Apabila ada sebuah desa yang aman, masjid dan langgarnya bersih serta megah, pengajian berlangsung teratur, dan penduduknya akrab membicarakan nilai-nilai keislaman, maka besar kemungkinan di wilayah tersebut terdapat komunitas Muhammadiyah beserta jejak amal usahanya.
Hal ini disampaikan oleh Ketua Lembaga Pengembangan Cabang Ranting dan Pengembangan Masjid (LPCR-PM) PP Muhammadiyah, Jamaluddin Ahmad, dalam pengajian rutin bulanan di Kantor Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Senin (5/1/2026).
Pernyataan tersebut sekaligus merujuk pada ungkapan KH Yunus Anis, Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah periode 1959-1962. KH Yunus Anis dikenal pula sebagai organisator dan administrator, dan karena bakatnya tersebut, Yunus Anis diminta membina bagian pemuda Hizbul Wathan.
Menurut Jamaluddin Ahmad, salah satu ciri utama keberadaan komunitas Muhammadiyah adalah budaya masyarakat yang terbiasa membicarakan kebaikan dan nilai-nilai keislaman dalam kehidupan sehari-hari. “Ini yang luar biasa. Penduduknya membicarakan hal-hal baik,” ujarnya.
Ciri lainnya, lanjut Jamal, ditandai dengan tumbuhnya Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) di berbagai bidang, serta maraknya pengajian rutin yang berpusat di masjid. Kehadiran AUM dan aktivitas keagamaan tersebut menjadi penanda kuat gerak dakwah Muhammadiyah yang hidup dan berkelanjutan di tengah masyarakat.
Lebih jauh, Jamal menjelaskan bahwa ciri-ciri tersebut sejatinya mengarah pada tujuan utama Muhammadiyah, yakni memajukan dan menggembirakan kehidupan. Tujuan itu secara tegas telah dirumuskan langsung oleh pendiri Muhammadiyah, KH Ahmad Dahlan, sebagaimana tertuang dalam Statuten Muhammadiyah tahun 1914.
Dalam statuten tersebut disebutkan bahwa tujuan Muhammadiyah adalah memajukan dan menggembirakan pengajaran serta pendidikan agama Islam di Hindia Belanda waktu itu, serta memajukan dan menggembirakan kehidupan sesuai dengan tuntunan agama Islam bagi para anggotanya.
“Kiai Ahmad Dahlan meyakini bahwa jika ajaran Islam benar-benar dipahami dan diamalkan dengan ilmu, maka kehidupan seorang Muslim, bangsanya, dan lingkungan tempat ia tinggal akan menjadi maju, gembira, dan bahagia,” terang Jamal.
Karena itu, pihaknya menegaskan bahwa ber-Muhammadiyah harus mampu menghadirkan kemajuan dan kegembiraan, sekecil apa pun bentuknya. Semangat ini merupakan penekanan kuat dari KH Ahmad Dahlan dalam melembagakan amal saleh. “Islam itu harus dirasakan manfaatnya. Bukan hanya untuk dirinya sendiri, tetapi juga dirasakan oleh orang lain,” tegas Jamal. (*/tim)
