“Berpamitan” kepada Baginda Rasulullah

*) Oleh : Fathurrahman Kamal, Lc., M.Si
www.majelistabligh.id -

Alhamdulillah, pagi ini bakda subuh, Kamis 15/12/1446 H berpamitan kepada Baginda Rasulullāh saw dengan mengucapkan :

الصلاة والسَّلامُ عليكَ أيُّها النَّبيُّ ورحمةُ اللَّهِ وبرَكاتُهُ، السَّلامُ علينا وعلى عبادِ اللَّهِ الصَّالحينَ؛ أشهد أنك قد بلغت الرسالة، وأديت الأمانة، ونصحت الأمة، وجاهدت في الله حق الجهاد، وأنا على ذلك من الشاهدين.

“Selawat dan salam untukmu wahai Rasulullāh, beserta rahmat Allah Ta’ala dan segala keberkahan-Nya. Aku bersaksi sungguh engkau tlh menyampaikan risalahNya kepad kami, menunaikan amanah-Nya, menasehati umat, dan engkau telah berjuang dengan sebenar-benar jihad; sungguh diri ini menjadi bagian dari umatmu yang bersaksi di hadapan Allah Ta’ālā.”

Bahwa selawat dan salam kepada Rasulullah saw akan sampai kpd beliau dimanapun umat menyampaikannya, tentu hal yang pasti sebagaimana penjelasan al-Imam Ibnu Taymiyah rahimahullāh :

فَالصَّلَاةُ تَصِلُ إلَيْهِ مِنْ الْبَعِيدِ كَمَا تَصِلُ إلَيْهِ مِنْ الْقَرِيبِ

“Selawat dan salam akan sampai kepada Nabi ﷺ dari jauh sebagaimana sampainya shalawat dan salam dari dekat.” (Majmū’ al-Fatāwā, 27: 322)

Namun hadis berikut memberi kesan spiritual (ruhaniah) yang teramat mendalam:

مَا مِنْ أَحَدٍ يُسَلِّمُ عَلَىَّ إِلاَّ رَدَّ اللَّهُ عَلَىَّ رُوحِى حَتَّى أَرُدَّ عَلَيْهِ السَّلاَمَ

“Tidaklah seseorang menyampaikan salam kepadaku, melainkan Allah akan mengembalikan ruhku kepadaku sehingga aku membalas salam tersebut kepadanya.” (HR. Abu Daud. Menurut al-Albānī, hadits ini hasan.

Di luar nalar bayānī (tekstual), “berpamitan” merupakan ekspresi ruhaniah (‘irfānī) yang lebih mengedepankan “rasa batin” ketimbang nalar aqliah yg garing.

Demikian pula riwayat yangnmenuturkan bahwa Imam Malik rahimahulláh menanggalkan alas kakinya manakala beliau menapak tanah di sekitaran Masjid Nabawi (Madinah).

Beliau ditanya, mengapa melakukannya?. Jawab beliau, “Sungguh tak pantas aku menginjakkan tanah dengan alas kaki, di mana tanah tersebut diinjak oleh Rasulullah dengan kaki beliau yang mulia !.”

Tentu ini bukan dalil ttg ketentuan menanggalkan alas kaki di Madinah; namun merupakan petunjuk atas ketajaman “rasa” di atas “nalar”.

Wallāhu A’lamu bish shawāb. (*)

Tinggalkan Balasan

Search