Pagi-pagi benar, saat kota masih malas bangun, suara sepatu buruh sudah ramai di terminal. Mereka datang satu per satu, dengan tas kecil, bekal seadanya, dan wajah yang jarang mengeluh.
Tak ada headline tentang mereka. Tak ada mikrofon menunggu di depan pintu. Tapi kalau mereka berhenti, dunia pun bisa lumpuh.
Kita sering bicara tentang pertumbuhan ekonomi. Tentang angka. Tentang grafik. Tapi jarang yang benar-benar menyebut buruh.
Padahal tangan mereka yang menggerakkan mesin. Keringat mereka yang menetes di balik barang-barang yang kita pakai sehari-hari.
Sayangnya, dalam sistem yang rakus, buruh sering diposisikan di bawah. Seolah mereka bisa diganti kapan saja.
Dari sisi psikologi, hidup sebagai buruh membawa tekanan luar biasa. Kondisi kerja yang berat, upah yang minim, dan rasa tidak aman secara ekonomi bisa memicu apa yang disebut stres kerja kronis.
Dalam jangka panjang, ini bisa mengarah ke burnout syndrome—rasa lelah mental yang membuat seseorang merasa hampa, seolah tak ada lagi makna dari apa yang dia kerjakan. Sering kali, rasa lelah itu tidak hanya di badan, tapi juga di jiwa.
Lalu muncul respons psikologis lain: diam, pasrah, atau bahkan sinis terhadap harapan. Karena ketika suara tak didengar dan kebutuhan tak terpenuhi, manusia mulai menarik diri dari rasa percaya.
Mereka bekerja bukan karena ingin berkembang, tapi karena tak punya pilihan. Di sinilah pentingnya kebijakan yang memperhatikan kesejahteraan mental buruh, bukan hanya aspek fisik dan materi.
Dalam Islam, Rasulullah sapernah bersabda, “Berikanlah upah kepada pekerja sebelum kering keringatnya.” (HR. Ibnu Majah).
Itu bukan hanya soal uang, tapi soal martabat. Karena kerja itu ibadah, dan memperlakukan pekerja dengan adil adalah amanah.
Bangsa yang besar tidak hanya memerlukan gedung tinggi dan angka statistik, tapi juga kesehatan jiwa orang-orang yang bekerja membangun itu semua.
Buruh bukan beban negara. Mereka justru tiang penyangga ekonomi. Mungkin, sudah waktunya suara mereka didengar, bukan hanya setiap 1 Mei.
Tapi setiap hari. Karena bangsa yang benar-benar kuat dibangun bukan hanya oleh pemikir di kantor-kantor, tapi juga oleh tangan-tangan kasar yang tak pernah lelah — meski sering merasa sendiri. (*)
