Suasana khidmat menyelimuti kawasan miqat Bir Ali, tempat calon jemaah haji Indonesia memulai niat ihramnya. Di tengah kesibukan pengaturan ribuan jemaah, Majelistabligh.id berkesempatan mewawancarai Prof. Dr. Aswadi Syuhada, M.Ag, Konsultan Haji Kementerian Agama RI, yang memberikan sejumlah arahan penting terkait kesiapan jemaah menjelang ibadah haji.
Dalam wawancara yang berlangsung pada Sabtu (10/5/2025 pagi, Prof. Aswadi menekankan pentingnya pembinaan ibadah dimulai dari para pimpinannya sendiri. Terutama di sektor seperti Bir Ali, keteladanan dan kedisiplinan para petugas menjadi kunci kelancaran mobilisasi jemaah dari bus menuju masjid.
“Kami minta para petugas juga membantu mengarahkan jemaah, terutama saat keluar-masuk masjid. Termasuk urusan sepele seperti menyimpan sandal. Banyak sandal hilang karena disimpan di luar loker atau mirip satu sama lain,” ujar Prof. Aswadi.
Beliau juga mengingatkan pentingnya menjaga kebersamaan dan kekompakan dalam rombongan, mengingat masih ada kasus jemaah yang tertinggal bus karena menunggu teman tanpa koordinasi jelas. Bahkan hal sederhana seperti penggunaan pakaian ihram pun perlu diawasi.
“Saya masih temui ada jemaah yang belum melepas celana dalam, padahal ini wajib. Niat ihram sebaiknya dilafalkan bersama di dalam bus agar tidak ragu dan ada yang menyaksikan,” ungkapnya.
Terkait larangan dalam ihram, Prof. Aswadi menjelaskan secara detail bahwa memakai pakaian berjahit, mencabut rambut atau kuku, berburu, hingga menggunakan wewangian secara sengaja menjadi hal-hal yang harus dihindari sejak niat ihram dilafalkan. Untuk wanita, menutup wajah dan telapak tangan secara penuh juga termasuk larangan.
Namun demikian, ada pengecualian bagi petugas lapangan seperti pelayanan pembawa air minum jemaah atau pelayanan gembala hewan hadyu (kurban), yang diperbolehkan berpakaian praktis demi kelancaran tugas.
“Semua pelanggaran memiliki konsekuensi dam. Tapi jika pelanggaran terjadi tidak sengaja, seperti tertutup kepala karena lupa, maka cukup membayar fidyah berupa memberi makan enam orang miskin,” jelasnya.
Masuk ke Masjidil Haram, Prof. Aswadi mengingatkan soal kesunahan mencium Hajar Aswad dan mengusap Rukun Yamani. Jika secara tidak sengaja terkena wewangian dari batu tersebut, hal itu tidak membatalkan ihram karena bukan tujuan utamanya.
Terakhir, beliau menekankan pentingnya memahami perbedaan antara tawaf dan sa’i, termasuk soal jumlah putaran dan proses tahalul atau pemotongan rambut. Jemaah diimbau membawa gunting kecil dan bisa meminta bantuan orang yang alim agar disertai doa dan keberkahan.
“Tahalul itu bukan sekadar memotong rambut, tapi simbol pengangkatan derajat. Semoga Allah mengabadikan nilai-nilai kebaikan dari ibadah ini,” tutupnya. (afifun nidlom)
