Benarkah Guruku Tersenyum Lahir Batin?

*) Oleh : M. Mahmud,
Ketua PRM Kandangsemangkon, Paciran, Lamongan
www.majelistabligh.id -

Bapak / Ibu Guru
Di antara lembaran rencana ajar dan tumpukan tugas, jangan lupa menyentuh sejenak ke dalam diri sendiri.

Sebab tugas kita bukan sekadar pekerjaan – ia adalah perjuangan.

Kita bukan hanya datang untuk mengajar, tetapi sedang ikut merintis kemerdekaan. Kemerdekaan berpikir, kemerdekaan bertumbuh, dan kemerdekaan belajar.

Bagaimana mungkin kita bisa menyalakan cahaya jika pelita dalam diri kita meredup? Maka sebelum melangkah lebih jauh, sehatkanlah dhohir dan bathinmu.

Ungkapan “guruku tersenyum lahir bathin” begitu indah dan penuh makna. Jika engkau merasakannya—mungkin dalam ketulusan pandangannya, kelembutan tutur katanya, atau kebijaksanaan yang terpancar tanpa pamrih—maka itu bisa menjadi tanda bahwa ia menjalankan tugasnya dengan hati, dengan ridha, dan dengan cinta.

Tersenyum lahir mungkin tampak di wajahnya: sabar, hangat, menerima.

Tersenyum batin bisa jadi terpancar dari sikapnya yang tenang, penuh syukur, dan ikhlas dalam mendidik dan membimbing.

Bisa jadi itu juga refleksi dari hubungan guru-murid yang saling menghargai: ketika murid tumbuh dalam fitrah, berakhlak mulia, dan menunjukkan kesungguhan, sang guru pun merasa bahagia hingga ke dalam jiwanya.

Kalau engkau merasa gurumu tersenyum lahir batin, mungkin itu adalah pertanda bahwa perjalanan belajarmu membawa keberkahan bukan hanya untukmu, tetapi juga untuk yang membimbingmu.

Bapak / Ibu guru
Jika lelah itu datang, tak apa. Tapi jangan lupa pulang–pulang pada dirimu sendiri, pulang pada niat sucimu sebagai pendidik.

Sejenak diam dan rawatlah bathinmu, sebagaimana engkau menjaga semangat murid-muridmu.

Karena mendidik bukan hanya soal ilmu, tapi tentang keikhlasan yang menghidupkan. Dan tidak ada yang lebih indah daripada menjadi guru yang hadir sepenuh jiwa–untuk menghidupkan kemerdekaan, dengan sehatnya raga dan beningnya hati.

“Guruku tersenyum lahir batin” bukan sekadar pernyataan, tapi mungkin pantulan cinta, syukur, dan makna dari sebuah hubungan ruhani yang tulus antara murid dan guru.

Ketika guru tersenyum lahir, wajahnya ramah dan penuh kehangatan.
Ketika ia tersenyum bathin, jiwanya damai karena tugasnya dijalani dengan ikhlas dan disambut dengan penghormatan oleh muridnya.

Mungkin itu terjadi saat:

• Ia melihat muridnya tumbuh dengan akhlak dan fitrah yang terjaga
• Ia merasa ilmunya tidak hanya dipahami, tapi dihidupi
• Ia tahu bahwa nilai-nilai yang ditanam telah menemukan tanah subur dalam hati sang murid

Dan bisa jadi, senyum itu adalah ungkapan bahwa pendidikan telah menjadi ibadah, bukan rutinitas.

“Senyum Guru” secara lahir dan batin dapat dipandang sebagai simbol keberhasilan pendidikan yang menyentuh hati, ruh, dan akhlak. Senyum itu bukan sekadar gerakan wajah, tapi ekspresi jiwa yang merasakan kehadiran Allah dalam proses mendidik.

Makna Senyum Guru–Lahir dan Batin

Senyum Lahir (Zahir)

• Ekspresi Wajah: Penuh kelembutan, kehangatan, dan keterbukaan kepada murid.
• Interaksi Positif: Memberi rasa aman, menghapus takut, dan membangun rasa percaya.
• Kebahagiaan Praktis: Ketika guru melihat muridnya berusaha, bertanya, tumbuh dengan rasa ingin tahu.

Senyum Batin (Ruhani)

• Ketenangan Jiwa: Guru merasa tugasnya adalah ibadah, bukan beban.
• Kebahagiaan Ilmiah: Ketika ilmu yang ditanam tidak hanya diketahui, tapi dihidupi.
• Makna Relasi: Ada hubungan ruhani yang lahir dari keikhlasan memberi dan penghormatan menerima.

Senyum Guru dalam Lingkaran Iman dan Adab

Bayangkan sebuah lingkaran berlapis, dengan pusatnya adalah:
1. Niat Ikhlas – guru hadir karena cinta dan tanggung jawab kepada Allah
2. Interaksi Beradab – tutur kata dan sikap yang menghidupkan jiwa murid
3. Pertumbuhan Murid – murid menjadi insan yang belajar dengan fitrah, bukan sekadar angka
4. Rida Ilahi – guru tersenyum bukan karena pujian, tapi karena ia tahu Allah rida

Guru yang tersenyum lahir bathin bukanlah yang paling pandai mengajar, tetapi yang paling jujur mengenal dirinya dan paling tekun merawat jiwanya. (*)

Tinggalkan Balasan

Search