Doa dan Air Mata di Tanah Suci, Cerita Perjalanan Haji Maimunah Zebua untuk Ibu Tercinta

www.majelistabligh.id -

Di bawah langit Madinah yang terang, Maimunah Zebua berdiri tegak di hadapan Masjid Nabawi, tempat yang telah lama menjadi impian umat Muslim di seluruh dunia. Namun, bagi Maimunah, kedatangannya kali ini lebih dari sekadar perjalanan spiritual.

Di balik air mata yang mengalir, ada sebuah kisah tentang cinta, kehilangan, dan pengabdian. Maimunah tidak hanya datang untuk memenuhi panggilan haji bagi dirinya sendiri, tetapi untuk menggantikan ibunda tercinta, Darwati Pulungan, yang telah meninggalkan dunia ini tanpa sempat menginjakkan kaki di Tanah Suci.

Bagi Maimunah, perjalanan ini memang penuh makna, di mana setiap langkah yang diambilnya adalah langkah untuk mewujudkan impian ibu yang tak sempat terwujud. Dia merasakan campuran perasaan yang sulit dijelaskan, antara kebahagiaan, kesedihan, dan rasa syukur yang mendalam.

Darwati Pulungan, ibu Maimunah, adalah seorang wanita yang sederhana dari Mandailing, Tapanuli Utara. Selama lebih dari satu dekade dia menantikan panggilan haji.

Pada 2012, Darwati memutuskan untuk mendaftar sebagai calon haji reguler. Harapannya dapat menunaikan ibadah haji pada usia yang masih cukup muda. Awalnya, dia diperkirakan akan berangkat pada 2020. Namun, pandemi COVID-19 yang melanda dunia akhirnya mengubah segalanya. Keberangkatan haji terpaksa ditunda. Darwati hanya bisa menunggu dengan rasa khawatir di dalam hatinya.

“Saya masih ingat saat Ibu bilang, ‘Apakah saya masih punya kesempatan berangkat sebelum usia saya terlalu tua?’ Saya bilang, ‘Sabar, Bu, nanti pasti ada jalannya.’ Ternyata jalannya bukan untuk Ibu,” kenang Maimunah sambil menahan tangis, kepada Afifun Nidlom, redaktur pelaksana Majelistabligh.id, di Madinah pada Sabtu (3/5/2025).

Pada tahun 2024, Darwati sempat masuk dalam daftar cadangan untuk keberangkatan haji. Namun, beberapa waktu setelah itu, ia menerima kabar yang sangat menggembirakan: namanya terpilih untuk berangkat haji dan dapat melunasi biaya haji untuk segera berangkat. Tanpa ragu, Darwati segera membayar biaya sebesar Rp 52 juta, membeli perlengkapan haji lengkap, dan menyiapkan segala sesuatunya dengan penuh semangat.

“Semua sudah dipersiapkan oleh Ibu: pakaian ihram, koper, alat salat—semuanya sudah siap. Namun, sayang, takdir berkata lain,” ujar Maimunah, dengan tatapan penuh kesedihan.

Pada 16 Januari 2025, hanya beberapa bulan sebelum musim haji dimulai, Darwati mengembuskan napas terakhir di usia 67 tahun. Kepergiannya datang begitu tiba-tiba. Tanpa sakit yang lama atau tanda-tanda yang mencolok. Maimunah merasa seolah tak ada waktu untuk berduka panjang. Karena dunia seakan berhenti sejenak ketika ia kehilangan ibu yang sangat ia cintai.

“Ibu pergi begitu cepat, tanpa sempat menginjakkan kaki di Tanah Suci,” tutur Maimunah, suaranya bergetar.

Maimunah merasa seperti sedang berada dalam mimpi. Dia tak menyangka bahwa, setelah semua persiapan, dia yang harus menggantikan perjalanan yang seharusnya dilakukan ibunya. Namun, sebagai anak yang tahu betul akan tekad dan impian ibunya, Maimunah merasa bahwa inilah amanah yang harus ia jalankan. Tidak ada pilihan lain selain melanjutkan apa yang sudah direncanakan ibu.

Proses administrasi penggantian porsi haji ibunya bukanlah hal yang mudah. Maimunah harus berjuang keras untuk menyelesaikan semua dokumen dan prosedur. Dia harus melakukan perjalanan darat berjam-jam antara Medan dan Tapanuli Utara untuk mengurus semuanya.

“Dari Medan ke Tapanuli Utara itu jauh, hampir 12 hingga 14 jam perjalanan darat. Saya bolak-balik untuk mengurus dokumen-dokumen yang diperlukan,” jelasnya.

Namun, meski melelahkan, Maimunah merasa tidak ada yang lebih penting daripada menunaikan amanah tersebut. Hanya dalam waktu kurang dari seminggu, semuanya selesai. Maimunah resmi terdaftar sebagai pengganti ibunya untuk menunaikan haji pada musim haji 2025.

“Semua sudah dibayar, semua perlengkapan sudah siap, tinggal saya yang harus menjalankannya,” ujarnya, dengan tatapan penuh tekad.

Kini, Maimunah telah tiba di Madinah, kota yang penuh berkah. Perempuan 48 tahun ini, termasuk dalam kloter pertama jemaah haji asal Sumatra Utara yang berangkat pada tahun ini. Setibanya di Madinah, ia merasa seolah-olah waktunya berhenti. Di hotel yang hanya berjarak beberapa ratus meter dari Masjid Nabawi, di sektor 5, Maimunah menatap ke arah masjid itu dengan penuh rasa syukur.

Namun, keberangkatan yang tergesa-gesa membuatnya tidak sempat mengikuti manasik haji, tahap persiapan ibadah yang sangat penting.

“Semuanya terasa terlalu cepat. Rasanya seperti saya belum selesai berduka, tapi sudah harus berangkat ke sini. Tapi saya percaya ini jalan yang sudah ditentukan,” kata Maimunah, dengan air mata yang tak bisa disembunyikan.

Baginya, perjalanan ini adalah pengganti kerinduan yang tak bisa disampaikan oleh ibunya. Setiap langkah yang diambilnya adalah bentuk penghormatan, doa, dan cinta yang tak terucapkan.

Dalam setiap tawaf, sa’i, dan lemparan jumrah, Maimunah menyisipkan nama ibunya dalam setiap doa yang ia panjatkan. Ini adalah ibadah yang ia jalani untuk dua orang: untuk dirinya sendiri, dan untuk ibunya yang telah lama mendambakan perjalanan ini.

Haji bagi Maimunah bukan hanya sekadar ibadah ritual, tetapi perjalanan spiritual yang melibatkan emosi dan pengorbanan yang mendalam. Setiap rukun dan wajib haji yang dijalankannya adalah bentuk bakti terakhir bagi seorang ibu yang telah mengorbankan banyak waktu dan usaha untuk bisa berada di sini, di Tanah Suci.

“Semua yang saya lakukan di sini, saya lakukan untuk Ibu. Setiap doa yang saya panjatkan, saya berharap Allah menerima dan mengampuni segala dosa Ibu. Ini adalah perjalanan kami berdua,” ujar Maimunah, dengan suara penuh haru.

Bagi Maimunah, haji kali ini tidak hanya menjadi sebuah pengabdian kepada Sang Pencipta, tetapi juga sebagai bentuk pengabdian terakhir kepada ibu yang telah mendidiknya dengan kasih sayang dan penuh keteladanan. Dia yakin bahwa ibunya akan senantiasa ada dalam setiap doa dan langkahnya di Tanah Suci.

Dengan hati yang penuh harapan, Maimunah berdoa di setiap sudut Tanah Suci, memohon agar Allah memberikan ampunan dan berkah kepada ibunya yang kini telah tiada. (*)

Tinggalkan Balasan

Search