Kala zuhur baru berlalu di Musala Daker Madinah, satu sosok perempuan diam di tengah shaf yang mulai padat. Tangannya menggenggam tasbih, namun hatinya menggenggam janji. Janji yang ia ucapkan saat suaminya tak sadarkan diri, dengan tempurung kepala yang pecah dan hidup yang nyaris lepas: “Aku akan membawamu ke Baitullah, mengganti perbanmu dengan sorban haji.” Nama perempuan itu Ela Giman. Dan hari ini, di Tanah Suci, nazarnya bukan lagi mimpi.
Namanya Ela Giman. Senyum ramahnya mengiringi percakapan siang itu, saat saya bertanya tujuannya menyambangi kantor Daker. “Saya sedang menunggu kartu Nusuk yang belum jadi,” jawabnya lirih namun hangat. Tapi dari tatapannya, terasa bahwa kedatangannya ke Tanah Suci bukan sekadar ibadah formalitas. Ada kisah panjang dan penuh air mata di balik perjalanannya ke Baitullah.
Ela bercerita bahwa ia mendaftar haji sejak tahun 2012. Bukan semata keinginan pribadi, tapi nazar yang ia niatkan: mengganti perban suami dengan sorban haji. Kalimat itu sempat membuat kami tercekat, diam.
Suaminya, Hidayat—pria kelahiran 1970 asal Betawi—pernah mengalami kecelakaan hebat pada pertengahan 2011. Kala itu, ia yang bekerja sebagai sales sepeda motor, pagi-pagi seperti biasa berangkat kerja. Namun tak lama berselang, Ela mendapat kabar duka: suaminya mengalami kecelakaan dan dalam kondisi koma.
Tiga bulan lamanya Pak Hidayat koma, dengan tempurung kepala pecah. Maka untuk regenerasi sel perlu diambil dan ditanam di paha suami. Sedangkan batok kepalanya diganti dengan tempurung medis. Meski harga tempurung hanya sekitar Rp 2,75 juta, proses medis dan tindakan rumah sakit yang berlapis-lapis membuat Ela harus berhutang ke sana sini. “Saya hanya ingin suami saya selamat. Setiap dokter bilang harus beli apa, saya beli. Pokoknya harus diselamatkan,” ucapnya tegas.
Selama proses perawatan, Ela harus menyaksikan banyak hal menguras emosi. Salah satunya, saat lidah suaminya harus dijepit agar tidak tertarik ke rongga tenggorokan. “Napas bapak lebih kencang ke dalam daripada ke luar. Jadi lidahnya harus ditarik keluar, kalau tidak bisa tertutup jalan napasnya.”
Ela tak kuasa melihat semua itu. Namun ia memilih bertahan, demi cinta yang tak bisa dinilai dengan materi. “Saya gak ingin jadi janda. Dalam hati saya bilang, ‘Kamu jangan ninggalin aku dengan cara kayak gini. Aku cuma mau kamu hidup,’” kenangnya sambil menahan haru.
Setelah melewati masa koma, ujian lain pun datang. Suaminya mengalami kehilangan memori total. Tak hanya lupa pada Ela, anak-anak pun tak dikenalnya. Bahkan tak bisa berbicara dengan normal. Proses pemulihan kognitif memakan waktu hingga satu tahun, termasuk program rehabilitasi mirip ‘sekolah’ di Ruang Fungsi Luhur RSCM.
“Saat itu, bapak sering bicara ngawur. Banyak yang menjadikannya bahan lelucon. Saya tidak terima. Justru dari situlah saya bertekad, saya akan mengganti perban itu dengan sorban haji. Saya nadzarkan, kami harus berangkat haji.”
Tekadnya untuk berhaji bukan sekadar janji kosong. Meski kondisi ekonomi belum stabil, Ela memberanikan diri meminjam uang dari kakak iparnya demi bisa mendaftar haji. Dan hari ini, nazarnya terwujud. Ia dan suami hadir sebagai jemaah haji Indonesia, memenuhi panggilan Allah di Tanah Suci.
Ia tak henti mengucap syukur, Alhamdulillah, bersama suami telah menyelesaikan rangkaian manasik haji dengan khusyuk dan ikhlas, dengan telaten menuntun suami agar tak tertinggal rombongan.
Ela dan suami membuka usaha showroom sepeda motor, melayani penjualan baru dan bekas. “Showroom-nya sementara tutup karena kami berangkat haji,” ungkap Ela sambil tersenyum.
Kisah Ela Giman bukan sekadar tentang perjalanan haji. Ini adalah kisah tentang cinta yang teguh, doa yang tak putus, dan janji yang dijaga sepenuh hati. Dari perban luka suami, hingga sorban yang kini menyelimutinya di Tanah Suci—Ela telah menunjukkan pada dunia bahwa keikhlasan seorang istri bisa menjadi jalan menuju ridha Allah.
Di tengah ribuan jemaah, Ela mungkin hanya satu titik kecil. Namun kisahnya adalah cahaya bagi siapa saja yang memaknai haji bukan sekadar perjalanan fisik, melainkan juga perjalanan spiritual—melintasi duka, harap, dan cinta.
