Sekitar 1.000 orang berkumpul dalam acara buka puasa bersama komunitas pengungsi Suriah, warga lokal Belanda, serta berbagai tokoh masyarakat, di Den Haag, Belanda, Jumat (6/3/2026) lalu. Acara tersebut sekaligus menjadikan Ramadan menjadi ruang pertemuan kemanusiaan lintas bangsa.
Acara bertajuk “Buka Puasa Ramadan Besar-besaran untuk Warga Suriah dan Pengungsi” itu bukan sekadar jamuan berbuka puasa, tetapi juga momentum mempererat hubungan sosial antara pengungsi dan masyarakat lokal.
Sejumlah tokoh publik hadir dalam acara tersebut, termasuk Wali Kota Den Haag, Jan van Zanen, yang menyampaikan sambutan tentang pentingnya keterlibatan komunitas Suriah dalam kehidupan sosial di kota itu.
Para pembicara juga menyoroti pentingnya integrasi, kerja sama komunitas, serta kontribusi para pengungsi bagi masyarakat tempat mereka tinggal.
Perwakilan organisasi bantuan pengungsi Belanda, Vluchtelingenwerk Nederland, Paula Souverijn-Eisenberg, menegaskan pentingnya kebersamaan dalam masyarakat multikultural.
“Kami adalah Vluchtelingenwerk Nederland, Dewan Pengungsi Belanda di wilayah Den Haag. Kami mendukung para pengungsi yang diterima di Belanda untuk berintegrasi ke dalam masyarakat Belanda. Saya sangat senang berada di sini. Ini tempat yang luar biasa,” katanya.
Menurut Paula, kegiatan seperti buka puasa bersama menunjukkan bahwa masyarakat Belanda dan para pengungsi adalah bagian dari satu komunitas.
“Ramadan dirayakan oleh begitu banyak orang. Ramadan kini juga menjadi bagian dari masyarakat Belanda. Kita semua hidup bersama di Den Haag, jadi mari merayakannya bersama,” tambahnya.
Di tengah meningkatnya kritik terhadap kehadiran pengungsi di Eropa, ia menilai penting menunjukkan, banyak warga Belanda yang menyambut mereka dengan terbuka. Integrasi hanya bisa terwujud jika masyarakat tidak hidup dalam kelompok tertutup.
Sementara itu, Mo’man Al-Namr dari organisasi Zaden menjelaskan, acara ini bertujuan menghadirkan kembali suasana Ramadan bagi para pengungsi Suriah yang hidup jauh dari tanah kelahiran mereka.
“Kami menyelenggarakan acara ini untuk mengumpulkan komunitas Suriah pada musim dingin dan menghadirkan dakwah bagi mereka. Ini bukan sekadar meja makanan, tetapi juga mempertemukan hati dan kasih sayang,” kata Al-Namr.
Menurutnya, kegiatan tersebut juga bertujuan menghidupkan kembali tradisi Ramadan yang dahulu mereka rasakan di negara asal.
“Melalui acara ini kami ingin orang-orang merasakan nilai Ramadan dan suasana Ramadan, serta menghidupkan kembali tradisi Ramadan yang dulu mereka rasakan di negara mereka,” ujarnya. (*/tim)
