Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Prof. Haedar Nashir menyampaikan pesan penting tentang persatuan dan kemajuan dunia Islam dalam kuliah umum yang digelar di Universiti Malaysia Kelantan (UMK) pada Senin (5/5/2025).
Dalam forum ilmiah yang berlangsung di Gedung Perpustakaan UMK tersebut, Haedar menyuarakan pentingnya mempersempit perbedaan dan mempererat tali persaudaraan antara dua bangsa serumpun, Indonesia dan Malaysia, demi membangun peradaban Islam yang maju dan berdaya saing global.
Dalam pidatonya yang bertema “Membangun Tamadun Islam Berkemajuan”, Haedar mengajak seluruh elemen masyarakat di kedua negara untuk merefleksikan kembali sejarah dan jalinan erat yang telah lama terjalin di antara Indonesia dan Malaysia.
Haedar menekankan bahwa kedekatan geografis, kesamaan bahasa, dan akar budaya Melayu yang kuat merupakan potensi besar yang seharusnya dijadikan fondasi untuk memperkuat kerja sama lintas negara.
“Kita adalah bangsa yang serumpun. Dihubungkan oleh bahasa yang seakar, budaya yang sejalan, dan wilayah yang berdekatan. Meskipun dalam perjalanan sejarah kita membentuk bangsa yang terpisah, namun kedekatan ini harus menjadi modal besar untuk membangun kekuatan bersama,” ujar Haedar.
Lebih jauh, Haedar menyoroti peran besar agama Islam sebagai penggerak utama dalam membangun tata kehidupan masyarakat Melayu yang berkemajuan.
Dia menyampaikan bahwa Islam bukan sekadar ajaran spiritual, melainkan sistem nilai yang kokoh dan menyeluruh dalam membentuk peradaban yang adil, maju, dan berkeadaban.
Menurut Haedar, keberadaan umat Islam yang mayoritas di kawasan Asia Tenggara, khususnya Indonesia dan Malaysia, merupakan kekuatan strategis yang harus dimanfaatkan untuk menciptakan peradaban unggul berbasis nilai-nilai Islam.
“Al-Qur’an dan sunah Nabi Muhammad saw sarat dengan nilai-nilai kemajuan. Islam tidak pernah stagnan. Ia mendorong umatnya untuk terus berkembang, mencari ilmu, memperbaiki kehidupan sosial, dan menjadi umat yang memberi kontribusi bagi dunia,” tegasnya.
Haedar menekankan bahwa umat Islam harus memaknai kembali perintah Iqra, perintah pertama dalam Al-Qur’an, sebagai ajakan untuk berpikir kritis, menggali ilmu, dan menciptakan kemajuan peradaban.
Dia membandingkan bahwa semangat Iqra dalam Islam memiliki makna yang lebih dalam dibandingkan dengan sekadar aktivitas intelektual dalam tradisi Yunani dan Romawi.
Dalam kuliahnya, Haedar juga menyoroti pentingnya belajar dari sejarah kejayaan peradaban Islam. Ia menyayangkan bahwa banyak umat Islam saat ini yang kurang menghargai sejarah mereka sendiri dan terlalu mudah terpesona oleh peradaban lain.
Padahal, kata Haedar, Islam pernah menjadi pusat kemajuan dunia dalam bidang sains, teknologi, ekonomi, dan budaya, jauh sebelum kebangkitan Eropa.
“Kalau ada yang meragukan kemajuan Islam, itu karena mereka belum membaca Al-Qur’an dan Hadis dengan benar, dan belum mempelajari sejarah Islam secara jujur. Banyak kemajuan dunia Barat saat ini sebenarnya bertumpu pada fondasi yang dibangun oleh peradaban Islam,” jelasnya.
Dia menyebut sejumlah pemikir Barat seperti Robert N. Bellah dan G. Levy della Vida yang mengakui bahwa nilai-nilai Islam telah melahirkan masyarakat yang lebih terbuka dan kosmopolit dibandingkan masyarakat klasik Eropa.
Sayangnya, kata Haedar, peran besar Islam dalam membentuk peradaban dunia seringkali diabaikan dalam narasi sejarah global.
Haedar juga mengajak Indonesia dan Malaysia untuk terus memperkuat sinergi dalam membangun masa depan yang lebih cerah.
Menurutnya, persatuan yang dibangun di atas kesamaan sejarah, budaya, dan agama harus diikuti dengan langkah konkret untuk memajukan umat, baik dalam bidang pendidikan, ekonomi, teknologi, maupun budaya.
“Persatuan adalah awal. Tapi kita juga harus bergerak maju bersama. Islam mengajarkan kita untuk menjadi umat yang kuat, bukan hanya dalam iman, tapi juga dalam ilmu, amal, dan kontribusi nyata bagi dunia,” tutupnya dengan penuh semangat.
Kuliah umum Haedar Nashir di UMK tidak hanya menjadi ajang akademik, tetapi juga momen memperkuat diplomasi kultural dan keagamaan antara dua negara serumpun yang memiliki potensi besar dalam mewarnai arah peradaban Islam global. (*/wh)
