Keraguan yang berlarut adalah pembunuh paling sunyi dari potensi manusia. Ia tidak mencela, tidak membentak, tapi perlahan melumpuhkan.
Banyak orang gagal bukan karena kurang pintar, tapi karena tak pernah cukup berani. Mereka terus menunggu momen yang tepat. Padahal, hidup tak pernah menyediakan waktu yang sempurna.
Setiap kali peluang muncul, yang lebih dulu menyergap adalah rasa takut. Ya, takut salah, takut gagal, takut menyesal. Mereka hidup dalam pusaran pertimbangan yang tiada habisnya.
Bukannya tak punya mimpi, mereka justru terlalu sering mengurung mimpi itu dalam sangkar logika dan kekhawatiran.
Dalam benak mereka, satu langkah ke depan bisa jadi awal dari jatuhnya harga diri. Maka mereka diam, menunda, dan menunggu waktu yang sempurna. Yang ujungnya sering kali tak pernah datang.
Takut gagal adalah rasa yang sangat manusiawi. Namun, bagi sebagian orang, rasa takut ini membentuk tembok tinggi yang menghalangi gerak.
Mereka bukan tidak mampu, tetapi selalu dicekik oleh pertanyaan: “Bagaimana jika nanti salah? Bagaimana jika aku menyesal?”
Saya jadi ingat pelajaran hidup dari seorang teman. Punya usaha properti. Dia dikenal ulet dan pantang menyerah. Tapi di balik kesuksesannya hari ini, ternyata ada masa-masa gelap yang nyaris membuatnya berhenti.
Dia pernah bercerita, bagaimana dulu ia begitu takut memulai. Dia punya tabungan pas-pasan, keluarga yang bergantung padanya, dan tak ada jaminan usaha itu akan berhasil.
Setiap malam, ia dilanda pergulatan batin: “Bagaimana kalau rugi? Bagaimana kalau gagal? Bagaimana kalau malah menyusahkan orang rumah?”
Namun satu hal yang membuatnya berbeda: ia tak membiarkan ketakutannya mengurung langkah. Ia mulai pelan-pelan. Satu tanah kecil, satu proyek sederhana. Dia jatuh, bangkit, jatuh lagi, lalu belajar.
Setelah bertahun-tahun, dia bukan hanya dikenal sebagai pebisnis sukses, tapi juga sebagai orang yang berani berdamai dengan ketakutannya. Dia tidak lebih hebat dari yang lain. Bedanya hanya satu: ia berani melangkah meski belum siap sepenuhnya.
Mereka yang dilanda keraguan sering hidup dalam kepala mereka sendiri. Mereka berpikir, menimbang, merancang segala kemungkinan, tapi sering tak pernah benar-benar melangkah. Mereka sibuk memikirkan semua yang bisa salah, sampai lupa bahwa yang lain bisa lebih cepat bertindak.
Kerugian dari keraguan yang berlarut bukan hanya hilangnya peluang, tapi juga lunturnya rasa percaya diri. Semakin sering seseorang membatalkan niatnya sendiri, semakin lemahlah kepercayaan terhadap kemampuannya.
Ini seperti membiasakan diri untuk kalah sebelum bertanding. Banyak potensi besar terpendam di balik orang-orang yang terlalu takut gagal. Padahal, mereka memiliki kemampuan, ide, dan bahkan dukungan. Yang kurang hanyalah langkah pertama.
Namun, tidak semua orang yang ragu itu lemah. Dalam keraguan itu juga ada kedewasaan. Mereka tidak gegabah. Mereka ingin memahami arah sebelum berjalan.
Tetapi, di titik tertentu, pertimbangan perlu diakhiri dengan keberanian. Karena hidup ini tidak akan pernah benar-benar bebas risiko. Bahkan diam pun kadang mengandung risiko: risiko kehilangan momen, kehilangan semangat, kehilangan waktu.
***
Dalam Islam, ketakutan akan kegagalan bukanlah sesuatu yang tabu. Al-Qur’an dan hadis justru memberikan panduan agar manusia tidak larut dalam keraguan dan rasa takut yang berlebihan.
Dalam Surat Ali Imran ayat 159, Allah SWT berfirman:
“…Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal.”
Ayat ini mengajarkan bahwa setelah segala pertimbangan dilakukan, keputusan harus diambil dengan penuh keyakinan, lalu dilanjutkan dengan tawakal. Juga percaya bahwa Allah akan menolong dan memelihara hasilnya.
Petunjuk ini penting bagi mereka yang selalu dilanda kegamangan. Keputusan bukan berarti harus sempurna, tetapi harus dijalankan dengan niat baik dan kepercayaan kepada Allah.
Hadis Nabi Muhammad saw juga memperkuat semangat untuk tidak takut melangkah. Rasulullah saw bersabda:
“Jika kamu meminta sesuatu, mintalah kepada Allah. Jika kamu meminta pertolongan, mintalah kepada Allah. Ketahuilah bahwa seandainya seluruh umat berkumpul untuk memberikan suatu manfaat kepadamu, mereka tidak akan mampu melakukannya kecuali dengan apa yang telah Allah tetapkan untukmu.” (HR. Tirmidzi).
Pesan ini mengajarkan keyakinan bahwa hasil bukan di tangan manusia, tapi di tangan Allah. Maka, yang penting adalah usaha yang sungguh-sungguh dan hati yang bergantung pada-Nya. Bukan rasa takut pada kegagalan.
Jika menengok sejarah, Nabi Muhammad saw sendiri adalah teladan dalam mengambil keputusan besar meskipun risikonya sangat tinggi. Salah satu contohnya adalah ketika beliau hijrah dari Makkah ke Madinah.
Saat itu, Nabi Muhammad saw diburu oleh musuh-musuh Islam, bahkan nyawa beliau terancam. Namun, keputusan hijrah tetap diambil. Tidak hanya sebagai langkah taktis, tapi sebagai ikhtiar besar untuk menyelamatkan dan membangun peradaban Islam.
Nabi Muhammad saw tidak menunggu kondisi sempurna, tapi melangkah dengan rencana matang dan tawakal penuh. Jika Nabi saja berani mengambil risiko demi kebaikan umat, mengapa kita harus terus dibelenggu ketakutan pribadi?
Contoh lain, peristiwa Perang Badar. Pasukan Muslim saat itu jumlahnya jauh lebih sedikit dan perlengkapannya sangat minim dibandingkan pasukan Quraisy. Secara logika dunia, peluang menang hampir tidak ada. Tapi Nabi tidak ragu untuk melangkah. Sebab beliau yakin bahwa kemenangan tidak semata-mata soal angka dan kekuatan fisik, tapi tentang niat, perjuangan, dan pertolongan Allah.
Peristiwa itu menjadi pelajaran bahwa keberanian untuk bertindak, meski kondisi belum ideal, adalah bagian dari iman yang kuat.
***
Kita semua pernah takut. Kita semua pernah ragu. Tapi jangan biarkan rasa itu mematikan langkah dan memenjarakan harapan.
Ketakutan dan kegagalan bukan untuk dihindari sepenuhnya, melainkan untuk dijadikan bahan bakar keberanian.
Seperti api yang bisa membakar, ia juga bisa menghangatkan, bergantung bagaimana kita mengelolanya.
Begitu pula rasa takut: ia bisa menghentikan kita, tapi juga bisa mendorong kita untuk lebih berhati-hati, lebih matang, dan lebih kuat dalam melangkah.
Saya mengambil hikmah dari banyak orang bijak. Jangan tunggu semua menjadi pasti. Jangan tunggu semua menjadi sempurna.
Hidup tidak pernah menyediakan jaminan aman dalam setiap keputusan. Tapi selama langkah kita disertai niat baik, usaha yang jujur, dan keyakinan kepada Allah, maka kegagalan pun bisa berubah menjadi pelajaran, dan keraguan bisa berubah menjadi kebijaksanaan. Bahkan jika jatuh, kita tidak pulang dengan tangan kosong—kita pulang membawa pengalaman yang tak bisa dibeli dengan apa pun.
Mereka yang hari ini terlihat kuat dan berhasil, dulunya juga pernah takut. Bedanya, mereka memilih untuk tetap melangkah meski lutut gemetar.
Maka, beranilah. Tidak perlu menunggu rasa takut hilang baru berani bertindak. Karena sering kali, keberanian justru tumbuh setelah kita mulai berjalan. Langkahkan kaki meski pelan, hadapi ketakutan meski masih samar, dan percayalah: jalan akan terbuka bagi mereka yang berani melangkah.
Akhirnya, kita perlu belajar berdamai dengan keraguan. Ia akan selalu hadir. Tapi bukan untuk dilawan habis-habisan, melainkan untuk dikenali dan dikendalikan.
Kita tak akan pernah tahu pasti hasil dari langkah kita, tapi yang pasti: tak melangkah hanya akan menjauhkan kita dari apa yang kita inginkan.
Mungkin inilah yang dimaksud pepatah lama: “Langkah pertama memang berat, tapi ia yang menentukan ke mana hidup kita akan berjalan.”
Wallahualam bishawab. (*)
