Budaya Mudik, Jalan Pulang yang Berulang

*) Oleh : Chusnun Hadi
Editor majelistabligh.id
www.majelistabligh.id -

Lebaran telah tiba. Ada yang merayakannya pada Jumat, 20 Maret 2026, ada pula yang menunaikannya pada Sabtu, 21 Maret 2026. Namun di atas perbedaan tanggal itu, Indonesia kembali menunjukkan sebuah kematangan batin, bahwa iman tidak selalu harus seragam untuk tetap saling memuliakan.

Di negeri ini, kita sudah terlalu lama belajar bahwa Lebaran bukan semata perkara hari, melainkan hati dan keyakinan. Saat lebaran, budaya mudik mulai berjalan menuju jalan pulang. Pulang bukan hanya tubuh yang menempuh banyak kilometer, melainkan juga rindu yang berangkat jauh sebelum kendaraan dinyalakan.

Di jalan-jalan itu, tampak sepeda motor melaju dengan barang bertumpuk di jok belakang, tas bergelayut di sisi kanan-kiri, dan mata yang menatap ke depan dengan satu cita-cita sederhana: bertemu ibu, memeluk ayah, menyalami saudara, dan meneguhkan kembali akar keluarga.

Ritual Sosial

Dari sudut pandang sosiologis, mudik adalah ritual sosial yang sulit digantikan teknologi. Tahun ini, Kementerian Perhubungan memproyeksikan pergerakan masyarakat selama masa Angkutan Lebaran 2026 mencapai 143,91 juta orang, atau sekitar 50,60 persen penduduk Indonesia. Bahkan arus kendaraan keluar Jakarta selama masa angkutan lebaran diproyeksikan mencapai 3,67 juta kendaraan.

Angka-angka itu menjelaskan satu hal, bahwa secanggih apa pun gawai, panggilan untuk pulang tetap lebih kuat daripada notifikasi. Panggilan video pun tak mempan. Kehadiran fisik masih menjadi bahasa kasih yang paling dipercaya masyarakat.

Mudik, dari sudut pandang sosial, adalah upaya merawat jejaring yang tak tertulis. Ia mempertemukan generasi yang lama berpisah oleh pekerjaan, kota, dan kebutuhan hidup. Di meja makan rumah-rumah di kampung dan desa, identitas seseorang tak lagi ditimbang dari jabatan atau ukuran gaji, melainkan dari seberapa tulus ia datang dan duduk bersama. Karena itu, mudik bukan hanya mobilitas penduduk, tetapi peristiwa kebudayaan, tempat desa dan kota saling menyapa kembali.

Namun dari sisi psikologis, mudik juga menyimpan masalah yang lebih rumit. Ia bisa menjadi gerak jiwa untuk bersilaturahmi, tetapi kadang juga terselip hasrat yang lebih sunyi, yakni ingin diakui, ingin terlihat berhasil, ingin pulang dengan bukti bahwa perjuangan di rantau tidak sia-sia.

Maka mudik sering berada di antara dua tarikan, sebuah ketulusan kasih dan pamer pencapaian. Dalam batin banyak orang, keduanya mungkin berkelindan atau saling terkait. Tidak selalu buruk, sebab manusia memang makhluk yang ingin dicintai sekaligus dihargai.

Tunjangan vs Tuntutan Hari Raya

Di tengah suasana itu, ada satu pertarungan yang terasa akrab di banyak keluarga: “Tunjangan Hari Raya” dan “Tuntutan Hari Raya”. THR yang semestinya menjadi penyangga kegembiraan kadang justru habis sebelum sempat dinikmati.

Pemerintah melalui Surat Edaran Menteri Ketenagakerjaan Nomor 3 Tahun 2026 menegaskan bahwa THR keagamaan wajib dibayarkan penuh dan tidak boleh dicicil. Negara ingin memastikan hak pekerja terpenuhi.

Tetapi dalam kenyataan sosial, setelah THR turun, daftar kebutuhan juga berbaris panjang, mulai dari ongkos perjalanan, oleh-oleh, baju anak, zakat, hidangan tamu, hingga kewajiban-kewajiban kecil yang tak tertulis namun terasa wajib.

Karena itu, Lebaran sering menjadi cermin paling jujur tentang kehidupan kita. Di situ ada suka cita, ada beban, ada pelukan, juga ada pengeluaran. Namun semua itu dijalani dengan wajah yang tetap ingin tersenyum. Mungkin karena orang Indonesia paham, kebahagiaan tidak selalu lahir dari kelapangan harta, melainkan dari kesempatan untuk kembali.

Di jalan pulang itu, keselamatan tetap menjadi doa yang paling nyata. Polri melaporkan angka kecelakaan dan fatalitas mudik Lebaran 2026 menurun; fatalitas korban meninggal turun 24,61 persen dibanding Operasi Ketupat 2025. Itu kabar baik, sekaligus pengingat bahwa perjalanan pulang tetap membutuhkan kewaspadaan, bukan hanya kerinduan.

Akhirnya, adalah pertanyaan soal mudik yang selalu sama dari tahun ke tahun: apakah ini sekadar perjalanan menuju kampung halaman, atau perjalanan kembali menuju diri sendiri?

Barangkali keduanya. Sebab setiap Lebaran, manusia ingin pulang bukan hanya ke rumah masa kecilnya, tetapi juga menuju nilai-nilai yang dulu membesarkannya, nilai hormat kepada orang tua, hangat kepada saudara, lapang dalam perbedaan, dan ikhlas dalam memaafkan.

Dan mungkin, di situlah makna mudik yang paling sejati, bukan sekadar pamer keberhasilan, melainkan keberanian untuk tetap menjadi anak, saudara, dan manusia yang tahu ke mana hatinya harus kembali. Selamat menempuh perjalanan mudik, Titi DJ. (*)

 

Tinggalkan Balasan

Search