Cara Budayawan Melakukan Kritik Sosial, Tajam Tapi Tak Menyakiti

Budayawan Mustofa Bisri dan Zawawi Imron.
*) Oleh : Chusnun Hadi
Editor majelistabligh.id
www.majelistabligh.id -

Ketidakadilan sosial menjadi isu yang selalu digaungkan dalam setiap rezim yang berkuasa. Di Indonesia, mulai kepemimpinan Presiden Soekarno hingga saat ini, isu ini selalu disuarakan oleh kelompok-kelompok yang tidak puas dengan berbagai kebijakan pemerintah. Kritik sosial kadang diungkap dengan suara lantang, tetapi juga ada yang bersuara dengan karya sastra.

Para budayawan memilih melakukan kritik sosial dengan karya sastra berupa puisi atau prosa. Mereka menggunakan narasi dan satire yang tepat agar protes tersebut tidak terang-terangan menunjuk siapa yang diprotes. Tajam tetapi tak menyakiti.

Seperti halnya Budayawan Mustofa Bisri, di zaman orde baru dia banyak mengungkapkan kritiknya lewat puisi. Bahkan puisinya pun masih relevan dengan kondisi saat ini. Lihat saja puisi karya Mustofa Bisri yang berjudul: “Negeri  Haha Hihi” adalah sebuah kritik sosial yang tajam terhadap kondisi politik dan sosial di Indonesia saat itu.

Negeri Haha Hihi

Bukan karena banyaknya grup lawak,

maka negeriku selalu kocak

Justru grup-grup lawak hanya mengganggu

dan banyak yang bikin muak

Negeriku lucu, dan para pemimpinnya suka mengocok perut.

 

Banyak yang terus pamer kebodohan

dengan keangkuhan yang menggelikan

Banyak yang terus pamer keberanian

dengan kebodohan yang mengharukan

Banyak yang terus pamer kekerdilan

dengan teriakan yang memilukan

Banyak yang terus pamer kepengecutan

dengan lagak yang memuakkan. Haha …

 

Penegak keadilan jalannya miring

Penuntut keadilan kepalanya pusing

Hakim main mata dengan maling

Wakil rakyat baunya pesing. Hihi …

 

Kalian jual janji-janji

untuk menebus kepentingan sendiri

Kalian hafal pepatah-petitih

untuk mengelabui mereka yang tertindih

Pepatah petitih, haha …

 

Anjing menggonggong kafilah berlalu, 

Sambil menggonggong kalian terus berlalu.

 

Haha, hihi …

Ada udang di balik batu,

Otaknya udang kepalanya batu.

Haha, hihi

Sekali dayung dua pulau terlampaui,

Sekali untung dua pulau terbeli.

Haha, hihi

Gajah mati meninggalkan gading

Harimau mati meninggalkan belang

kalian mati meninggalkan hutang.

Haha, hihi

Hujan emas di negeri orang, hujan batu di negeri sendiri,

Lebih baik yuk hujan-hujanan caci maki.

Haha, hihi.

 

Zawawi Imron

Demikian juga Zawawi Imron, penyair dari Pulau Garam Madura yang dikenal dengan julukan si “Celurit Emas”, banyak meyuarakan tentang rakyat yang terpinggirkan oleh bisingnya wacana kekuasaan. Dengan bahasa yang lirih namun tajam, ia menyentuh luka-luka sosial: kemiskinan yang terpinggirkan, ketidakadilan yang dibisukan, dan kesenjangan yang dibiarkan menganga.

Dalam puisi yang berjudul “Puisi Pagi Ini”, D. Zawawi Imron bertutur:

Sebuah kota menjerit pagi ini

Ketika di balik baju perlente

Ada bolpen menjelma linggis

 

Ketika kemewahan berhati nanah

Kualihkan mataku ke kampung nun jauh

Nyanyian tak bersuara sedang merawat ayat-ayat keringat

 

Ternyata kiblat adalah jejak pahlawan

Jejak seorang pejuang yang dilupakan

Atau jejak para pencangkul bumi penanam benih

Yang sudah jadi pahlawan sebelum mati.

Tinggalkan Balasan

Search