Cepat Emosi saat Puasa, Tinjauan dari Sisi Psikologis

www.majelistabligh.id -

Saat berpuasa, ada orang yang tetap tenang dan produktif, juga ada yang mudah tersinggung. Juga ada yang mudah emosi. Padahal puasa adalah untuk melatih pengendalian diri, bukan hanya soal menahan lapar dan dahaga.

Dosen Psikologi Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida), Ghozali Rusyid Affandi. S.Psi., MA, menjelaskan bahwa puasa bukan sekadar ibadah fisik. Dari sudut pandang psikologi, puasa adalah latihan besar dalam mengelola dorongan, emosi, dan respons stres.

Menurut Ghozali, secara psikologis puasa adalah proses kognitif dan emosional yang melatih otak untuk mengelola keinginan. Ada tiga arti puasa dari sudut pandang psikologis:

Menunda Kepuasan (Delay of Gratification)

Delay of gratification adalah kemampuan menolak kenikmatan sesaat demi tujuan yang lebih besar di masa depan. Dalam konteks puasa, seseorang menahan makan dan minum sekarang demi waktu berbuka, tujuan spiritual, atau nilai ketakwaan. “Kemampuan ini, menjadi salah satu indikator penting kecerdasan emosional dan kesuksesan jangka panjang,” kata Ghozali.

Menyadarkan Diri (Mindfulness)

Selain itu, puasa juga melatih kesadaran diri atau mindfulness terhadap sensasi tubuh dan kebiasaan kita sehari-hari. Banyak orang makan bukan karena lapar, tetapi karena bosan, stres, atau kebiasaan.

“Puasa memutus pola kebiasaan otomatis tersebut dan membuat kita lebih menyadari alasan di balik dorongan-dorongan kita,” ujar Sekretaris Prodi Psikologi Umsura itu.

Menguatkan Peran Otak dalam Mengendalikan Impuls

Secara alami, saat tubuh merasa lapar, naluri dasar yang diatur oleh bagian otak primitif akan mendorong segera mencari makanan. Tapi korteks prefrontal (bagian otak yang bertugas mengambil keputusan), secara sadar menahan dan mengesampingkan impuls biologis tersebut.

Ia juga mengaitkan hal ini dengan makna takwa dalam QS. Al-Baqarah ayat 183, yang pada intinya mengajarkan kemampuan menahan diri dari hawa nafsu. “Ini adalah bentuk self-control tingkat tinggi. Seseorang tidak hanya menahan lapar, tetapi juga mengendalikan pikiran dan emosi,” ujarnya.

Saat tubuh kekurangan asupan, sistem emosi juga ikut terpengaruh. Ghozali menjelaskan bahwa kondisi lapar dapat memicu perubahan suasana hati. “Kondisi tersebut biasa disebut hungry and angry,” tuturnya.

Dengan berpuasa, lanjut Ghozali, seseorang dituntut untuk tetap tenang, sabar, dan menjaga perilakunya meski sedang berada dalam ketidaknyamanan fisik. Ini melatih ketahanan mental dan kemampuan meregulasi emosi. Kondisi tarik-menarik antara otak primitif (dorongan insting) dan Korteks prefrontal (upaya menahan diri) inilah yang membuat sebagian orang menjadi lebih mudah tersinggung.

Dalam ajaran Islam, dorongan naluri dasar yang menuntut pemenuhan keinginan fisik secara instan ini sangat erat kaitannya dengan konsep Hawa Nafsu, khususnya Nafs al-Ammarah, yaitu dorongan yang mengarah pada pemuasan instan jika tidak dikendalikan.

“Islam memandang ketidaknyamanan ini bukan sekadar efek samping, melainkan medan ujian utama untuk melatih kesabaran (sabar) dan akhlak,” jelas Ghozali.

Dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim disebutkan bahwa puasa adalah perisai, dan ketika ada yang mengajak bertengkar, seseorang cukup mengatakan, “Sesungguhnya aku sedang berpuasa.”

Perbedaan reaksi, menurut Ghozali, terletak pada kemampuan regulasi emosi masing-masing individu. Orang yang tetap tenang, adalah mereka yang berhasil melatih korteks prefrontalnya untuk mengendalikan impuls dari otak primitif.

“Mereka lebih sadar (mindful), bisa menerapkan self control, dan mampu menjaga perilaku di tengah ketidaknyamanan fisik untuk mengendalikan pikiran dan emosinya,” tuturnya.

Sebaliknya, orang yang mudah meledak, emosinya belum berhasil memperkuat ketahanan mentalnya. Dalam kondisi lapar dan tidak nyaman, fungsi logis otaknya kalah oleh dorongan naluri dasar.

Namun Ghozali menegaskan bahwa kemampuan ini bisa dilatih selama Ramadan yang menjadi ruang latihan selama satu bulan penuh. (*/tim)

Tinggalkan Balasan

Search