Bappenas Gelar Sharing Session Bersama UMM untuk Inovasi Perguruan Tinggi

www.majelistabligh.id -

Dianggap sebagai kampus inovatif dan berdampak luas bagi masyarakat, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) terima kunjungan dari Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) RI,  Jumat (1/8/2025) lalu. Agenda Sharing Session itu membahas kontribusi nyata UMM dalam isu-isu strategis nasional, seperti stunting, kesehatan dan gizi masyarakat, pendidikan inklusif, hingga penguatan program Pendidikan Profesi Guru (PPG) UMM.

Diskusi hangat ini menyoroti bagaimana UMM melalui KKN Tematik dan Program LPPM telah menyasar langsung kebutuhan masyarakat, seperti pemenuhan gizi ibu hamil dan balita sebagai upaya konkret penurunan stunting. Lebih lanjut, Hanifa Umi Haryati salah seorang Planner Bappenas menilai bahwa pendekatan UMM sejalan dengan arah Rencana Kerja Pemerinta (RKP) 2026, yang menekankan pembangunan manusia seutuhnya menuju Indonesia Emas 2045.

Pendidikan inklusif dan kesehatan masyarakat menjadi prioritas nasional, dan UMM dinilai telah menunjukkan aksi nyata melalui riset, inovasi teknologi lokal, hingga pemberdayaan desa. Tak hanya itu, peran aktif UMM sebagai Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) dalam mengelola program PPG juga menjadi sorotan.

“Termasuk di dalamnya, kami ingin lebih mengetahui bagaimana kampus mengembangkan kurikulum, evaluasi pembelajaran, serta menyiapkan guru berkualitas untuk generasi masa depan,” ujar Hanifa melanjutkan.

Menjawab hal ini, Prof. Dr. Ir. Indah Prihartini, MP., IPU., Direktur Direktorat Saintek UMM menyampaikan bahwa UMM melalui Direktorat Saintek terus mengoptimalkan pemanfaatan hasil riset, khususnya di bidang kesehatan, gizi, dan ketahanan pangan. Direktorat ini telah menghimpun berbagai penelitian, termasuk yang berkaitan dengan stunting, baik dari dosen maupun mahasiswa. Kemudian, melalui program unggulan seperti Profesor Penggerak Pembangunan Masyarakat (P3M), UMM aktif mengembangkan inovasi. Salah satunya beras analog tinggi zat besi (fe) sebagai solusi nyata di masyarakat.

Masih mengenai isu stunting, UMM juga dipercaya turut serta dalam konsorsium perguruan tinggi terkait pengentasan stunting di NTT bersama Kementerian Diktisaintek RI. Ini menjadi salah satu contoh sinergi UMM dengan kementerian dan pemerintah daerah. Selain hasil riset, UMM juga mendorong penguatan literasi gizi, pertanian, dan produktivitas ekonomi masyarakat demi menurunkan stunting dan kemiskinan secara berkelanjutan.

“Stunting adalah isu kompleks. Tak hanya soal gizi, tapi juga lingkungan, ekonomi, dan literasi,” ujarnya.

Sementara itu, Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan UMM Prof. Dr. Trisakti Handayani, M.M., menegaskan komitmen UMM dalam menyelenggarakan Program Pendidikan Profesi Guru (PPG) yang unggul dan berstandar internsional. Menariknya, sejak 2007, UMM sudah aktif melaksanakan sertifikasi guru. Hingga saat ini, baik PPG Dalam Jabatan maupun Prajabatan menerapkan sistem pembelajaran blended dan kurikulum khas seperti AIK dan Mata Kuliah Manajemen Produksi Media Pembelajaran Digital sebagai mata kuliah elektif.

Tak hanya itu, UMM juga tengah menjalin kerja sama internasional, seperti universitas di Australia, Rusia, Taiwan, Spanyol, dan lainnya. Bahkan, pada Oktober 2025 mendatang, UMM akan terlibat langsung dalam program konsorsium pendidikan Indonesia-Australia di Manado yang didukung Kedutaan Australia.

Di sisi lain, Dr. Salahudin, S.IP., M.Si., M.P.A., Kepala Biro Riset, Pengabdian, dan Kerjasama Bidang VI UMM, menegaskan pentingnya sinergi antara UMM dan kementerian strategis seperti Bappenas dalam mendukung percepatan pembangunan nasional. Menurutnya, UMM telah merancang berbagai program yang berdampak langsung pada masyarakat melalui riset dan pengabdian masyarakat baik dari tingkat mahasiswa, maupun dosen.

“Inisiatif ini menjadi bukti bahwa UMM tidak hanya menghasilkan pengetahuan, tetapi juga mendorong implementasi di lapangan, utamanya aspek kesehatan gizi dan pendidikan,” katanya. (*/tim)

Tinggalkan Balasan

Search