Rapat Kerja #3 Majelis Tabligh Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (MT PWM) Jawa Timur telah berlangsung 24-25 Januari 2026. Banyak problematikan umat yang dibahas. Banyak program yang dibuat. Tinggal menunggu perencanaan aktualisasi program sesuai dengan timeline. Tujuan akhirnya adalah dakwah yang mencerahkan dan umat yang berkemakmuran.
Banyak pesan dari petinggi PWM Jatim tentang masa depan dakwah, khususnya dalam menghadapi era digital saat ini. Tantangan dakwah semakin berat, karena harus berlomba dengan banyaknya konten digital yang berseliweran di genggaman HP. Meski tidak dapat memastikan kebenaran dan sanadnya, tetapi sayangnya banyak umat yang justru percaya pada konten digital.
Tantangan dakwah lainnya adalah bagaimana berdakwah pada umat yang masih berada di bawah garis kemiskinan, hidup di dearah terpencil, terluar dan tertinggal. Tidak banyak da’i Muhammadiyah yang selalu membersamai mereka. Umat menjadi tidak jelas harus mencari kebenaran agama dan kebenaran tata cara beribadah. Ini pun harus menjadi respon cepat MT PWM Jatim.
Daerah terpencil, terluar dan tertinggal, khususnya dalam konteks umat Islam, adalah tugas yang penuh tantangan. Mencetak da’i Muhammadiyah yang siap membersamai para umat di daerah-daerah tersebut tidak mudah. MT PWM Jatim memang sudah membuat program Da’i Pendamping Desa, untuk menjawab tantangan tersebut. Tetapi tidak mudah mendapatkan kader-kader yang siap terjun ke daerah tertentu, apalagi sebagai pendamping umat dalam waktu yang relatif lama dan semi permanen.
Tetapi tidak ada yang tidak mugkin, selama tidak pernah berhenti berusaha. Bahkan Wakil Ketua PWM Jatim, Dr. Sholihin Fanani, terus memberikan semangat pada semua unsur MT PWM Jatim. “Majelis tabligh itu harus Semangat, Sehat, Kuat, Manfaat, Hebat,” tandasnya.
Dari informasi dari Ketua MT PWM Jatim, Abdul Basith, saat ini sudah ada kader yang mengikuti pembinaan secara intensif. Jumlahnya 27 Da’i, dan saat ini sedang menjalani program kuliah di Universitas Muhammadiyah Surabaya. (UMSURA). Mereka mendapatkan bantuan belajar secara komplet, mulai biaya kuliah, biaya hidup, hingga biaya pemondokan. Mareka inilah kader dengan ideologis Muhammadiyah yang akan bertugas di daerah masing-masing.
Cukup bagus untuk memulai. Tetapi jumlah itu sangat kecil dibanding kebutuhan riil. Coba kita lihat satu contoh saja, pulau terluar di Kabupaten Sumenep, Madura. Jumlahnya 126 pulau, terdiri atas 48 pulau yang berpenghuni. Sedangkan yang tidak berpenghuni sebanyak 78 pulau. Untuk mencapai pulau-pulau tersebut, harus ditempuh dengan kapal penumpang dalam waktu tempuh yang relatif lama. Itu pun tidak setiap hari ada.
Selain itu, pada masyarakat tertinggal, khususnya dari sisi ekonomi, tidak hanya sekedar menempatkan kader Muhammadiyah yang pintar berceramah di atas mimbar. Tetapi dibutuhkan kader yang mampu memberikan sentuhan sosial pada umat. Petani yang tertinggal dari sisi ekonomi, belum tentu hadir saat diundang pengajian atau mendengarkan ceramah. Karena bagi mereka lebih penting mencari makan dibanding mendengar tausiyah.
Sentuhan sosial juga harus dilakukan dengan membantu ekonomi, membuat umat berdaya. Masalahnya, akan dibutuhkan anggaran besar untuk memberdayakan umat di wilayah tertinggal seperti ini. Memberdayakan tidak selalu dengan memberikan bantuan natura yang langsung habis, tetapi juga harus memberikan pekerjaan agar bisa lebih bedaya. Inipun banyak masalah, apakah potensi daerah memungkinkan untuk membuka lapangan kerja tertentu. Juga apakah umat memiliki ketrampilan dalam bidang kerja yang akan diciptakan. Jika melatih umat untuk membuat produk, bagaimana pemasaran dari produk tersebut. Banyak sekali yang harus dipikirkan.
Tindak Lanjut Program
Banyak program yang sudah dibuat oleh MT PWM Jatim yang diungkap dalam raker tersebut. Juga sudah dirancang teknis pelaksanaannya. Tetapi yang masih menjadi pemikiran adalah, bagaimana tindak lanjut dari program tersebut.
Seperti program mencetak Da’i, baik da’i pendamping desa maupun Akademi Mubaligh Muhammadiyah (AMM), adalah program luhur. Hanya saja, setelah mereka mengikuti program tersebut, lalu mereka harus bagaimana. Di sinilah dibutuhkan manajemen pascaprogram yang lebih terarah dan berkemajuan.
Demikian juga dengan program Festival Anak Saleh Muhammadiyah (FASHMU), banyak lomba, banyak kreativitas yang dilakukan anak-anak pada usia dini. Mereka adalah kader-kader Muhammadiyah usia dini yang 10 atau 20 tahun lagi menggantikan yang senior. Di situ berkumpul anak-anak hebat berkompetisi. Lantas, setelah anak-anak itu berlomba, berkompetisi dan menjadi juara, lalu apa yang dilakukan MT PWM Jatim pada mereka. Apakah masih ada pembinaan yang berkelanjutan pada mereka?
Ini hanya sekedar pemikiran “sederhana”, dengan harapan semangat Muhammadiyah sebagai gerakan Islam yang berkemajuan terus bergerak, sesuai dengan pesan Dr. Sholihin Fanani, MT harus Semangat, Sehat, Kuat, Manfaat, dan Hebat. (*)
