Berlindung dari Pemimpin Kekanak-kanakan

www.majelistabligh.id -

*)Oleh: Sigit Subiantoro
Anggota Majelis Tabligh PDM Kabupaten Kediri

Perilaku pemimpin kekanak-kanakan membawa dampak negatif bagi diri sendiri dan orang lain yang dipimpinnya.

Kita sering mendengar ungkapan, “ikan busuk berawal dari kepalanya, bukan dari badan atau buntutnya”, artinya: baik buruknya suatu organisasi, lembaga, masyarakat, dan negara akan berasal dari pemimpinnya.

Ungkapan ini memiliki makna mendalam yang mencerminkan betapa besar eksistensi peran seorang pemimpin dan kematangan diri dalam menentukan arah keberhasilan yang dipimpinnya.

Rasulullah pun berdoa,
“Ya Allah, sungguh kami berlindung kepada-Mu dari pemimpin yang kekanak-kanakan dan dari pemimpin yang bodoh.” (HR Bukhari)

Selain hadits di atas, Rasulullah bersabda,

“Aku khawatir atas kalian enam perkara: imarah sufaha (orang-orang yang bodoh menjadi pemimpin), menumpahkan darah, jual beli hukum, memutuskan silaturahim, anak-anak muda yang menjadikan Al Qur’an sebagai seruling-seruling, dan banyaknya algojo (yang dzalim)” (HR Ath-Thabrani)

Sikap kekanak-kanakan berupa ketidakmatangan kepribadian, kurang pertimbangan, dan jauh dari kebajikan dalam menjalankan peran kepemimpinan.

Dalam kondisi tertentu sangat mungkin seseorang yang tidak punya kapasitas dan miskin ilmu dapat menjadi pemimpin. Ia tak mampu mengambil kebijakan sendiri secara matang dan membawa maslahat bagi umat, ceroboh dalam bertindak. Tetapi juga mengelak dari tanggung jawab atas beberapa keputusan yang salah. Inilah bentuk sifat kekanak-kanakan dan kebodohan yang menyatu menjadi satu pada diri seorang pemimpin.

Islam mengajarkan terhindar dari pemimpin kekanak-kanakan, diperintahkan untuk selalu merefleksikan diri dan menginternalkan spirit keimanan bahwa pemimpin kelak akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala, sebagaimana sabda Nabi,

“Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang kalian pimpin. Seorang pemimpin (imam) adalah pemimpin atas rakyatnya, dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya…” (HR Bukhari-Muslim)

Pemimpin yang memiliki keimanan akan senantiasa menunjukkan kecerdasannya dengan evaluasi diri secara berkesinambungan.

Rasulullah bersabda,

“Orang yang cerdas adalah orang yang menghisab (mengoreksi) dirinya dan beramal untuk kehidupan setelah mati, sedangkan orang yang lemah adalah orang yang mengikuti hawa nafsunya dan berangan-angan kepada Allah”. (HR Tirmidzi)

Pentingnya muhasabah atau refleksi diri sebagai bagian dari sifat seorang pemimpin yang bijaksana. Pemimpin dapat menyadari kekurangan dan memperbaiki langkahnya serta terhindar dari sifat kekanak-kanakan dalam peran kepemimpinannya.

Wallahu a’lam bishshawab. (*)

Tinggalkan Balasan

Search