Bendera One Piece Berkibar di Bulan Kemerdekaan, Dosen UM Surabaya: Anak Muda Sedang Protes Diam

www.majelistabligh.id -

Jelang peringatan HUT ke-80 Republik Indonesia (RI), sejumlah bendera bajak laut One Piece berkibar di berbagai sudut kota.

Fenomena ini dibaca Dosen Universitas Muhammadiyah Surabaya (UM Surabaya), M. Febriyanto Firman Wijaya, sebagai “protes diam” anak muda yang merasa tak didengar oleh negara.

Untuk diketahui, belakangan muncul bendera merah putih yang di antaranya terlihat bendera hitam bergambar tengkorak bertopi jerami, ikon bajak laut dari anime legendaris One Piece. Bendera itu berkibar di rumah-rumah warga, terpasang di mobil pribadi, bahkan menghiasi bak truk yang melintas.

Menurut Febriyanto, peristiwa ini mencerminkan dinamika sosial yang lebih dalam.

“Ini bukan sekadar ekspresi kegemaran anak muda pada budaya Jepang, melainkan sinyal simbolik dari kegelisahan generasi muda terhadap simbol-simbol kenegaraan yang mulai kehilangan daya gugah,” katanya pada Sabtu (2/8/2025).

Dikatana Febriyanto, ketika simbol fiksi seperti bendera bajak laut dikibarkan berdampingan atau bahkan di bawah bendera merah putih, itu bukan sekadar tren anime.

“Ini menunjukkan pergeseran makna simbolik. Bagi sebagian anak muda, simbol-simbol kenegaraan terasa semakin formal. Jauh dari kehidupan sehari-hari. Bahkan kehilangan kedalaman emosionalnya. Mereka mengekspresikan protes diam melalui simbol global yang terasa lebih otentik bagi mereka,” jelas Febriyanto.

Dari perspektif sosiologi simbolik, jelasnya, bendera bukan hanya kain berwarna, melainkan representasi identitas kolektif.

Kehadiran simbol alternatif dari budaya populer yang lebih menarik hati anak muda menandakan adanya fenomena alienasi identitas nasional, di mana keterikatan emosional terhadap simbol negara mulai melemah.

Febriyanto menegaskan, gejala ini tidak bisa dilepaskan dari kondisi sosial dan psikologis generasi muda saat ini:

1. Kekecewaan dan Ketidakpercayaan Terhadap Negara
Banyak anak muda merasa aspirasi mereka tidak tersalurkan dan kritik mereka diabaikan.

2. Pencarian Simbol yang Relevan Secara Emosional
Mereka mendambakan simbol yang memancarkan kebebasan, solidaritas, dan keberanian. Ironisnya, karakter fiksi seperti Luffy dalam One Piece justru dianggap mewakili nilai-nilai tersebut.

3. Pengaruh Globalisasi Budaya Pop
Generasi muda tumbuh dalam arus global di mana anime, film, dan media sosial menjadi ruang identifikasi diri yang kuat, sering kali lebih dominan daripada narasi kebangsaan yang bersifat formal.

“Generasi muda kita hari ini sangat kritis dan melek informasi, tapi mereka juga merasa tidak punya saluran untuk berpartisipasi secara bermakna. Dalam kondisi seperti itu, mereka mengadopsi simbol alternatif yang terasa lebih jujur. Simbol bajak laut bagi mereka bukan kriminalitas, tapi kebebasan, keberanian, dan solidaritas,” jabarnya.

Fenomena ini, menurut Febriyanto, semestinya dijadikan cermin refleksi nasional. Pemerintah dan masyarakat tidak cukup hanya merespons dengan pelarangan atau kecaman.

Tantangan sebenarnya adalah menghidupkan kembali makna simbol-simbol kebangsaan agar tidak kehilangan daya ikatnya di hati generasi muda.

“Kalau bendera merah putih hanya dianggap formalitas upacara, tanpa daya emosional, generasi muda akan mencari simbol lain yang terasa lebih relevan,” ujarnya.

“Karena itu, perlu ada dialog terbuka antara negara dan warganya, terutama anak muda, agar mereka merasa menjadi bagian dari bangsa ini. Simbol nasional harus kita hidupkan kembali, bukan sekadar dikibarkan setiap 17 Agustus,” imbuh Febriyanto.

Fenomena ini menjadi alarm sosial bahwa di tengah semangat kemerdekaan, ada pesan sunyi dari generasi penerus bangsa yang menuntut didengar.

“Bendera bajak laut One Piece hanyalah gejala. Akar persoalannya adalah keterputusan emosional antara anak muda dan simbol-simbol kenegaraan yang semestinya menjadi perekat identitas nasional,” tutup dia. (*/wh)

Tinggalkan Balasan

Search