Biografi Singkat Imam Muslim

Gambar ilustrasi: gemini
*) Oleh : Dr. Ajang Kusmana
Pengajar Mata Kuliah AIK UMM
www.majelistabligh.id -

Imam Muslim (206-261 H/821-875 M) adalah  ulama hadis terkemuka penyusun kitab Shahih Muslim, salah satu rujukan hadis terpercaya kedua setelah Bukhari. Lahir di Naisabur, Iran, beliau merupakan pedagang sukses yang menuntut ilmu sejak belia ke berbagai negara seperti Irak, Hijaz, dan Mesir, serta berguru langsung pada Imam Bukhari.

Profil Singkat Imam Muslim:

  • Nama Lengkap: Abul Husain Muslim bin al-Hajjaj al-Qusyairi an-Naisaburi.
  • Lahir: 206 H (ada pendapat 204 H) di Naisabur (Nishapur), Iran.
  • Wafat: 25 Rajab 261 H/875 M di Naisabur pada usia 55 tahun.
  • Karya Terbesar: Al-Jami’ ash-Shahih (Shahih Muslim)
  • Guru Utama: Imam Bukhari, Ahmad bin Hanbal, Yahya bin Yahya.

Nasab Imam Muslim:

  1. Al Qusyairi; merupakan nisbah kepada Qabilah afiliasi beliau, ada yang mengatakan bahwa Al Qusyairi merupakan orang arab asli, dan ada juga yang berpendapat bahwa nisbah kepada Qusyair merupakan nisbah perwalian saja.
  2. An Naisaburi; merupakan nisbah yang di tujukan kepada negri tempat beliau tinggal, yaitu Naisabur. Satu kota besar yang terletak di daerah Khurasan.

Negeri yang Pernah Dikunjungi:

Imam Muslim mempunyai kesempatan untuk mengadakan perjalanan hajinya pada tahun 220 Hijriah. Pada saat keluar itu dia mendengar hadis dari beberapa ahli hadis, kemudian dia segera kembali ke negerinya Naisabur.

Rihlah beliau.

Rihlah dalam rangka menuntut hadis merupakan syi’ar ahlul hadis pada abad-abad pertama, karena terpencarnya para pengusung sunah dan atsar di berbagai belahan negeri Islam yang sangat luas. Maka Imam Muslim pun tidak ketinggalan dengan meniti jalan pakar disiplin ilmu ini, dan beliau pun tidak ketinggalan dalam ambil bagian, karena dalam sejarah beliau tertulis rihlah ilmiahnya, diantaranya;

Rihlah pertama; rihlah beliau untuk menunaikan ibadah haji pada tahun 220 hijriah, pada saat dia masih muda belia. Pada saat itu beliau berjumpa dengan syaikhnya, Abdullah bin Maslamah al Qa’nabi di Makkah, dan mendengar hadis darinya, sebagaimana beliau juga mendengar hadis dari Ahmad binYunus dan beberapa ulama hadis yang lainnya ketika di tengah perjalanan di daerah Kufah. Kemudian kembali lagi ke negerinya dan tidak memperpanjang rihlahnya pada saat itu.

Rihlah kedua; rihlah kedua ini begitu panjang dan lebih menjelajah ke negeri Islam lainnya. Rihlah ini dimulai sebelum tahun 230 Hijriah. Beliau berkeliling dan memperbanyak mendengar hadis, sehingga beliau mendengar dari bayak ahli hadis, dan mengantarkan beliau kepada derajat seorang imam dan kemajuan di bidang ilmu hadis.

Beberapa negri yang pernah dikunjungi, diantaranya;

  1. Khurasan dan daerah sekitarnya
  2. Ar Ray
  3. Iraq; beliau memasuki Kufah, Bashrah dan Baghdad.
  4. Hijaz; memasuki Makkah dan Madinah
  5. Asy Syam
  6. Mesir

Kehidupan dan Keilmuan Imam Muslim:

  • Pendidikan: Tumbuh dalam keluarga berpendidikan, mulai belajar hadis sejak usia 12 tahun.
  • Rihlah Ilmiah: Mengembara ke Irak, Hijaz, dan Mesir untuk berguru kepada ahli hadis terkemuka.
  • Pekerjaan: Imam Muslim adalah pedagang pakaian yang sukses dan dermawan.
  • Karakter: Dikenal memiliki budi pekerti luhur dan sangat menghormati gurunya, terutama Imam Bukhari, yang ia sebut sebagai “dokter hadis”.

Guru-Guru  Imam Muslim:

Perjalanan ilmiah yang dilakukan imam Muslim menyebabkan dirinya mempunyai banyak guru dari kalanganahlul hadis. Al Hafizh Adz Dzahabi telah menghitung jumlah guru yang diambil riwayatnya oleh imam Muslim dan dicantumkan di dalam kitab shahihnya, dan jumlah mereka mencapai 220 orang, dan masih ada lagi selain mereka yang tidak di cantumkan di dalam kitab shahihnya

Di antara guru-guru beliau yang paling utama adalah;

  1. Abdullah bin Maslamah Al Qa’nabi, guru beliau yang paling tua
  2. Al Imam Muhammad bin Isma’il Al Bukhari
  3. Al Imam Ahmad bin Hambal
  4. Al Imam Ishaq bin Rahuyah al Faqih al Mujtahid Al Hafizh
  5. Yahya bin Ma’in, imam jarhu wa ta’dil
  6. Ishaq bin Manshur al Kausaj
  7. Abu Bakar bin Abi Syaibah, penulis buku al Mushannaf
  8. Abdullah bin Abdurrahman Ad Darimi
  9. Abu Kuraib Muhammad bin Al ‘Alaa`
  10. Muhammad bin Abdullah bin Numair
  11. Abd bin Hamid

Murid-murid beliau

Al Imam Muslim sibuk menyebarkan ilmunya di negrinya dan negri-negri Islam lainnya, baik dengan pena maupun dengan lisannya, maka beliau pun tidak terlepas untuk mendektekan hadis dan meriwayatkannya, sehingga banyak sekali para penuntut ilmu mengambil ilmu dari beliau.

Murid-Murid Imam Muslim

  1. Muhammad bin Abdul wahhab al Farra`
  2. Abu Hatim Muhammad bin Idris ar Razi
  3. Abu Bakar Muhammad bin An Nadlr bin Salamah al Jarudi
  4. Ali bin Al Husain bin al Junaid ar Razi
  5. Shalih bin Muhammad Jazrah
  6. Abu Isa at Tirmidzi
  7. Ibrahim bin Abu Thalib
  8. Ahmad bin Salamah An Naisaburi
  9. Abu Bakar bin Khuzaimah
  10. Makki bin ‘Abdan11. Abdurrahman bin Abu Hatim ar Razi
  11. Abu Hamid Ahmad bin Muhammad bin Asy Syarqi
  12. Abu Awanah al-Isfarayini
  13. Ibrahim bin Muhammad bin Sufyan al Faqih az Zahid.

Persaksian para ulama terhadap Imam Muslim

  1. Ishak bin Mansur al Kausaj pernah berkata kepada imam Muslim: “sekali-kali kami tidak akan kehilangan kebaikan selama Allah menetapkan engkau bagi kaum muslimin.”
  2. Muhammad bin Basysyar Bundar berkata; “huffazh dunia itu ada empat; Abu Zur’ah di ar Ray, Muslim di An Naisabur, Abdullah Ad Darimi di Samarkand, dan Muhammad bin Isma’il di Bukhara.”
  3. Muhammad bin Abdul Wahhab Al Farra` berkata; “(Muslim) merupakan ulama manusia, lumbung ilmu, dan aku tidak mengetahuinya kecuali kebaikan.”4. Ahmad bin Salamah An Naisaburi menuturkan; “Saya me¬lihat Abu Zur’ah dan Abu Hatim selalu mengutamakan Muslim bin al-Hajjaj dalam perkara hadis shahih ketimbang para masyayikh zaman keduanya.
  4. Ibnu Abi Hatim mengatakan: ” Saya menulis hadis darinya di Ray, dan dia merupakan orang yang tsiqah dari kalangan huffazh, memiliki pengetahuan yang mendalam dalam masalah hadis. Ketika ayahku di Tanya tentang dia, maka dia menjawab; (Muslim) Shaduuq.”
  5. Maslamah bin Qasim al Andalusi berkata; ” tsiqah, mempunyai kedudukan yang agung, termasuk dari kalangan para imam.”
  6. Abu Ya’la Al Khalili berkata; “dia sangat familier sekali untuk di sebutkan keutamaannya.”
  7. Al Khatib Al Baghdadi berkata; “(dia) merupakan salahseorang a`immah dan penghafal hadis.”
  8. As Sam’ani menuturkan; “termasuk salah seorang imam dunia.”
  9. Ibnul Atsir berkata; “termasuk salah seorang dari para imam penghafal hadis.”
  10. Ibnu Katsir berkata; “termasuk salah seorang dari para imam penghafal hadis.”
  11. Adz Dzahabi berkata; ”Imam besar, hafizh lagi mumpuni, hujah serta orang yang jujur.”

Hasil karya:

Imam Muslim mempunyai hasil karya dalam bidang ilmu hadis yang jumlahnya cukup banyak. Di antaranya ada yang sampai kepada kita dan sebagian lagi ada yang tidak sampai. Adapun hasil karya beliau yang sampai kepada kita adalah:

  1. Al Jami’ ash Shahih
  2. Al Kuna wa Al Asma’
  3. Al Munfaridaat wa al wildan
  4. Ath Thabaqaat
  5. Rijalu ‘Urwah bin Az Zubair
  6. At Tamyiz

Sedangkan hasil karya beliau yang tidak sampai kepada kita adalah:

  1. Al Musnad al Kabir ‘Ala ar Rijal
  2. Al Jami’ al Kabir
  3. Al ‘Ilal
  4. Al Afraad
  5. Al Aqraan
  6. Su`alaat Muslim
  7. Hadis ‘Amru bin Syu’aib8. Al Intifaa’ bi`ahabbi as sibaa’
  8. Masyayikhu Malik
  9. Masyayikhu Ats Tsauri
  10. Masyayikhu Syu’bah
  11. Man laisa lahu illa raawin waahid
  12. Kitab al Mukhadldlramin
  13. Awladu ash shahabah
  14. Dzikru awhaami al Muhadditsin
  15. Afraadu Asy Syamiyyin

Keistimewaan Shahih Muslim:

  • Menyusun hadis dengan metode tematik yang sistematis, mengelompokkan hadis-hadis yang memiliki tema, sanad, dan matan yang sama dalam satu tempat.
  • Karya ini diakui validitasnya oleh mayoritas ulama.

Sanjungan Para Ulama Terhadapnya

Abu Quraisy Al-Hafidz berkata, “Aku telah mendengar Muhammad bin Basyar berkata, “Orang paling hafidz di dunia ini hanya ada empat, yaitu; Abu Zur’ah di daerah Rai, Imam Muslim bin Al-Hajjaj di daerah Naisabur, Abdullah Ad-Darimi di daerah Samarqand dan Muhammad bin Ismail (Imam Al-Bukhari) di daerah Bukhara.”

Imam An-Nawawi yang telah mensyarah Kitab Shahih Muslim mengatakan, “Para Ulama telah sepakat akan keagungan, keimanan dan tingginya martabat Imam Muslim bin Al-Hajjaj dalam membuat karya Kitab Shahih Muslim. Melalui karya tersebut, dapat diketahui betapa kokoh keilmuan dan dahulunya dia melebihi yang lain. Sistematika penulisan yang tertib dan periwayatan hadith dengan baik tanpa ada sebelumnya, tanpa lebih dan kurang merupakan bukti nyata atas semua yang aku sampaikan ini.”

Pentingnya Kitab Shahih Muslim

Adapun mengenai perkataan Ulama tentang Kitab Shahih beliau, maka sangatlah banyak, di antaranya adalah perkataan Al-Hafidz Ibnu Hajar, beliau berkata, “Dalam Kitab Al-Jami’ karya Imam Muslim bin Al-Hajjaj terdapat kandungan dan manfaat yang besar yang belum dapat dihasilkan oleh orang lain. Oleh karena itu, ada sebagian ulama lebih mengunggulkannya atas Kitab Ash-Shahih karya Imam Al-Bukhari karena beberapa pertimbangan.

Di antaranya karena faktor terkumpulnya semua jalur periwayatannya hadis dan pola penyampaian yang mudah dipahami pembaca. Di samping itu, Imam Muslim selalu berusaha menyampaikan matan hadis sebagimana dia terima dari syaiknya tanpa memutus riwayat dan tidak pula meriwayatkan hadis dengan maknanya. Sebagian penduduk Naisabur telah berusaha untuk mencoba meniru seperti yang telah dilakukan Imam Muslim dalam kitab karyanya Al-Jami’, akan tetapi mereka tidak mampu. Maha Suci Dzat Pemberi yang pemberian-Nya sangat banyak.”

Jumhur Ulama berpendapat bahwa Shahih Bukhari lebih shahih dari Shahih Muslim, walaupun ada sebagian ulama yang lebih mengunggulkan Shahih Muslim disbanding Shahih Bukhari dengan beberapa sebab.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata, “Para ulama telah sepakat bahwa ilmu Imam Bukhari lebih agung dan dia lebih mengerti membuat Kitab hadis daripada Imam Muslim. Sesungguhnya Imam Muslim adalah murid dan alumni Imam Bukhari yang senantiasa menimba ilmu darinya dan mengikutinya. Oleh karena itu, Ad-Daruquthni berkata, “Kalau tidak ada Imam Bukhari, maka Imam Muslim tidak akan bisa seperti itu dan Imam Muslim tidak akan menghasilkan karya seperti ini.”

Imam Muslim Wafat

Menurut Imam Adz-Dzahabi, Imam Muslim wafat pada hari Ahad sore, dan dikebumikan di kampung Nasr Abad, salah satu daerah di luar Naisabur, pada hari Senin, 25 Rajab 261 H bertepatan dengan 5 Mei 875. dalam usia beliau 55 tahun.

Dan Al-Khatib Al-Baghdadi telah menceritakan Kitab wafanya beliau dalam kitabnya Tarikh Baghdad, beliau berkata, “Ahmad bin Salamah berkata, “Sewaktu Imam Muslim sedang mengajar, ada seseorang menanyakan sebuah hadis yang tidak diketahui oleh Imam Muslim. Kali beliau keluar dari tempat mengajar menuju rumahnya. Setelah menyalakan lampu, dia berpesan kepada keluargannya bahwa malam itu dia tidak boleh diganggu.

Salah seorang keluarga Imam Muslim mengatakan, “Pada waktu yang bersamaan Kami menerima hadiah kurma, lalu Kami menyuguhkan kurma tersebut kepada beliau. Di saat ia mencari hadis, tangannya mengambil kurma satu demi satu dan memakannya sampai kenyang. Ketika kurma itu habis, ia baru menemukan hadis yang dimaksud. (*)

Tinggalkan Balasan

Search