Budaya Korupsi Akibat Minimnya Rasa Syukur

www.majelistabligh.id -

Korupsi terjadi karena perubahan budaya sekitar yang menganggap seseorang “kurang saleh” jika tidak ikut mengambil, karena hampir semua orang di sekitarnya melakukan hal yang sama. Dalam kondisi seperti itu, orang yang jujur justru dianggap anomali.

Hal ini disampaikan oleh Zuly Qodir, Wakil Lembaga Kajian dan Kemitraan Strategis Pimpinan Pusat Muhammadiyah, dalam khutbahnya di Masjid KH Ahmad Dahlan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY).

Zuly Qodir, mengajak jamaah untuk melakukan refleksi mendalam atas kondisi bangsa yang masih dililit persoalan korupsi  yang kerap menimbulkan rasa miris. Berdasarkan survei International Corruption, dalam lima tahun terakhir Indonesia disebut menempati peringkat tinggi dalam praktik korupsi, baik di tingkat dunia maupun Asia.

“Korupsi dilakukan oleh pejabat negara dari level kelurahan hingga pusat, bahkan sebagian kecil terjadi di lingkungan perguruan tinggi. Padahal universitas semestinya menjadi ruang pembentukan etika dan nilai moral.” Tandasnya.

Zuly Qodir juga menyinggung sejumlah lembaga yang dalam berbagai survei masuk kategori rawan korupsi, mulai dari aparat penegak hukum, lembaga keagamaan yang mengatur praktik ritual, hingga sektor pendidikan. Ia menyebut kondisi ini sebagai ironi besar di tengah klaim pembangunan moral dan spiritual bangsa.

Mengutip pemikiran sosiolog Syed Hussein Alatas dalam buku Sosiologi Korupsi, ia menjelaskan bahwa korupsi bukan hanya terjadi di negara miskin, tetapi juga di negara yang relatif makmur. Ia juga merujuk pandangan Jeffery Winters tentang oligarki, yakni situasi ketika kekayaan dan kekuasaan hanya berputar pada kelompok tertentu, sehingga sebagian kecil orang mengambil terlalu banyak sumber daya negara.

Menurut Zuly Qodir, Syed Hussein Alatas merumuskan setidaknya empat faktor utama mengapa korupsi terus berlangsung. Pertama, adanya motivasi atau keinginan untuk korupsi. Kedua, lingkungan yang mendukung—ketika ke kiri, kanan, depan, dan belakang semuanya melakukan praktik serupa. Ketiga, adanya kesempatan. Dan keempat, keberanian. Jika keempat unsur ini bertemu, maka korupsi menjadi sesuatu yang dianggap wajar.

Pihaknya mengaitkan fenomena ini dengan persoalan syukur. Ia mengutip pesan Al-Qur’an tentang janji Allah kepada orang-orang yang bersyukur. Ia mengingatkan bahwa bisa jadi praktik korupsi berakar dari kegagalan manusia mensyukuri nikmat yang telah diberikan.

“Dalam Al-Qur’an, rezeki tidak pernah secara eksplisit disamakan dengan uang. Namun dalam praktik korupsi, yang hampir selalu diambil adalah uang. Padahal, rezeki memiliki makna jauh lebih luas: kesehatan, anggota tubuh yang lengkap, keluarga, keturunan, umur, pekerjaan, hingga kesempatan hidup,” paparnya.

Karena itu, Zuly Qodir mengajak untuk membangun sikap hidup sederhana, zuhud, dan istikamah, dengan cara mensyukuri apa yang sudah ada. Keluarga dan anak keturunan juga bagian dari rezeki, demikian pula fakta bahwa seseorang masih diberi kesempatan hidup.

Ia lalu menjelaskan tiga bentuk syukur. Pertama, syukur dengan lisan, yakni mengucapkan terima kasih atas nikmat Allah. Kedua, syukur dengan anggota badan, melalui perbuatan nyata seperti salat, mengaji, dan amal saleh lainnya. Ketiga, syukur dengan hati, yakni menerima dengan lapang dada apa pun yang diberikan Allah—dan ini disebutnya sebagai bentuk syukur yang paling berat, karena hanya diketahui oleh diri sendiri dan Tuhan. (*/tim)

 

Tinggalkan Balasan

Search