Suasana menjelang azan magrib di Masjid Nabawi, Madinah, selalu menghadirkan pemandangan yang menggetarkan hati. Ribuan jamaah dari berbagai negara duduk berderet di lantai masjid dan pelatarannya, menanti detik-detik berbuka puasa di bulan suci Ramadan.
Di tengah kerumunan itu, para petugas dengan sigap membagikan paket makanan berbuka kepada siapa pun yang berada di area masjid, tanpa membedakan asal negara, status, maupun latar belakang.
Tradisi berbuka bersama di masjid yang menjadi tempat peristirahatan Nabi Muhammad ini telah berlangsung bertahun-tahun dan menjadi salah satu pengalaman spiritual yang paling berkesan bagi para jamaah umrah maupun peziarah.
Kyai Ridwan Abu Bakar, Divisi Pembinaan dan Pengembangan Masjid, Majelis Tabligh PWM Jawa Timur, yang memimpin rombongan jamaah umrah, turut merasakan langsung suasana tersebut. Ia menggambarkan betapa masifnya kegiatan berbuka puasa di Masjid Nabawi.

“Banyak sekali jamaah yang hadir di masjid menjelang berbuka puasa. Mereka datang dari berbagai negara, dan hampir semuanya mendapatkan paket berbuka dari petugas, baik yang berada di dalam masjid maupun di pelatarannya,” ujar Kyai Ridwan.
Menurutnya, meskipun suasana menjelang berbuka terlihat sangat ramai dan tidak selalu tertib, para petugas tetap berupaya memastikan tidak ada jamaah yang terlewat. “Kerumunannya luar biasa, tapi petugas tetap berusaha agar semua orang mendapatkan bagian. Ini menunjukkan kepedulian yang sangat besar kepada para tamu Allah,” tambahnya.
Paket berbuka yang dibagikan biasanya dikemas dalam kantung plastik sederhana. Isinya cukup untuk membatalkan puasa, mulai kurma, roti, yoghurt, cokelat, dan air minum. Meski tanpa nasi, menu tersebut sudah cukup mengembalikan energi para jamaah setelah seharian berpuasa.
“Isinya sederhana, tetapi penuh berkah. Kurma, roti, yoghurt, cokelat, dan air. Di tempat yang mulia ini, kesederhanaan justru terasa sangat istimewa,” tutur Kyai Ridwan.
Data Otoritas Masjid
Data resmi dari otoritas pengelola dua masjid suci, Masjidil Haram dan Masjid Nabawi, menunjukkan bahwa skala layanan buka puasa di Tanah Suci memang sangat besar. Badan Umum Pengelola Urusan Masjidil Haram dan Masjid Nabawi melaporkan bahwa dalam sepuluh hari pertama Ramadan 1447 Hijriah, lebih dari 9,58 juta porsi berbuka puasa telah didistribusikan kepada jamaah di kedua masjid suci tersebut.
Khusus di Masjid Nabawi, lebih dari dua juta paket berbuka dibagikan hanya dalam sepuluh hari pertama Ramadan. Artinya, rata-rata sekitar 200 ribu paket makanan disalurkan setiap hari kepada para jamaah.

Setiap paket memiliki harga standar 9 riyal, sehingga nilai total santapan berbuka yang disediakan bagi jamaah di dalam masjid dan pelatarannya mencapai lebih dari 1,8 juta riyal perhari.
Jumlah jamaah yang datang untuk menunaikan salat juga sangat besar. Dalam periode yang sama, tercatat lebih dari 10 juta jamaah mengunjungi Masjid Nabawi, dengan rata-rata sekitar satu juta orang setiap hari.
Besarnya jumlah jamaah menuntut pengelolaan operasional yang sangat kompleks. Otoritas masjid menjalankan koordinasi intensif dengan berbagai instansi untuk menjaga kenyamanan dan keamanan jamaah.
Berbagai layanan disiapkan secara terus-menerus, mulai dari pembersihan area masjid, sterilisasi, pengharuman ruangan, hingga pengangkutan sampah setelah waktu berbuka. Semua dilakukan bekerja sama dengan perusahaan penyedia makanan agar area masjid tetap bersih dan nyaman untuk beribadah.
Selain itu, pengaturan kerumunan juga menjadi perhatian utama. Jamaah didistribusikan ke area-area tertentu, jalur darurat disediakan untuk situasi mendesak, dan arus keluar jamaah setelah salat diatur agar pergerakan tetap lancar.
Dalam program berbuka Ramadan ini, otoritas juga membuka kesempatan bagi individu maupun lembaga untuk ikut berpartisipasi menyediakan makanan berbuka. Sistem pemesanan dilakukan dengan denah lokasi yang memungkinkan penyelenggara memilih area jamuan, baik di dalam masjid maupun di pelataran.
Skala layanan yang luar biasa ini menunjukkan bagaimana dua masjid di Tanah Suci menjadi pusat pelayanan umat Islam dunia selama Ramadan. Selain makanan berbuka, konsumsi air Zamzam juga sangat besar. Dalam sepuluh hari pertama Ramadan, penggunaan air Zamzam di dua masjid suci tercatat mencapai 15.333 meter kubik.
Bagi banyak jamaah, pengalaman berbuka di Masjid Nabawi bukan sekadar soal makanan, tetapi tentang kebersamaan umat Islam dari berbagai penjuru dunia yang berkumpul dalam satu tempat suci.
Kyai Ridwan merasakan hal tersebut sebagai pengalaman spiritual yang sangat mendalam. “Di Masjid Nabawi kita benar-benar merasakan persaudaraan umat Islam. Ribuan orang berbuka bersama tanpa saling mengenal, tetapi semuanya terasa seperti satu keluarga besar,” ujarnya. (nun)
