Berbagi, Kunci Berkah dan Bahagia

www.majelistabligh.id -

*Oleh: Bahrus Surur-Iyunk

Tahun 2015, saya menerima kabar bahagia: murid-murid saya dan anak saya sendiri terpilih 30 finalis penulis cerpen terbaik tingkat nasional yang diselenggarakan oleh PT Pos Indonesia. Kebahagiaan itu mencapai puncaknya ketika salah satu dari mereka berhasil menjadi juara. Namun, di balik sukacita tersebut, ada pelajaran penting yang ingin saya sampaikan bahwa berbagi itu sering kali menjadi kunci keberkahan.

Kala itu, saya mengikuti pelatihan Kurikulum 2013 di SMKN 1 Gedungan. Di akhir kegiatan, setiap peserta diberikan uang transportasi sebesar Rp125.000 untuk peserta dari daratan dan sekian juta untuk peserta dari Kepulauan. Sempat terpikir untuk memanfaatkan uang itu untuk kebutuhan pribadi, tetapi hati saya berkata lain. Akhirnya, saya memutuskan untuk berbagi dengan mereka yang lebih membutuhkan.

Tidak lama setelah itu, dua bulan berikutnya, Allah membalasnya dengan nikmat yang jauh lebih besar: prestasi anak saya meraih Juara 2 Menulis Cerpen Tingkat Nasional dengan hadiah sebesar 12.500.000, Sontak saja saya ingat dengan apa yang pernah saya berikan sebelumnya sebesar 125.000. “Tidak lama, Allah membalasnya dengan seratus kali lipat. Tepat seratus kali lipat.” Begitu hatiku berbisik.

Kisah ini mengingatkan saya pada firman Allah dalam Al-Qur’an, “Jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (QS. Ibrahim: 7).

Ayat ini menegaskan bahwa rasa syukur bukan hanya berupa ucapan, tetapi juga tindakan nyata, salah satunya melalui berbagi kepada sesama. Dalam berbagi, kita menunjukkan rasa syukur atas nikmat Allah dengan memberi manfaat kepada orang lain.

Di antara hikmah berbagi juga tercermin dalam sabda Rasulullah SAW, “Tangan yang di atas lebih baik daripada tangan yang di bawah.” (HR. Bukhari dan Muslim). Hadis ini menunjukkan keutamaan memberi daripada meminta. Memberi tidak hanya membawa manfaat kepada penerima, tetapi juga menanamkan rasa bahagia dan keberkahan pada si pemberi.

Prinsip ini juga saya temukan dalam organisasi, khususnya di Muhammadiyah. Filosofi pengabdian di Muhammadiyah tidak diukur dari apa yang diterima, melainkan dari apa yang bisa diberikan. Pimpinan Muhammadiyah bergerak dengan semangat keikhlasan. Dengan atau tanpa dukungan materi, semangat pengabdian tetap berjalan.

Ala kulli hal, Berbagi adalah wujud nyata dari rasa syukur, keikhlasan, dan kepercayaan kepada janji Allah. Dari pengalaman ini, saya semakin yakin bahwa setiap tindakan kebaikan, sekecil apa pun, akan kembali kepada kita dalam bentuk keberkahan yang sering kali tak terduga. Semoga kita senantiasa diberi kekuatan untuk berbagi, bersyukur, dan berbuat baik kepada sesama. Wallahu a’lamu. (*)

*) Guru SMA Muhammadiyah I Sumenep

Tinggalkan Balasan

Search