Dakwah bagi Kiai Ahmad Dahlan bukanlah sekadar aktivitas atau rutinitas belaka. Baginya, dakwah adalah napas kehidupan, jalan perjuangan, sekaligus wujud cinta paling dalam kepada Tuhan Alam Memesta, Allah Swt.
Keikhlasannya dalam iman dan tauhid, semangatnya dalam berjuang, serta keteguhannya dalam tawakal. Menjadi fokus dan fondasi tersendiri yang tak pernah goyah. Bahkan ketika dirinya bersama keluarganya sendiri ditimpa musibah.
Kisah ini diulas secara singkat oleh Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Saad Ibrahim dalam Pengkajian Ramadan 1447 H, Pimpinan Pusat Muhammadiyah yang bertempat di Universitas Muhammadiyah Tangerang (UMT).
“Suatu ketika saat Kiai Dahlan mengajar, datanglah istrinya yang mengabarkan bahwa sakit dari anaknya Jumhan (nama kecil Irfan Dahlan) bertambah parah. Kemudian Dahlan diminta untuk pulang. Sedangkan murid-muridnya dimintanya untuk tetap menunggu di kelas,” ucap Saad.
Permintaan tersebut tentu bukanlah satu hal yang ringan bagi Dahlan yang sekaligus merupakan figur seorang ayah. Namun di balik itu, seorang pendidik dan dai juga sedang memikul amanah umat. Dari sinilah kemudian tampak kejernihan tauhid yang dimiliki oleh Kiai Dahlan.
Saat peristiwa itu, Ia pulang sejenak, mendekati anaknya dan memberikan pesan untuknya begitupun juga untuk istrinya. “Wahai anakku Jumhan, berdoalah kepada Allah agar engkau lekas sembuh. Dia lah yang menakdirkan engkau sakit dan dia pula yang akan menyembuhkan.”
“Namun, jika Allah menakdirkan engkau sampai pada ajalmu, pergilah dengan tawakkal dan engkau akan bertemu di sana dengan kakakmu Johanah (putri pertama Dahlan yang telah pergi lebih dahulu). Tetapkanlah hatimu dan tenanglah.”
Begitulah pesan Dahlan kepada sang anak yang secara tersirat mengajarkan pesan untuk menjunjung tinggi iman, tauhid, kemudian sisanya bertawakal hanya kepada Allah. Dengan wajah bersedih, Dahlan berpaling kepada istrinya yang tengah menangis. Lalu ia menyampaikan:
“Wahai Istriku, janganlah engkau menyangka bahwa jika aku tetap menunggui anakmu ini dia akan sembuh dan jika aku tinggalkan akan mati. Tidak, mati maupun hidup ada di tangan Allah, Tuhanmu dan Tuhanku, serta Tuhan dari Jumhan anak kita.”
Begitulah cerita tentang ketabahan dan keikhlasan Kiai Ahmad Dahlan. Melanjutkan ceritanya, Saad menyebut bahwa setelah berpesan kepada anak dan istrinya, Dahlan kemudian kembali ke tempat ia mengajar. Sementara, ia mempercayakan istrinya untuk menjaga sang anak sembari menunggunya pulang kembali ke rumah setelah mengajar.
Melalui kisah ini, Saad menekankan bahwa perjuangan Kiai Dahlan tak hanya terlihat dalam semangat pendirian organisasi, sekolah, pembaruan pemikiran saja. Perjuangan terbesarnya turut dibuktikannya dengan menjaga kemurnian iman dan tauhid, bahkan di ruang dan ranah pribadinya bersama dengan keluarganya.
Kisah ini menjadi cermin nyata sekaligus refleksi bagi kita bahwa dalam kehidupan, akan selalu ada persimpangan antara tugas dan perasaan, antara amanah publik dan cinta keluaga. Inilah semangat tauhid yang ditunjukkan. Meletakkan Allah di atas segalanya. menjadikan pusat orientasi, sehingga dalam keputusan apapun dapat diambil dan dilandasi dengan keyakinan yang jernih. (*/tim)
