Bukan Sekadar Obat, Tapi Juga Doa: Peran Pembimbing Rohani dalam Menemani Pasien yang Sakit

www.majelistabligh.id -

Ketika seseorang jatuh sakit, yang melemah bukan hanya tubuhnya. Jiwanya pun seringkali ikut goyah. Rasa cemas, takut, bahkan putus asa perlahan menyelimuti hati. Dalam ruang-ruang rumah sakit yang sunyi, banyak pasien diam-diam menahan tangis—bukan karena sakit fisik semata, tetapi karena hati yang terasa kosong dan tak berdaya.

Di tengah usaha medis yang terus berjalan, ada sosok lain yang hadir untuk menguatkan dari sisi berbeda. Ia bukan dokter atau perawat. Ia hadir sebagai teman bicara, pengingat harapan, dan penyejuk hati. Dialah pembimbing rohani.

Muhammad Fitriani, Pembimbing Rohani Islam (Binroh) di RS Islam PKU Muhammadiyah Palangka Raya, telah bertahun-tahun mendampingi pasien dalam proses penyembuhan spiritual mereka. Baginya, layanan rohani bukan sekadar pelengkap—melainkan bagian penting dari pemulihan yang utuh.

“Bekerja di rumah sakit bukan sekadar profesi. Ini ladang ibadah. Maka pelayanan pun harus disertai keikhlasan dan nilai ihsan,” ujar Fitriani dengan mantap.

Fitriani percaya, dalam Islam, manusia adalah makhluk sempurna—dengan fisik, akal, dan ruh. Maka ketika sakit, bukan hanya tubuh yang perlu dirawat, tapi juga jiwa yang butuh dipulihkan. Ia pun mengutip ayat Al-Qur’an untuk menguatkan hal ini:

“Dan Kami turunkan dari Al-Qur’an sesuatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (QS. Al-Isra: 82)

Ia juga mengingatkan akan sabda Rasulullah SAW dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim:

“Tidak seorang mukmin pun yang ditimpa cobaan, derita, penyakit, kecemasan, kecuali Allah hapuskan darinya semua kesalahannya.”

Namun, kenyataan di lapangan tidak selalu mudah. Banyak pasien yang belum bisa menerima takdir sakit yang menimpanya. Sebagian merasa marah, takut, bahkan hilang harapan. Di sinilah, menurut Fitriani, kehadiran pembimbing rohani menjadi sangat krusial.

Mendampingi dengan Hati

Menurut Fitriani, pelayanan terhadap pasien mencakup dua aspek utama:

  • Pelayanan Fisik, yang ditangani oleh tenaga medis melalui pengobatan.
  • Pelayanan Rohani, yang diberikan melalui bimbingan spiritual dan santunan keagamaan.

“Keduanya harus berjalan bersamaan,” katanya, “agar pasien mendapatkan ketenangan jiwa, keikhlasan, dan motivasi untuk sembuh.”

Tujuan utama dari pendampingan rohani, jelasnya, adalah membantu pasien menemukan kembali makna sabar, ikhlas, dan tawakal. Bahwa sakit bukanlah hukuman, melainkan bentuk kasih sayang Allah.

“Sakit adalah jalan cinta dari Allah,” terang Fitriani dengan suara lembut namun penuh keyakinan

Ia pun merinci empat manfaat utama dari pendampingan spiritual:

  • Menjernihkan Pikiran dan Menenangkan Hati, membantu pasien pasrah, percaya diri, dan menerima ujian Allah dengan hati yang ridha.
  • Meringankan Beban Psikologis, mengurangi trauma, stres, dan ketakutan yang bisa memperlambat proses penyembuhan.
  • Membimbing Ibadah Pasien, mengajarkan cara salat dalam kondisi sakit, tata cara bersuci, serta membiasakan amalan-amalan ringan.
  • Memotivasi untuk Sembuh, dengan memperkuat hubungan pasien dengan Allah, mereka kembali menemukan semangat hidup.

Bagi Fitriani, bimbingan rohani bukan sekadar memberi nasihat. Tapi dakwah, yang disampaikan lewat hati dan ketulusan.

“Kami menanamkan bahwa sakit adalah bagian dari ujian yang membawa kemuliaan. Bila sembuh, ia akan bersyukur. Bila wafat, semoga dalam keadaan husnul khatimah.”

Menariknya, pelayanan rohani juga menyentuh keluarga pasien. Mereka pun kerap dihampiri rasa lelah, khawatir, dan bingung. Fitriani mengatakan, pembimbing rohani turut hadir memberi kekuatan, doa, serta motivasi kepada mereka agar tetap tabah mendampingi orang terkasih.

Ia berharap, ke depan, rumah sakit semakin menyadari bahwa layanan kesehatan yang paripurna tak hanya berhenti di tindakan medis. Sentuhan spiritual harus menjadi bagian tak terpisahkan dari proses penyembuhan.

“Pasien tak hanya butuh obat, tapi juga doa. Tak hanya perawatan tubuh, tapi juga sentuhan hati. Maka kami hadir, bukan hanya sebagai tenaga rohani, tapi sebagai saudara seiman yang menemani di saat-saat terberat mereka,” pungkas Fitriani. (*/tim)

Tinggalkan Balasan

Search