Masyarakat (MPM) Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, M. Nurul Yamin menjelaskan, gerakan pertolongan yang diberikan Muhammadiyah adalah untuk memangkas ketimpangan. Salah satunya dilakukan oleh MPM dalam gerakan dakwah dan pemberdayaan yang ditujukan kepada petani, asongan, nelayan, difabel, pemulung, dan masyarakat miskin kota.
Merujuk data Badan Pusat Statistik (BPS) Nasional, Yamin menyampaikan, bahwa saat ini ketimpangan terjadi dan lebih curam justru pada kelompok masyarakat kota, dibandingkan dengan masyarakat pedesaan.
“Meskipun secara kualitatif ada penurunan jumlah angka kemiskinan di Indonesia,” kata M. Nurul Yamin, dalam acara peresmian Charging Station dan Hibah 2 Unit Becak Listrik (Betrik) Ergonomic Ramah Lingkungan, di Gedoeng Moehammadijah, Kota Yogyakarta, Rabu (10/12).
Menurutnya, faktor yang menjadi problem bersama adalah kesenjangan. Kalau kita baca kesenjangan itu ternyata di perkotaan itu lebih tinggi dari pada kesenjangan di pedesaan. Tingkat kesenjangan ini yang menjadi landasan MPM PP Muhammadiyah hadir memberdayakan Kelompok Paguyuban Abang Becak KH. Ahmad Dahlan (Pabelan).
“Pemberdayaan pada teman-teman kelompok Abang Becak ini menjadi salah satu bagian yang menjadi misi Persyarikatan Muhammadiyah,” katanya.
Ia menambahkan, charging station ini merupakan pematangan dan implementasi konsep transportasi umum ramah lingkungan. “Peresmian charging station ini juga masih dalam kaitan Milad Muhammadiyah ke 113, dengan tema meningkatkan kesejahteraan bangsa,” ungkap Yamin.
Yamin berharap, inovasi becak ini sebagai bagian dari pembaruan teknologi, sekaligus juga usaha untuk meningkatkan nilai ekonomi. Inovasi becak listrik juga bagian dari kepedulian Muhammadiyah terhadap isu keberlanjutan dan lingkungan. Meski dengan inovasi modern, Betrik ini tetap menampilkan tradisi dan budaya lokal, yang dalam hal ini adalah budaya Yogyakarta.
Pendampingan Kelompok Pabelan, katanya, tak hanya diberikan kepada para suami sebagai penyedia jasa transportasi becak. Namun MPM PP Muhammadiyah juga mendampingi para istri untuk berdaya secara ekonomi. “MPM juga mendampingi ibu-ibu atau istri dari tukang becak Pabelan terkait dengan bagaimana meningkatkan ekonomi mereka. Sehingga abang tukang becak Pabelan beda dengan kelompok becak yang lain,” katanya.
Pendampingan tak sekadar untuk meningkatkan ekonomi, tapi juga pendampingan peningkatan kualitas hidup dan cara membangun relasi yang baik serta berkeadilan dengan para pelanggan becak. (*/tim)
