Cerita Kosdu dan Raksasa akan Menelan Bulan di Langit Kampung Halaman

*) Oleh : Rodli TL.
Dosen Sastra dan Film Unisda. Anggota LDK PDM Lamongan.
www.majelistabligh.id -

Kosdu masih ingat kenangan kecil saat terjadi gerhana bulan. Orang tua mengajak keluar rumah sambil memukul kentongan. “Agar bulan tidak jadi tertelan,” kata mereka. Ada juga yang memerintah anak-anak untuk bergelantungan di pintu kalau ingin badannya lebih tinggi. Yang lain memukul pohon mangga dan jambu agar segera berbuah.

Di kampung Kosdu, gerhana bulan diyakini sebagai peristiwa sakral yang terkait dengan mitologi dan kepercayaan lokal. Beberapa keyakinan budaya Jawa tentang gerhana bulan itu terjadi karena Ratu Kidul, penguasa laut selatan, sedang marah atau sedang mengadakan upacara. Warga kampung melakukan ritual “Mitoni” atau “Tendangan Bumi” untuk menakut-nakuti “Buto” atau raksasa yang dipercaya akan menelan bulan.

Semenjak Wak Modin sering menyampaikan fenomena gerhana berdasar sabda Nabi, bahwa ritual terbaik saat gerhana adalah salat khusuf. Keyakinan-keyakinan terhadap Buto Raksasa yang mau menelan bulan itu mengikis.

Wak Modin menjelaskan bahwa gerhana bulan atau khusuf adalah fenomena alam yang terjadi ketika Bumi berada di antara matahari dan bulan, sehingga bayangan bumi menutupi bulan. Gerhana bulan sebagai tanda kekuasaan Allah dan dianjurkan untuk melakukan salat khusuf sebagai bentuk syukur dan penghormatan atas kekuasaan Allah.

Nabi Muhammad saw bersabda, “Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda di antara tanda-tanda kekuasaan Allah. Gerhana tidaklah terjadi karena kematian atau kelahiran seseorang. Jika kamu melihat gerhana, maka berzikirlah kepada Allah dan salatlah.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Zaman semakin modern, ilmu pengetahuan dan teknologi semakin canggih. Kapan akan terjadinya gerhana jauh-jauh hari sudah diketahui tanggal, jam, menit, bahkan berapa lama totalnya. (*)

Tinggalkan Balasan

Search