Di balik pekikan heroik “Allahu Akbar!” yang membakar semangat rakyat Surabaya dalam Pertempuran 10 November 1945, terdapat sisi lain dari Bung Tomo yang jarang dikisahkan: kedekatannya dengan Muhammadiyah.
Kisah itu muncul dari penelusuran seorang sejarawan, yang menyibak lembaran-lembaran lama sejarah bangsa.
Fakta ini diungkap oleh Prof. Purnawan Basundoro, sejarawan sekaligus Dekan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga (FIB Unair).
Dalam telaahnya terhadap arsip surat kabar Koran Al Jihad edisi 10 April 1946, koran yang pernah diterbitkan oleh Partai Masyumi dan dikelola banyak tokoh Muhammadiyah, terdapat berita menarik tentang kunjungan Bung Tomo ke kantor Pengurus Besar Muhammadiyah di Yogyakarta.
Dalam pemberitaan yang masih menggunakan ejaan lama itu, disebutkan bahwa Bung Tomo, bersama stafnya, berkunjung ke Gedung PB Muhammadiyah dan disambut langsung oleh Ki Bagoes Hadikoesoemo, tokoh penting Muhammadiyah kala itu. Pertemuan berlangsung hangat, di teras kantor, dengan suasana kekeluargaan yang akrab.
Dalam perbincangan yang singkat tapi bermakna itu, Bung Tomo menyampaikan dua pesan penting. Pertama, ia meminta agar Muhammadiyah lebih memperhatikan masalah sosial. Baginya, perjuangan belum selesai jika masyarakat masih tertinggal dan terabaikan.
“Tentang kesosialan hendaknya diperhebat,” begitu bunyi pernyataan Bung Tomo yang dikutip Koran Al Jihad.
Pesan kedua ditujukan khusus kepada Majelis Aisyiyah, organisasi perempuan Muhammadiyah.
Bung Tomo berharap agar Aisyiyah mengambil peran lebih nyata dalam memberikan pedoman bagi seluruh perempuan Indonesia yang ikut membela agama, nusa, dan bangsa.
Sebuah pandangan yang jauh ke depan tentang pentingnya pemberdayaan perempuan dalam membangun bangsa merdeka.
Pertemuan itu memang tidak berlangsung lama. Namun sebelum beranjak pergi, PB Muhammadiyah memberikan sebuah mushaf Al-Qur’an terjemahan bahasa Indonesia kepada Bung Tomo.
Hadiah itu sederhana tapi penuh makna, sebuah bentuk penghormatan dari organisasi keagamaan kepada seorang pejuang republik.
“Alhamdulillah,” ucap Bung Tomo dengan pandangan mata yang khusyuk, seperti dikisahkan dalam laporan tersebut.
Bung Tomo lalu menyalami seluruh pengurus Muhammadiyah dengan tulus, seakan pertemuan itu bukan sekadar seremonial, melainkan simbol dari persaudaraan yang lebih dalam: antara pejuang kemerdekaan dan gerakan dakwah Islam modern.
Tak berhenti di situ, Prof. Purnawan juga menunjukkan fakta lain yang memperkuat kedekatan Bung Tomo dengan lingkaran Muhammadiyah.
Dalam sebuah foto yang diambil di Kompleks Istana Kepresidenan Yogyakarta, sekitar lima bulan setelah Pertempuran Surabaya, tampak Bung Tomo duduk santai (ngelempoh), mengenakan pakaian pejuang, berbincang akrab dengan Fatmawati, istri Presiden Soekarno.

Di samping Fatmawati tampak dua perempuan lain yang mengenakan kebaya. Satu adalah Maisarah, cucu dari pendiri Muhammadiyah, KH Ahmad Dahlan, dan satunya adalah Aisyiyah Hilal (Pimpinan Aisyiyah Yogyakarta, putri Kyai Ahmad Dahlan).
Dalam foto tersebut juga terlihat seorang perempuan mengenakan rok sambil menggendong seorang bocah. Bocah itu adalah Guntur Soekarnoputra, putra Bung Karno dan Ibu Negara pertama Indonesia.”
Foto tersebut dimuat dalam buku Fatmawati Sukarno: Catatan Kecil Bersama Bung Karno (Jakarta: Sinar Harapan, hlm. 143).
Gambar itu menjadi saksi bisu kedekatan antara pejuang republik, tokoh perempuan nasional, dan keluarga besar Muhammadiyah.
Sebuah momen sejarah yang melampaui sekadar dokumentasi visual, ia menyimpan narasi tentang jaringan sosial dan spiritual yang ikut menopang perjuangan kemerdekaan.
Kisah ini menunjukkan bahwa Bung Tomo tidak berdiri sendiri dalam perjuangannya. Dia terhubung dengan kekuatan sipil Islam seperti Muhammadiyah, yang sejak awal ikut merumuskan cita-cita Indonesia merdeka.
Bukan hanya dari kolonialisme, tapi juga dari ketertinggalan sosial dan kebodohan.
Kini, puluhan tahun setelah pekikan “Allahu Akbar” menggema dari Radio Pemberontakan di Surabaya, kisah tentang mushaf Al-Qur’an dari Muhammadiyah untuk Bung Tomo seolah menjadi catatan kaki dalam sejarah besar republik. Tapi justru di situlah letak nilai pentingnya.
Ia menunjukkan bahwa perjuangan bukan semata soal senjata dan pertempuran. Ada doa yang menyertainya. Ada nilai spiritual yang mendasarinya. Dan, ada ukhuwah yang memperkuatnya.
Dalam mushaf yang diberikan kepada Bung Tomo, tersimpan harapan bahwa kemerdekaan Indonesia akan dijaga bukan hanya dengan darah, tapi juga dengan iman dan ilmu. (*)
