Bermuhammadiyah sebagai Jalan Hidup dan Pilar Peradaban

*) Oleh : Fathurrahman Kamal, Lc., M.Si
Ketua Majelis Tabligh PP Muhammadiyah
www.majelistabligh.id -

Silaturahmi dan menadah keberkahan ilmu serta hikmah dari Gurunda Dr. (HC) KH. Habib Chirzin. Menyimak uraian beliau yang begitu mendalam, beruntun, dan lengkap dengan data visual terasa seperti berada di hadapan sebuah ensiklopedi besar. Catatan tertulis beliau saya beri tajuk sebagaimana terbaca di atas.

Menjadi Muhammadiyah sejatinya identik dengan proses menjadi manusia yang lebih utuh dan otentik—‘ibād ar-Raḥmān—dengan shibghah Muhammadiyah.

Kemuhammadiyahan sebagai shibghah, sekaligus tugas dan panggilan hidup, adalah sebuah proses “menjadi” yang tak pernah selesai.

Ibarat cakrawala: setiap kita melangkah lebih jauh, kaki langit itu terus meluas, menjauh, dan menebarkan misteri yang semakin menarik dan menantang.

Bermuhammadiyah dan me-Muhammadiyah, dengan demikian, selalu baru, menarik, dan kaya perspektif. Refleksi kritis terhadap perjalanan panjang menjadi Muhammadiyah ibarat membaca kembali jejak tapak sepanjang hidup.

Sebab, bagi seseorang yang dilahirkan di Kotagede, Yogyakarta, hidup adalah ber-Muhammadiyah, me-Muhammadiyah, dan menjadi Muhammadiyah yang tidak mengenal kata berhenti.

Menjadi Muhammadiyah bersifat eksistensial sekaligus fundamental. Dalam proses yang dinamis dan penuh dialektika teologis, sosial, kultural, dan politis, muaranya adalah peradaban.

Sebab—secara sadar—menjadi Muhammadiyah ibarat menata batu-batu bata peradaban dengan gerakan tajdid, kritik sosial, dan gerakan budaya amar ma’ruf nahi munkar yang terus berkelanjutan dan tiada henti.

Di abad kedua dari kehadirannya, Muhammadiyah dipanggil untuk menggeluti wilayah peradaban yang lebih luas dan mendalam. Dalam pergumulan membina peradaban utama ini, diperlukan pengkajian yang lebih mendalam dalam ranah nilai, filsafat ilmu, dan reformasi pendidikan, serta kerja peradaban yang holistik.

Sebagaimana dikemukakan oleh seorang pemikir Muslim, Kurshid Ahmad, dalam pengantar buku karya ekonom Islam kelas dunia, M. Umer Chapra:

“The most distinct and defining aspect of Muslim civilization is that it is based on faith and is inspired by a vision of Man, Society, and Destiny based on Divine Guidance. It is characterized by the integration of the spiritual with the material, and the moral with the mundane. Life is one organic whole.”
(Umer Chapra, Muslim Civilization: The Causes of Decline and the Need for Reform, 2007, hlm. x)

Integrasi antara agama dan ilmu pengetahuan merupakan landasan yang harus dibangun bersama dalam pembinaan peradaban utama.

Ini adalah tugas keummatan yang harus terus memanggil kita untuk bersungguh-sungguh menggeluti persoalan strategis jangka panjang guna membina peradaban utama yang universal, melintasi ruang dan zaman:

“Religion and science or scientific activities are regarded as the two phenomena that may elevate a culture to the level of universality.” (hlm. 66)

Saat ini, masyarakat dunia—dalam beragam tingkatannya—menjadi Masyarakat Pengetahuan (Knowledge Society), yakni masyarakat yang menjunjung tinggi pengetahuan sebagai hasil dari aktivitas yang seharusnya dapat diakses oleh setiap orang.

Pengetahuan tidak boleh dimonopoli oleh kalangan akademik, lembaga pendidikan, atau pusat penelitian semata (non-excludable public good).

Pengetahuan adalah hak setiap orang. Pendidikan pun demikian. Keduanya menjadi fondasi dalam membentuk masyarakat pengetahuan (Knowledge Society).

Dari situ, aktivitas ekonomi berbasis pengetahuan (Knowledge Economy) dapat tumbuh sebagai pencapaian kolektif peradaban (Civilizational Collective Achievement), jika masyarakat pengetahuan itu berhasil dibina.

Dalam situasi seperti itu, akses terhadap pengetahuan dan pembentukan gaya hidup berbasis pengetahuan dimulai dari akses terhadap pendidikan.

Perkembangan “industri kreatif”—sebagai salah satu bentuk kegiatan ekonomi berbasis pengetahuan—semakin menonjol akhir-akhir ini.

Ia merupakan kemampuan menciptakan sesuatu dari yang belum ada, menemukan karya kreatif (create/innovate), menyebarkannya (disseminate), serta memanfaatkannya dalam masyarakat. Aktivitas ini sangat ditunjang oleh pengetahuan dan imajinasi para pelakunya.

Wallāhu A‘lamu bish-ṣawāb. (*)

 

Tinggalkan Balasan

Search