*Oleh:Bahrus Surur-Iyunk
Penulis Nikmatnya Bersyukur (2018), Guru SMA Muhammadiyah I Sumenep
Tidak jauh berbeda dengan Imam Al-Ghazali dalam Mukasyafat al-Qulub. Sang Hujjatul Islam itu menjelaskan bahwa syukur itu bisa dilakukan dengan tiga cara. Yaitu, Pertama, bersyukur dengan hati, yaitu niat melakukan kebaikan untuk seluruh makhluk. Kedua, bersyukur dengan lisan, yaitu menampakkan syukur kepada Allah dengan segala bentuk pujian kepada-Nya. Dan ketiga, bersyukur dengan anggota badan, yaitu menggunakan nikmat Allah itu di jalan yang diridlai-Nya dengan ketaatan kepada-Nya, dan menjauhi larangan-Nya.
Dengan demikian, rasa syukur bisa dimaknai sebagai sebuah bentuk pengakuan atau kesadaran atas nikmat yang telah diberikan Allah kepada kita, dengan mengakui dalam hati, menyatakan dengan lisan melalui kalimat tahmid, dan membuktikan dengan perbuatan melalui aktivitas positf (amal saleh).
Dulu, ketika masih di pesantren salah seorang guru memaknai syukur itu dengan “menggunakan atau mempergunakan pemberian Allah sesuai dengan maksud dan tujuan yang memberi.” Jadi, kalau seseorang itu diberi karunia panca indera, maka harus digunakan untuk kebaikan dirinya dalam rangka mencari ridha Allah, tidak untuk bermaksiat kepada Allah.
Dalam konteks hubungan sesama manusia saja dapat dibayangkan. Ketika seseorang memberi sesuatu lalu kita menggunakannya sesuai dengan keinginannya, maka ia akan merasa sangat senang dan dihargai. Dalam hal makanan, misalnya, saat kita diberi suguhan oleh saudara kita kemudian kita memakannya dengan penuh semangat, maka si pemberi akan merasa bahagia dan bisa jadi ia akan memberinya kembali.
Sebaliknya, jika seseorang memberi makanan (sebagai contoh yang paling mudah) lalu keesokan harinya ia mengetahui makanan itu tidak dimakan dan basi, maka (seringkali) ia akan kecewa, menyesal dan merasa tidak dihargai. Pun tidak akan memberi lagi. Apalagi jika pemberian itu digunakan untuk menyakiti dan mengkhianati yang pemberi.
Dalam perspektif pikiran kemanusiaan dapat digambarkan, ketika anugerah Tuhan yang diberikan kepada kita tidak digunakan sebagaimana perintah aturan Tuhan atau malah dibuat untuk menentang perintah-Nya dan melakukan larangan-Nya? Betapa manusia itu telah melampaui batas kemanusiaannya sendiri. Dan wajar jika pada nantinya akan disiksa dengan siksa yang amat pedih. Di samping tidak tahu diri, ia sangat tidak menghargai pemberian nikmat yang melimpah kepadanya.
Sebaliknya, mereka yang menggunakan pemberian Tuhan sesuai dengan kehendak-Nya, maka Allah akan menambah nikmat-Nya kepadanya. Nikmat itu tidak harus berupa harta kekayaan yang melimpah secara fisik. Tetapi, justru kenikmatan yang tidak kasat mata, seperti kesehatan, kebahagiaan hidup, kedamaian hati, ketenangan jiwa dan, terlebih lagi, kenikmatan di Akhirat kelak adalah lebih mahal dari sekedar kenikmatan jasmaniah.
Betapa banyak orang kaya yang tidak bisa menikmati harta kekayaannya, karena ia terkena diabetes, stroke, darah tinggi, asam urat, kolesterol, lemak darah tinggi, dan sebagainya. Sebaliknya, tanpa bermaksud menginginkan kemiskinan, banyak orang yang dianggap miskin bisa menikmati hidupnya dengan penuh kebahagiaan. Karena hatinya penuh berlimpah rasa Syukur. Ini artinya bahwa kenikmatan ruhaniah dan kejiwaan itu bisa jadi justru lebih mahal dari sekedar harta kekayaan. Hal seperti inilah yang sering tidak disadari oleh banyak orang.
Allah mengingatkan kita dalam QS Ibrahim: 7, “Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), Maka Sesungguhnya azab-Ku sangat pedih“. Wallahu a’lamu. (*)
