Pernahkah kita memperhatikan bagaimana daun jatuh dari rantingnya? Ia tidak pernah mengeluh mengapa harus terlepas dari tempatnya.
Ia pun tidak marah kepada angin yang dengan keras menghempaskannya ke tanah. Semua itu diterima dengan tenang—karena sejatinya, itulah bagian dari takdir Allah yang telah ditetapkan.
Setiap peristiwa yang terjadi di dunia ini bukanlah kebetulan semata. Tidak ada ciptaan Allah yang sia-sia.
Bahkan setiap kejadian, baik yang menyenangkan maupun yang menyakitkan, semua telah diatur dalam skenario Ilahi.
Termasuk ujian-ujian yang datang menghampiri jiwa-jiwa manusia. Tidak satu pun dari kita yang luput dari cobaan. Namun yang membedakan adalah cara kita menyikapinya.
Ketika rasa sakit datang, ketika langkah terasa berat, dan ketika hati mulai merintih, jangan pendam semuanya sendiri.
Katakanlah kepada Allah. Curahkan isi hati kita dalam doa. Sampaikan segala kegelisahan, kelelahan, dan beban yang kita rasakan.
Karena sesungguhnya, Allah Maha Mendengar dan Maha Mengetahui apa yang tersembunyi dalam hati hamba-Nya.
Jangan biarkan kemarahan menguasai diri. Jangan izinkan keluhan menjadi bahasa hidup kita setiap hari.
Sebab jika kita terus terlarut dalam keluh kesah, kita akan kehilangan keindahan rasa syukur atas takdir Allah yang penuh hikmah.
Belajarlah untuk menerima dan bersyukur atas segala ketentuan-Nya. Baik yang tampak indah maupun yang tampaknya pahit.
Sebab di balik semuanya, ada pelajaran dan kebaikan yang mungkin belum kita mengerti saat ini, namun akan kita pahami pada waktunya.
Maka, milikilah hati yang thuma’ninah—hati yang tenang dan tenteram dalam menerima setiap takdir Allah.
Hati yang mampu bersabar dalam kesempitan dan tetap ikhlas meski jalan terasa menanjak. Ketahuilah bahwa kesabaran dan keikhlasan adalah kunci untuk membuka pintu keberkahan dan ketenangan hidup.
Allah berfirman dalam Surat Ali ‘Imran ayat 191:
“Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.” (QS. Ali ‘Imran: 191)
Ayat ini mengingatkan kita bahwa segala ciptaan Allah memiliki tujuan, dan tak satu pun diciptakan dengan kesia-siaan.
Termasuk kita—yang diberi hidup, diuji, dan diarahkan untuk kembali kepada-Nya dalam keadaan terbaik.
Mari kita jadikan syukur sebagai nafas kehidupan. Jadikan sabar sebagai kekuatan, dan ikhlas sebagai jalan untuk menerima takdir dengan penuh ketenangan. (*)
