Beruntung dalam Keterasingan: Kisah Para Ghuraba

*) Oleh : Ferry Is Mirza DM
www.majelistabligh.id -

Jumat Mubarak,

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu, ia berkata bahwa Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

“Islam muncul dalam keadaan asing, dan akan kembali menjadi asing sebagaimana awal kemunculannya. Maka beruntunglah orang-orang yang asing (ghuraba).”

Kemudian para sahabat bertanya, “Siapakah orang-orang yang asing itu, wahai Rasulullah?”

Beliau menjawab: “Yaitu orang-orang yang melakukan perbaikan ketika manusia telah rusak.”

Dalam riwayat lain disebutkan bahwa ketika ditanya tentang siapa al-ghuraba itu, Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

“Mereka adalah orang-orang yang menghidupkan sunahku ketika manusia telah mematikannya.” (HR. Muslim)

Pelajaran Berharga dari hadis ini:

1. Tanda-Tanda Zaman Keterasingan Kebenaran

Akan datang suatu masa ketika melaksanakan ajaran Islam yang lurus menjadi sesuatu yang dipandang aneh. Menunaikan kewajiban agama dianggap ekstrem atau berlebihan, bahkan bisa disebut tidak waras oleh sebagian orang.

Orang yang menjaga ibadah, mengikuti sunnah, dan menjauhi kemungkaran diperlakukan seperti orang asing—dijauhi, dicemooh, bahkan dianggap ancaman oleh masyarakatnya sendiri. Mereka dianggap berbeda, padahal merekalah penjaga kemurnian agama.

Rasulullah shalallahu alaihi wasallam juga bersabda sebagaimana diriwayatkan dari Abdullah bin Amr bin Al-‘Ash radhiyallahu ‘anhuma:

“Pada suatu hari kami bersama Rasulullah, lalu beliau bersabda: ‘Beruntunglah orang-orang yang asing.’ Kami bertanya: ‘Siapakah orang-orang yang asing itu, wahai Rasulullah?’ Beliau menjawab: ‘Mereka adalah orang-orang saleh di tengah masyarakat yang rusak. Mereka tetap teguh dalam ketaatan, meski orang-orang yang berbuat maksiat jauh lebih banyak daripada yang taat.'” (HR. Ahmad, dishahihkan oleh Al-Albani)

2. Keteguhan dalam Keterasingan adalah Kemuliaan

Ketika zaman telah dipenuhi fitnah dan penyimpangan dari ajaran yang lurus, orang-orang yang tetap teguh di atas kebenaran akan terlihat asing. Amalan mereka mungkin tidak populer, bahkan dianggap usang atau tidak relevan.

Namun sesungguhnya merekalah orang-orang pilihan yang menjaga warisan Rasulullah di tengah keterasingan. Merekalah para ghuraba, orang-orang yang memegang prinsip di tengah derasnya arus kebatilan.

3. Ketika Kebenaran Terasing dan Sunnah Diremehkan

Zaman akan datang di mana manusia lebih mencintai perkataan orang-orang yang pandai berkata-kata namun menyimpang dari dalil. Nash (dalil dari Al-Qur’an dan hadis) bukan lagi dijadikan landasan, tetapi sekadar alat pembenaran kepentingan.

Dalam masa seperti ini, orang-orang yang memegang teguh sunnah akan dicerca, bahkan dikucilkan. Menjalankan agama dengan benar akan terasa seperti memegang bara api.

Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda:

“Akan datang kepada manusia suatu masa, di mana orang yang bersabar menjalankan agamanya di antara mereka seperti memegang bara api.” (HR. Tirmidzi)

4. Orang-Orang Asing yang Beruntung

Beruntunglah mereka yang tetap istikamah dalam menjalankan perintah Allah dan Rasul-Nya, meskipun orang-orang di sekitarnya telah jauh menyimpang.

Mereka terus menjaga diri dari bid’ah, memperjuangkan sunnah, dan menegakkan kebenaran dengan kesabaran. Mereka mungkin asing di dunia, tetapi mulia di sisi Allah.

Kaitan hadis dengan Ayat Al-Qur’an:

1. Orang-orang yang Beruntung

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

“Orang-orang yang beriman dan beramal saleh, bagi mereka kebahagiaan dan tempat kembali yang baik.”
(QS. Ar-Ra’d: 29)

2. Perlindungan Allah bagi Orang-Orang Saleh

“Sesungguhnya pelindungku ialah Yang telah menurunkan Al-Kitab (Al-Qur’an), dan Dia melindungi orang-orang yang saleh.” (QS. Al-A’raf: 196)

Semoga kita termasuk dalam golongan orang-orang yang beruntung—yang meskipun dianggap asing oleh manusia, justru dimuliakan oleh Allah karena istiqamah dalam kebenaran.

Janganlah takut menjadi berbeda karena berpegang pada ajaran Rasulullah. Keterasingan di dunia ini hanyalah sementara, tetapi pahala dan kemuliaan di sisi Allah kekal selamanya.

Insya Allah, kita senantiasa berada dalam naungan rahmat dan perlindungan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Aamiin. (*)

Tinggalkan Balasan

Search