Buku Catatan Kehidupan, Saksi Abadi di Hari Pembalasan

www.majelistabligh.id -

*) Oleh: Muhammad Nashihudin MSI
Ketua Majelis Tabligh PDM Jakarta Timur

Setiap insan akan menerima buku catatan kehidupannya sebagai bukti nyata atas segala amal yang dikerjakannya di dunia. Buku ini akan menjadi dasar balasan yang akan diterima kelak di akhirat.

Di dunia ini saja, rekam jejak digital bisa mencatat segala aktivitas kita dengan begitu teliti. Maka tentu, catatan amal yang ditulis oleh malaikat yang tidak pernah lalai—Malaikat Raqib dan ‘Atid—jauh lebih sempurna dan tak terbantahkan. Semuanya akan dipertanggungjawabkan dengan adil.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

“Dan setiap manusia telah Kami kalungkan (catatan) amal perbuatannya di lehernya. Dan pada hari Kiamat Kami keluarkan baginya sebuah kitab dalam keadaan terbuka.”
“Bacalah kitabmu. Cukuplah dirimu sendiri pada hari ini sebagai penghitung atas dirimu.”
(QS. Al-Isra’ 17: Ayat 13–14)

Pada hari itu, setiap manusia akan mengetahui dengan jelas bagaimana akhir dari perjalanan hidupnya: apakah berujung bahagia atau sebaliknya. Ada yang menerima catatan amalnya dengan tangan kanan sebagai pertanda keberhasilan, dan ada pula yang menerimanya dengan tangan kiri atau dari belakang punggung—sebuah tanda penyesalan dan kemurkaan.

Catatan dari dua malaikat pencatat amal sudah cukup sebagai bukti dan dasar keputusan atas semua perbuatan manusia.

1. Mereka yang Menerima Catatan dengan Tangan Kanan

“Adapun orang yang kitabnya diberikan di tangan kanannya, maka dia berkata, ‘Ambillah, bacalah kitabku ini!'”
“Sesungguhnya aku yakin, bahwa aku akan menghadapi perhitunganku.”
“Maka ia berada dalam kehidupan yang diridai,
di surga yang tinggi,
buah-buahannya dekat.”
“(Kepada mereka dikatakan), ‘Makan dan minumlah dengan nikmat atas apa yang telah kamu kerjakan di hari-hari yang telah lalu.'”
(QS. Al-Haqqah 69: Ayat 19–24)

Orang-orang yang senantiasa menjaga amal baiknya dan yakin akan hari pembalasan akan berbahagia dengan catatan kehidupannya. Mereka hidup dalam keridhaan dan kenikmatan surga sebagai balasan atas keimanan dan ketakwaannya.

2. Mereka yang Menerima Catatan dengan Tangan Kiri

“Dan adapun orang yang kitabnya diberikan di tangan kirinya, maka dia berkata, ‘Wahai, alangkah baiknya jika kitabku ini tidak diberikan kepadaku.'”
“Dan aku tidak mengetahui apa perhitunganku.”
“Wahai, kiranya kematian itulah yang menyudahi segalanya.”
“Hartaku tak berguna lagi bagiku.”
(Allah berfirman), “Tangkaplah dia dan belenggulah tangannya ke lehernya, lalu masukkan dia ke dalam neraka yang menyala-nyala.”
“Kemudian belitlah dia dengan rantai sepanjang tujuh puluh hasta.”
“Sesungguhnya dia dahulu tidak beriman kepada Allah Yang Maha Agung.”
(QS. Al-Haqqah 69: Ayat 25–33)

Inilah potret tragis dari mereka yang lalai dalam kehidupan dunia, tak beriman, dan menganggap remeh akhirat. Ketika hari pembalasan tiba, penyesalan pun tiada guna.

3. Doa agar Diberikan Hidayah dan Dijauhkan dari Kesesatan

“Ya Tuhan kami, janganlah Engkau palingkan hati kami kepada kesesatan setelah Engkau memberi petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu. Sesungguhnya Engkau Maha Pemberi.”
(QS. Ali ‘Imran 3: Ayat 8)

Doa ini menjadi pengingat bahwa hidayah adalah nikmat terbesar. Kita memohon kepada Allah agar senantiasa diberikan petunjuk dan dijauhkan dari kesesatan, hingga akhir hidup kita berada dalam kebaikan.

4. Kajian Tafsir Ibnu Katsir 

Kitab buku catatan kehidupan
Al-Muthaffifin, ayat 18-28
كَلَّا إِنَّ كِتَابَ الْأَبْرَارِ لَفِي عِلِّيِّينَ (18) وَمَا أَدْرَاكَ مَا عِلِّيُّونَ (19) كِتَابٌ مَرْقُومٌ (20) يَشْهَدُهُ الْمُقَرَّبُونَ (21) إِنَّ الْأَبْرَارَ لَفِي نَعِيمٍ (22) عَلَى الْأَرَائِكِ يَنْظُرُونَ (23) تَعْرِفُ فِي وُجُوهِهِمْ نَضْرَةَ النَّعِيمِ (24) يُسْقَوْنَ مِنْ رَحِيقٍ مَخْتُومٍ (25) خِتَامُهُ مِسْكٌ وَفِي ذَلِكَ فَلْيَتَنَافَسِ الْمُتَنَافِسُونَ (26) وَمِزَاجُهُ مِنْ تَسْنِيمٍ (27) عَيْنًا يَشْرَبُ بِهَا الْمُقَرَّبُونَ (28)

Sekali-kali tidak, sesungguhnya kitab orang-orang berbakti itu (tersimpan) dalam “Illiyyin. Tahukah kamu apakah ‘Illiyyin itu? (yaitu) kitab yang bertulis, yang disaksikan oleh malaikat-malaikat yang didekatkan (kepada Allah). Sesungguhnya orang yang berbakti itu benar-benar berada dalam kenikmatan yang besar (surga), mereka (duduk) di atas dipan-dipan sambil memandang. Kamu dapat mengetahui dari wajah mereka kesenangan hidup mereka yang penuh kenikmatan. Mereka diberi minum dari khamr murni yang dilak (tempatnya), laknya adalah kesturi; dan untuk yang demikian itu hendaknya orang berlomba-lomba. Dan campuran khamr murni itu adalah tasnim, (yaitu) mata air yang minum darinya orang-orang yang didekatkan kepada Allah.

Allah (Subhanahu wa Ta’ala) berfirman dengan sebenar-benarnya, bahwa sesungguhnya buku catatan amal orang-orang yang berbakti itu berbeda dengan buku catatan orang-orang yang durhaka; buku catatan amal mereka,

{لَفِي عِلِّيِّينَ}

benar-benar tersimpan dalam ‘Illiyyin. (Al-Muthaffifin: 18)

Yaitu tempat kembali mereka adalah ‘Illiyyin, dan ini berbeda dengan Sijjin, keduanya bertolak belakang.

 

Tanggapan

Tinggalkan Balasan

Search