Pernahkah kamu merasa seperti berikut?
Salat dikerjakan, tapi hambar.
Zikir dilafazkan, tapi hati hampa.
Puasa dijalani, tapi hanya menahan lapar.
Dan dalam sunyi… kamu sadar:
“Aku sedang jauh dari-Nya.”
Terkadang, kita merasa seolah hidup ini biasa-biasa saja. Padahal jauh di dalam hati, ada bagian yang kosong.
Ada rindu yang tidak kita pahami. Kita mengejar cinta manusia, apresiasi orang lain, tapi lupa mengejar cinta yang paling utama… *cinta Allah dan Rasul-Nya.*
***
Kalau Kamu Pernah Jatuh Cinta…
Bayangkan saat kamu sedang jatuh cinta pada seseorang.
Kamu ingat dia setiap waktu. Kamu rela bangun tengah malam hanya untuk kirim pesan. Kamu mengubah penampilanmu, memperbaiki kebiasaanmu, semua agar disukai dia.
Kamu tahu artinya cinta, bukan?
Sekarang… bayangkan jika cinta itu kamu arahkan kepada *Allah* dan *Rasul-Nya*.
Apa bedanya?
***
Cinta Itu Ujian
Allah sudah menegaskan dalam firman-Nya:
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
قُلْ اِنْ كَا نَ اٰبَآ ؤُكُمْ وَاَ بْنَآ ؤُكُمْ وَاِ خْوَا نُكُمْ وَاَ زْوَا جُكُمْ وَعَشِيْرَتُكُمْ وَ اَمْوَا لُ ٱِ قْتَرَفْتُمُوْهَا وَتِجَا رَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَا دَهَا وَ مَسٰكِنُ تَرْضَوْنَهَاۤ اَحَبَّ اِلَيْكُمْ مِّنَ اللّٰهِ وَرَسُوْلِهٖ وَ جِهَا دٍ فِيْ سَبِيْلِهٖ فَتَرَ بَّصُوْا حَتّٰى يَأْتِيَ اللّٰهُ بِاَ مْرِهٖ ۗ وَا للّٰهُ لَا يَهْدِى الْقَوْمَ الْفٰسِقِيْنَ
qul ing kaana aabaaa-ukum wa abnaaa-ukum wa ikhwaanukum wa azwaajukum wa ‘asyiirotukum wa amwaaluniqtaroftumuuhaa wa tijaarotung takhsyauna kasaadahaa wa masaakinu tardhounahaaa ahabba ilaikum minallohi wa rosuulihii wa jihaading fii sabiilihii fa tarobbashuu hattaa ya-tiyallohu bi-amrih, wallohu laa yahdil-qoumal-faasiqiin
“Katakanlah, “Jika bapak-bapakmu, anak-anakmu, saudara-saudaramu, istri-istrimu, keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perdagangan yang kamu khawatirkan kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya serta berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah memberikan keputusan-Nya.” Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik.” (QS. At-Taubah 9: Ayat 24)
Betapa banyak hal yang kita cintai. Tapi, ayat ini seperti cermin yang menegur kita:
*Apakah cinta kita kepada Allah dan Rasul-Nya benar-benar yang tertinggi?*
***
Cinta yang Menghidupkan Iman
Nabi Muhammad saw bersabda:
“Ada tiga perkara yang jika ada pada seseorang, ia akan merasakan manisnya iman: (1) Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai daripada selain keduanya…”— HR. Bukhari & Muslim
Rasul tidak hanya bicara tentang kewajiban. Beliau bicara tentang *manisnya iman* — sesuatu yang dirasakan oleh hati yang mencintai.
Dan bahkan Umar bin Khattab, yang keras dan gagah itu, pun pernah diuji soal ini.
Ia berkata, “Wahai Rasulullah, sungguh engkau lebih aku cintai daripada segala sesuatu, kecuali diriku sendiri.”
Rasulullah menjawab, “Belum sempurna iman seseorang, hingga aku lebih dicintai daripada dirinya sendiri.”
Umar terdiam, lalu berkata, “Sekarang, demi Allah, engkau lebih aku cintai daripada diriku sendiri.”
Rasul pun menjawab, “Sekarang, wahai Umar…”
(HR. Bukhari)
***
Kamu Bisa Memulai dari Hari Ini
Jangan tunggu sempurna untuk mencintai Allah.
Karena cinta itu tumbuh seiring kita *mendekat*.
Bukan menunggu layak, tapi *berusaha* menjadi layak.
Sujudlah lebih lama.
Bisikkan rindu pada-Nya di malam yang sepi.
Baca Qur’an meski terbata, karena Allah tak menilai suara, tapi hati.
Cintai Rasulullah dengan mengikuti sunnahnya…
Bersikap lembut, sabar, jujur, dermawan — sebagaimana beliau.
Karena Allah berfirman:
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
قُلْ اِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّوْنَ اللّٰهَ فَا تَّبِعُوْنِيْ يُحْبِبْكُمُ اللّٰهُ وَيَغْفِرْ لَـكُمْ ذُنُوْبَكُمْ ۗ وَا للّٰهُ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ
qul ing kungtum tuhibbuunalloha fattabi’uunii yuhbibkumullohu wa yaghfir lakum zunuubakum, wallohu ghofuurur rohiim
“Katakanlah (Muhammad), “Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (QS. Ali ‘Imran 3: Ayat 31)
Penutup: Doa untuk Hati yang Ingin Cinta
*“Ya Allah, ajari hati ini untuk mencintai-Mu lebih dari segalanya.
Ajari aku mencintai Rasul-Mu seperti mencintai cahaya di tengah gelapnya dunia.
Lembutkan hatiku, kuatkan langkahku, dan bimbing aku agar cinta ini membawaku kembali pada-Mu.”*
Karena hanya *cinta kepada Allah dan Rasul-Nya* yang tak akan mengkhianati.
Dan hanya cinta itu yang akan menuntun kita… hingga *masuk surga bersama orang yang kita cintai*
“Seseorang akan dikumpulkan bersama orang yang ia cintai.” (HR.Bukhari)
