Empat mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) berhasil menciptakan inovasi biofilter rokok berbahan limbah daun nanas yang mampu menyaring zat berbahaya seperti nikotin dan timbal.
Inovasi yang dinamai Chitopine ini mengantarkan mereka meraih medali emas dalam ajang International Science Technology and Engineering Competition (ISTEC) 2025 di Bali, Ahad (11/5/2025).
Tim Chitopine terdiri atas Hana Rahmawati dan Mira Shofiah dari Program Studi Farmasi, serta Muhammad Daffa Qory Maulana dan Muhammad Thoriq Azwar dari Program Studi Kedokteran.
Dalam kompetisi yang diikuti oleh 125 finalis dari berbagai negara tersebut, tim UMS mempresentasikan hasil riset dan pengembangan produk selama empat bulan terakhir.
Biofilter Chitopine dipasang pada cerutu kayu khusus berukuran nano yang dirancang secara custom. Filter ini terdiri dari tiga lapisan, yaitu campuran daun nanas dan beta-kitosan di bagian atas dan bawah, serta arang (charcoal) di bagian tengah.
Ketiga bahan tersebut dipilih karena kemampuannya dalam menyerap zat berbahaya dalam rokok.
“Daun nanas mengandung selulosa asetat hingga 71,5 persen, arang menyerap 33 persen nikotin, dan beta-kitosan dari tulang cumi-cumi bisa menyerap hingga 40 persen timbal,” jelas Hana saat ditemui di Fakultas Kedokteran UMS, pertengahan Juni lalu.
Proses pembuatannya melibatkan pemotongan daun nanas menjadi ukuran kecil, perendaman dengan senyawa hipoklorit, pemanasan, dan netralisasi.

Setelah dikeringkan, daun tersebut dihaluskan, lalu dicampur dengan larutan beta-kitosan dan dicetak menjadi spons kecil.
Hasil pengujian laboratorium menggunakan metode kromatografi gas dan spektrofotometri serapan atom menunjukkan biofilter tersebut mampu mengurangi kadar nikotin sebesar 16–26 persen, serta menurunkan kadar timbal hingga 18–47 persen.
Menurut Muhammad Daffa, inovasi ini ditujukan untuk para perokok aktif yang sedang menjalani terapi berhenti merokok.
“Kami ingin pengguna tetap merasakan sensasi merokok seperti biasa, tapi efek berbahayanya berkurang. Ini bisa jadi solusi transisi menuju berhenti total,” ujarnya.
Sebelumnya, tim sempat berencana mengikuti lomba serupa di Jepang, namun terkendala biaya dan visa.
Mereka kemudian memilih mengikuti ISTEC di Bali dan berhasil menjadi perhatian dewan juri dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) serta peneliti asal Malaysia.
Para juri memberikan sejumlah masukan, termasuk perlunya uji perbandingan terhadap berbagai jenis rokok, seperti rokok kretek dan rokok filter, mengingat perbedaan kadar nikotin di dalamnya.
Kemenangan di ISTEC menjadi batu loncatan bagi tim Chitopine untuk melanjutkan pengembangan produk dan mengikuti kompetisi internasional lainnya.
Mereka juga berharap inovasi ini dapat masuk ke industri kesehatan, khususnya sebagai alat bantu terapi pecandu rokok.
“Kami tidak ingin orang semakin nyaman merokok karena merasa terlindungi. Tapi kami berharap ini bisa membantu mengurangi efek berbahaya secara bertahap,” kata Daffa.
Chitopine juga menunjukkan bagaimana limbah pertanian seperti daun nanas bisa memiliki nilai tambah dan potensi besar dalam inovasi teknologi kesehatan. (gede arga adrian)
