Cadangan Devisa berbasis Utang: Ketika SBN menjadi Pilar Ekonomi

*) Oleh : Dr. Anwar Hariyono S., M. Si, CIAP
Dewan Pengawas Syariah Lazismu Jawa Timur
www.majelistabligh.id -

Klaim bahwa sebagaian besar cadangan devisa Indonesia berasal dari utang luar negeri, terutama dalam bentuk surat berharga Negara (SBN), memberikan tanda adanya keganjilan dalam struktur ekonomi nasional.

Dalam paparan memunculkan gambaran bahwa kekuatan devisa bukanlah hasil utama dari kinerja ekspor atau surplus neraca transaksi berjalan, melainkan hasil dari instrumen utang yang terus diusahakan oleh negara.

Perubahan fungsi devisa ini menimbulkan kekwatiran: dari semula indikator kekuatan ekonomi riil, menjadi efek balik atas akumulasi kewajiban jangka panjang yang sarat risiko.

Ketergantungan pada penerbitan SBN untuk memperkuat cadangan devisa tak hanya menambah beban pembayaran bunga dan pokok, tetapi juga membuka kerentanan terhadap guncangan eksternal dan fluktuasi pasar keuangan global.

Melihatnya, ketergantungan fiskal jangka pendek terhadap utang semacam ini memperlihatkan rapuhnya fondasi devisa nasional atau memang indonesia mencoba dengan fundamental ini gaya Amerika 2025.

Jika kekayaan cadangan kita lebih ditentukan oleh pinjaman ketimbang produktivitas domestik, maka kebanggan itu menjadi semu.

Pemerintah seharusnya tidak menjadikan utang sebagai jalan pintas yang berkelanjutan. Diperlukan reformasi mendalam dari penguatan ekspor bernilai tambah., optimalisasi penerimaan pajak, sehingga efesiensi dalam alokasi anggaran.

Narasi kemakmuran yang di letakkan pada devisa untuk direfleksikan secara lebih jernih.

Sebab, cadangan devisa mungkin terlihat megah, tapi jika ditopang hutang, maka sebenarnya kita sedang berjalan di atas fondasi rapuh.

Di balik angka devisa yang mengesankan, tersembunyi beban masa depan yang tak bisa diabaikan. (*)

 

Tinggalkan Balasan

Search