Budaya Pencitraan: Junjung Integritas, Hindari Kepalsuan

www.majelistabligh.id -

Anggota Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Aly Aulia, menegaskan bahwa Islam tidak menolak personal branding maupun upaya membangun citra diri. Namun, seluruh praktik tersebut harus berpijak pada nilai muruah alias kehormatan dan integritas diri, bukan pada kepalsuan, manipulasi, atau sekadar pamer.

Pesan itu disampaikan Aly Aulia dalam pengajian di Masjid KH Ahmad Dahlan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.

Menurutnya, tantangan menjadi pribadi mukmin dan muttaqin semakin kompleks di tengah zaman yang bergerak cepat dan sarat pencitraan. Ia menyebut era hari ini sebagai zaman ketika citra kerap mengalahkan hakikat.

“Kita hidup di masa ketika orang sibuk memoles feed Instagram, memoles biografi diri, tetapi lupa memoles hakikat dirinya. Yang dipoles tampilan, bukan akhlak dan kualitas perilaku,” jelasnya.

Aly Aulia menggambarkan fenomena tersebut sebagai hyper reality, kondisi ketika batas antara yang asli dan yang direkayasa menjadi kabur. Banyak orang menampilkan kebahagiaan di media sosial, padahal hatinya sedang gundah; menampilkan kesuksesan, padahal hidupnya penuh tekanan.

Fenomena itu, lanjutnya, melahirkan krisis integritas: citra tampak indah, tetapi isinya keropos. Namun, ia menegaskan bahwa Islam sama sekali tidak melarang umatnya membangun reputasi atau citra diri. “Islam justru memiliki panduan tentang harga diri, kehormatan diri, dan personal branding. Masalahnya, sering disalahpahami seolah tugasnya hanya menutupi keburukan,” tegasnya.

Dalam perspektif Islam, menjaga reputasi publik adalah hal yang nyata dan penting, terutama sebagai modal dakwah. Aly Aulia mencontohkan bagaimana Rasulullah ﷺ sangat menjaga nama baik umat Islam agar tidak mudah difitnah atau direndahkan.

“Menjaga nama baik itu wajib. Rasulullah saw adalah praktisi public relations terbaik. Beliau sudah bergelar al-Amīn jauh sebelum diangkat menjadi nabi. Tanpa kepercayaan itu, dakwah tidak akan berjalan,” ungkapnya.

Ia juga menegaskan bahwa Islam mendorong komunikasi yang jujur sekaligus tepat sasaran, sebagaimana perintah Al-Qur’an, “Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar (qaulan sadīda).” Kejujuran, menurutnya, bukan hanya soal benar, tetapi juga akurat, logis, dan tidak manipulatif.

Aly Aulia kemudian menguraikan konsep muruah sebagai inti dari personal branding Islami. Muruah berarti menjaga kehormatan diri, harga diri, dan menjadi versi terbaik dari diri sendiri—bukan tampil kucel atau mengabaikan penampilan sebagaimana anggapan keliru yang kerap beredar.

“Menjadi saleh bukan berarti abai pada kerapian dan kualitas diri. Justru muruah adalah kemampuan menjaga izzah, etika sosial, dan integritas,” katanya.

Ia mencontohkan kisah Nabi Yusuf a.s yang menyebutkan kompetensinya secara terbuka saat meminta amanah sebagai bendahara negeri Mesir. Pernyataan “innī ḥafīẓun ‘alīm” (aku pandai menjaga dan berilmu) menurutnya adalah bentuk personal branding yang sah karena berbasis fakta dan kemaslahatan.

Namun, Aly Aulia mengingatkan bahwa personal branding Islami harus bersih dari dua penyakit utama: tadlis (penipuan/manipulasi) dan riya (pamer). Tadlis, katanya, adalah dosa besar dalam praktik PR, sebagaimana peringatan Rasulullah saw, “Man ghasysyanā fa laisa minnā”—barang siapa menipu, bukan dari golongan kami. (*/tim)

Tinggalkan Balasan

Search