Sampai hari ketiga pergerakan calon jemaah haji Indonesia dari Madinah menuju Makkah, Senin (12/5), total sudah ribuan jemaah dari puluhan kloter berpindah secara bertahap. Mereka menggunakan bus yang telah disiapkan oleh Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi.
Namun, seiring proses perpindahan ini, ternyata ada sebagian jemaah yang belum menerima kartu Nusuk. Seperti diketahui, nusuk adalah kartu identitas resmi untuk keperluan ibadah selama di Makkah, termasuk masuk ke Masjidil Haram dan mengikuti puncak ibadah haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna).
Ketua PPIH Arab Saudi Muchlis Muhammad Hanafi menegaskan, meski masih ada jemaah yang belum menerima kartu Nusuk, tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Pemerintah Indonesia telah menyiapkan sejumlah langkah agar jemaah tetap bisa beribadah dengan nyaman dan aman.
“Nusuk itu semacam paspor perhajian. Kalau paspor hijau untuk masuk Arab Saudi, maka Nusuk ini adalah paspor untuk seluruh rangkaian ibadah haji,” jelas Muchlis saat konferensi pers di Kantor Daker Makkah, Ahad (11/5/2025).
Ia menjelaskan, berdasarkan ketentuan, kartu Nusuk harusnya sudah diserahkan dalam waktu 1×24 jam sejak jemaah tiba di Arab Saudi. Namun dalam praktiknya, distribusi tidak selalu berjalan lancar, terutama di Madinah.
“Ketika syarikah datang untuk menyerahkan Nusuk, jamaah tidak ada di tempat, karena sedang beribadah arba’in atau istirahat. Kami tekankan, paling tidak sebelum berangkat ke Makkah, kartu Nusuk sudah diserahkan,” imbuh Muchlis.
Meski begitu, realitanya tidak semua jemaah mendapatkannya tepat waktu. Hal ini terjadi karena di Makkah sistem pelayanan menggunakan basis syarikah (perusahaan penyedia layanan), bukan berbasis kloter seperti di Madinah. Dampaknya, proses distribusi harus disesuaikan dengan alokasi syarikah masing-masing.
PPIH menegaskan bahwa jemaah tetap bisa beribadah di Masjidil Haram meski belum menerima Nusuk. Syarikah sudah menyiapkan solusi berupa pendampingan dan kartu identitas alternatif.
“Yang belum dapat Nusuk, ditemani petugas syarikah saat memasuki Masjidil Haram. Selain itu, diberikan identitas pengganti seperti kartu kalung atau gelang sebagai penanda,” ujar Muchlis.
Ia menyebut, hal ini sebagai antisipasi agar jemaah tetap bisa memasuki wilayah ibadah dan tidak ditolak petugas keamanan Saudi (askar) di gerbang masuk.
“Jadi kalau belum mendapatkan Nusuk, tetap tenang. Karena syarikah sudah membackup dengan identitas alternatif. Apalagi jamaah juga punya kalung identitas dari Kementerian Agama,” jelasnya.
Muchlis juga mengimbau agar jemaah tidak panik jika identitas utama belum diterima, selama mereka hanya beraktivitas dari hotel ke Masjidil Haram.
“Kalau fokus ibadah dari hotel ke Masjidil Haram, itu aman. Asal jangan keluar ke kota lain seperti Jeddah, karena untuk itu tetap harus pakai Nusuk,” tegasnya.
Selain itu, seluruh layanan dasar jemaah tetap berjalan, seperti transportasi, konsumsi tiga kali sehari, akomodasi, dan bimbingan ibadah.
“Yang terpenting, layanan dasar tetap berjalan: transportasi dari bandara ke hotel, konsumsi, bimbingan ibadah, dan akomodasi,” kata Muchlis.
Dengan sistem pengawasan dan koordinasi yang ketat antara PPIH dan syarikah, pemerintah menjamin jemaah tetap bisa menjalankan seluruh rangkaian ibadah dengan tenang.
“Kami ingin jemaah tetap fokus beribadah. Semua langkah antisipasi sudah disiapkan agar ibadah berjalan lancar, aman, dan sah,” tutup Muchlis. (afifun nidlom)
