Menuliskan sejarah para tokoh Muhammadiyah tidak cukup hanya dengan menyajikan data dan kronologi. Diperlukan pendekatan naratif agar kisah perjuangan mereka dapat dirasakan secara emosional dan memberi makna yang mendalam.
Hal ini disampaikan oleh Agus Wahyudi, Pemimpin Redaksi Majelistabligh.id, dalam Rapat Koordinasi Majelis Pustaka dan Informasi Digital (MPID) Pimpinan Cabang Muhammadiyah se-Kota Surabaya yang diselenggarakan di Aula PDM Surabaya, Ahad (13/7/2025).
Dalam pemaparannya, Yudi menekankan pentingnya menulis sejarah tokoh Muhammadiyah bukan hanya dari sisi fakta dan biografi semata.
Menurutnya, penggunaan jurnalisme naratif dapat membangkitkan kembali semangat dan nilai-nilai perjuangan tokoh secara lebih menyentuh.
“Penulisan sejarah perlu narasi yang membangkitkan emosi pembaca. Cerita-cerita perjuangan tokoh akan terasa lebih hidup jika dikemas secara naratif,” jelasnya kepada para peserta.
Dia lalu menjelaskan, pendekatan ini tidak mengurangi unsur keakuratan, melainkan justru memperkaya dan mempermudah generasi muda dalam memahami serta menghayati nilai perjuangan para tokoh.
Dalam era digital, imbuh Yudi, narasi yang kuat akan lebih menancap di benak pembaca dibanding data yang dingin dan kering.
“Narasi yang kuat bukan hanya menceritakan tokoh, tetapi menghidupkan kembali perjuangannya,” tutur dia.
Di mata Yudi, penulisan sejarah tokoh Muhammadiyah sangat penting. Ada beberapa alasan. Pertama, untuk menghargai jasa tokoh Muhammadiyah yang belum banyak dikenal.
Kedua, mengisi kekosongan historiografi lokal Muhammadiyah. Ketiga, menyampaikan nilai dan keteladanan melalui cerita. Keempat, mengajak generasi muda mencintai sejarah organisasinya.
“Ada banyak tokoh Muhammadiyah yang bisa ditulis. Mungkin ada yang tahu Kiai Haji Abdullah Wasian. Dia tokoh Muhammadiyah dan ahli Kristologi. Saya dulu sering mengikuti ceramahnya,” ungkap Yudi.
Yudi juga membagikan sejumlah kiat dalam menulis sejarah dengan cara yang lebih menarik dan elegan. Di antaranya pentingnya melakukan riset mendalam, menyoroti sisi kemanusiaan tokoh, serta menyisipkan unsur dialog atau deskripsi yang kuat dan menggugah.
“Kalau ingin menulis, langsung saja mulai. Judul bisa dipikirkan belakangan. Mulailah dengan satu peristiwa, lanjutkan dengan konflik, dan akhiri dengan penyelesaiannya. Tulis secara singkat, padat, dan bermakna,” ujarnya.
“Ini juga penting, enyertakan dokumen visual. Baik berupa foto, lokasi, dan arsip,” imbuh Yudi.
Antusiasme peserta yang merupakan perwakilan MPID dari seluruh PCM se-Surabaya tampak tinggi. Banyak di antara mereka yang merasa mendapatkan sudut pandang baru dalam menulis sejarah Muhammadiyah, tidak sekadar sebagai informasi, tetapi sebagai sumber inspirasi.
Acara ini menjadi bagian dari inisiatif PDM Surabaya dalam mengembangkan dokumentasi sejarah dan digitalisasi dakwah Muhammadiyah dengan pendekatan yang lebih kreatif dan relevan di era digital saat ini. (azmi izuddin)
