Berani Menyuarakan Kebenaran di Hadapan Kekuasaan

*) Oleh : Ferry Is Mirza DM
www.majelistabligh.id -

Dari Abu Sa’id al-Khudri RA, beliau berkata bahwa Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

“Jihad yang paling utama adalah menyampaikan perkataan yang benar (adil) di hadapan pemimpin yang zalim.” (HR. Abu Dawud)

Hadis ini memberikan pelajaran yang sangat berharga kepada kita bahwa amar ma’ruf nahi mungkar — mengajak kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran — merupakan salah satu bentuk jihad.

Bahkan, menasihati penguasa yang zalim digolongkan sebagai jihad yang paling utama dalam Islam. Ini menunjukkan betapa penting dan tingginya kedudukan perbuatan tersebut dalam pandangan syariat.

Kewajiban menegakkan amar ma’ruf dan nahi mungkar tidak terbatas hanya kepada kelompok atau strata tertentu dalam masyarakat. Ia merupakan tanggung jawab bersama, mulai dari rakyat biasa hingga para pemimpin tertinggi.

Dalam konteks kepemimpinan, seorang pemimpin yang zalim dapat menjadi sumber kerusakan yang besar jika tidak ada yang berani menegur atau menasihatinya dengan cara yang benar. Oleh karena itu, orang-orang yang berani menyampaikan kebenaran di hadapan penguasa yang menyimpang adalah pejuang sejati di jalan Allah.

Jihad dalam Islam memiliki tingkatan dan bentuk yang beragam. Tidak semua jihad harus diidentikkan dengan peperangan fisik. Ada jihad dengan harta, jihad dengan ilmu, dan jihad dengan lisan.

Salah satu bentuk jihad yang paling berat adalah berjihad dengan lisan dalam menyampaikan kebenaran kepada penguasa yang zalim — sebuah tindakan yang penuh risiko namun bernilai tinggi di sisi Allah SWT.

Namun, penting untuk dicatat bahwa dalam menasihati pemimpin atau siapa pun yang melakukan kesalahan, Islam mengajarkan adab yang tinggi.

Kita diperintahkan untuk bersikap lemah lembut, penuh hikmah, dan bijaksana. Bukan karena takut, apalagi untuk menjilat kekuasaan, tetapi karena itulah tuntunan syariat.

Lisan yang lembut bisa menembus hati yang keras, dan nasihat yang disampaikan dengan kasih sayang memiliki peluang lebih besar untuk diterima.

Jika pemimpin tersebut menerima nasihat dan memperbaiki kesalahannya, maka itu adalah kemenangan besar. Namun jika ia menolaknya, maka kewajiban penyampaian telah ditunaikan, dan seorang hamba tidak dibebani di luar kemampuannya. Allah Maha Mengetahui siapa yang tulus dalam menyampaikan kebenaran.

Bagi sebagian orang, nasihat bisa terdengar keras atau bahkan menyakitkan. Maka, pelunakan dalam penyampaian dan kesantunan dalam berbicara menjadi kunci utama agar nasihat tidak kehilangan tujuannya. Kita tidak ingin niat baik kita gagal hanya karena cara penyampaian yang kurang tepat.

Ujian bagi seorang pemimpin memang besar. Ia memiliki kekuasaan dan pengaruh yang bisa mengantarkannya pada kezaliman bila tidak disertai ketakwaan. Oleh sebab itu, rakyat patut bersyukur jika memiliki pemimpin yang adil, bijaksana, dan mau menerima nasihat. Karena pemimpin semacam itu adalah karunia besar dari Allah.

Dalam konteks ini, menasihati pemimpin terbagi menjadi dua bentuk:

Pertama, menasihati secara salah, yaitu dengan mendukung semua tindakan penguasa tanpa memilah mana yang benar dan mana yang salah. Mereka yang selalu memuji dan membenarkan tindakan penguasa, meski jelas-jelas bertentangan dengan nilai-nilai kebenaran, adalah para penjilat dan pencari keuntungan duniawi.

Kedua, nasihat yang benar adalah yang dilandasi oleh keinginan untuk mendapatkan ridha Allah dan Rasul-Nya. Jika penguasa keliru, maka ia dinasihati dengan cara yang baik, bijak, dan jika memungkinkan dilakukan secara rahasia, tanpa membuka aib dan menjatuhkan kehormatannya di hadapan umum. Karena hal itu justru dapat menimbulkan kekacauan dan kebencian di masyarakat.

Allah Ta’ala berfirman dalam Al-Qur’an:

“Dan berjihadlah kamu di jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya. Dia telah memilih kamu, dan Dia tidak menjadikan kesukaran untukmu dalam agama. (Ikutilah) agama nenek moyangmu Ibrahim. Dia (Allah) telah menamakan kamu orang-orang Muslim sejak dahulu, dan (begitu pula) dalam (al-Qur’an) ini, agar Rasul (Muhammad) itu menjadi saksi atas dirimu dan agar kamu semua menjadi saksi atas segenap manusia. Maka laksanakanlah shalat dan tunaikanlah zakat, dan berpegang teguhlah kepada Allah. Dialah Pelindungmu; Dia sebaik-baik pelindung dan sebaik-baik penolong.” (QS. Al-Hajj: 78)

“Berangkatlah kamu baik dengan rasa ringan maupun dengan rasa berat, dan berjihadlah dengan harta dan jiwamu di jalan Allah. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.” (QS. At-Taubah: 41)

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad dengan harta dan jiwanya pada jalan Allah dan orang-orang yang memberikan tempat kediaman dan memberi pertolongan (kepada Muhajirin), mereka itu satu sama lain saling melindungi. Dan terhadap orang-orang yang beriman tetapi belum berhijrah, maka tidak ada kewajiban sedikit pun bagimu melindungi mereka, sampai mereka berhijrah. Tetapi jika mereka meminta pertolongan kepadamu dalam urusan pembelaan agama, maka kamu wajib memberikan pertolongan kecuali terhadap kaum yang telah terikat perjanjian antara kamu dengan mereka. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Anfal: 72)

Dari ayat-ayat tersebut, kita memahami bahwa jihad adalah bagian integral dari kehidupan seorang Muslim yang taat, dan bentuknya bisa sangat luas — termasuk dalam hal amar ma’ruf nahi mungkar.

Semoga kita semua senantiasa diberikan keberanian, hikmah, dan kesantunan dalam menegakkan kebenaran, terutama di hadapan penguasa yang menyimpang, agar kita termasuk golongan yang mulia di sisi Allah SWT. (*)

 

Tinggalkan Balasan

Search