Ketidakadilan sosial menjadi isu yang selalu digaungkan dalam setiap rezim yang berkuasa. Di Indonesia, mulai kepemimpinan Presiden Soekarno hingga saat ini, isu ini selalu disuarakan oleh kelompok-kelompok yang tidak puas dengan berbagai kebijakan pemerintah. Kritik sosial kadang diungkap dengan suara lantang, tetapi juga ada yang bersuara dengan karya sastra.
Para budayawan memilih melakukan kritik sosial dengan karya sastra berupa puisi atau prosa. Mereka menggunakan narasi dan satire yang tepat agar protes tersebut tidak terang-terangan menunjuk siapa yang diprotes. Tajam tetapi tak menyakiti.
Seperti halnya Budayawan Mustofa Bisri, di zaman orde baru dia banyak mengungkapkan kritiknya lewat puisi. Bahkan puisinya pun masih relevan dengan kondisi saat ini. Lihat saja puisi karya Mustofa Bisri yang berjudul: “Negeri Haha Hihi” adalah sebuah kritik sosial yang tajam terhadap kondisi politik dan sosial di Indonesia saat itu.
Negeri Haha Hihi
Bukan karena banyaknya grup lawak,
maka negeriku selalu kocak
Justru grup-grup lawak hanya mengganggu
dan banyak yang bikin muak
Negeriku lucu, dan para pemimpinnya suka mengocok perut.
Banyak yang terus pamer kebodohan
dengan keangkuhan yang menggelikan
Banyak yang terus pamer keberanian
dengan kebodohan yang mengharukan
Banyak yang terus pamer kekerdilan
dengan teriakan yang memilukan
Banyak yang terus pamer kepengecutan
dengan lagak yang memuakkan. Haha …
Penegak keadilan jalannya miring
Penuntut keadilan kepalanya pusing
Hakim main mata dengan maling
Wakil rakyat baunya pesing. Hihi …
Kalian jual janji-janji
untuk menebus kepentingan sendiri
Kalian hafal pepatah-petitih
untuk mengelabui mereka yang tertindih
Pepatah petitih, haha …
Anjing menggonggong kafilah berlalu,
Sambil menggonggong kalian terus berlalu.
Haha, hihi …
Ada udang di balik batu,
Otaknya udang kepalanya batu.
Haha, hihi
Sekali dayung dua pulau terlampaui,
Sekali untung dua pulau terbeli.
Haha, hihi
Gajah mati meninggalkan gading
Harimau mati meninggalkan belang
kalian mati meninggalkan hutang.
Haha, hihi
Hujan emas di negeri orang, hujan batu di negeri sendiri,
Lebih baik yuk hujan-hujanan caci maki.
Haha, hihi.
Zawawi Imron
Demikian juga Zawawi Imron, penyair dari Pulau Garam Madura yang dikenal dengan julukan si “Celurit Emas”, banyak meyuarakan tentang rakyat yang terpinggirkan oleh bisingnya wacana kekuasaan. Dengan bahasa yang lirih namun tajam, ia menyentuh luka-luka sosial: kemiskinan yang terpinggirkan, ketidakadilan yang dibisukan, dan kesenjangan yang dibiarkan menganga.
Dalam puisi yang berjudul “Puisi Pagi Ini”, D. Zawawi Imron bertutur:
Sebuah kota menjerit pagi ini
Ketika di balik baju perlente
Ada bolpen menjelma linggis
Ketika kemewahan berhati nanah
Kualihkan mataku ke kampung nun jauh
Nyanyian tak bersuara sedang merawat ayat-ayat keringat
Ternyata kiblat adalah jejak pahlawan
Jejak seorang pejuang yang dilupakan
Atau jejak para pencangkul bumi penanam benih
Yang sudah jadi pahlawan sebelum mati.
