Dada Tersedak di Lembah Uhud: Sebuah Refleksi Pengorbanan

Lembah Jabal Uhud. Foto diambil dari atas Jabal Rumat, tempat di mana 50 pasukan pemanah ditempatkan dalam perang Uhud (Munahar)
www.majelistabligh.id -

Munahar, Kepala SD Muhammadiyah 6 Surabaya, yang sedang menjalankan ibadah umrah, membagikan pengalamannya saat berada di kaki Jabal Uhud. Sambil terharu ia menuliskan sebagai berikut:

***

Hari ketiga perjalanan umrah kami seharusnya menjadi hari yang penuh kegembiraan. Agenda hari ini (15/1/2026) adalah City Tour Madinah, menyusuri jejak-jejak sejarah awal Islam berkembang. Kami mengunjungi Masjid Quba dengan kesuciannya, salat sunah dua rakaat dan berdoa kepada-Nya. Berlanjut ke kebun kurma, hingga Masjid Khandaq. Semua dilakukan dalam keadaan menjaga wudhu, mencoba meresapi setiap jengkal tanah suci ini dengan hati yang bersih.

Namun, suasana batin tiba-tiba berubah drastis saat bus yang membawa rombongan kami berhenti di sebuah lembah di kaki Jabal Uhud.

Saat Kegembiraan Menjadi Keharuan

Jabal Uhud bukan sekadar bukit batu. Ia adalah saksi bisu perjuangan darah dan air mata. Di lembah inilah rasa gembira berganti menjadi sesak yang menghimpit dada. Bayangan tentang Perang Uhud seketika melintas, sebuah fragmen sejarah di mana kaum muslimin sempat mencicipi kemenangan, namun berakhir dengan ujian kekalahan yang pahit.

Tempat pemakaman 70 syuhada dalam Perang Uhud. (Munahar)
Tempat pemakaman 70 syuhada dalam Perang Uhud. (Munahar)

Mata saya tertuju pada pemakaman para syuhada. Di sanalah bersemayam para kekasih Allah yang wafat demi tegaknya panji tauhid.

Mengingat Mush’ab bin Umair: Sang Duta Islam

Pikiran saya tertuju pada satu nama yang membuat dada kian tersedak: Mush’ab bin Umair.

Sebelum memeluk Islam, Mush’ab adalah pemuda paling tampan dan menjadi idaman di Mekkah. Ia hidup dalam gelimang kemewahan, memakai pakaian terbaik, dan wewangian paling mahal yang aromanya tertinggal di jalan yang ia lalui. Namun, kecintaannya pada Allah dan Rasul-Nya membuat ia rela menanggalkan semua fasilitas duniawi itu. Ia memilih hidup dalam kemiskinan demi menjaga keimanannya.

Di lembah Uhud ini, Mush’ab menunjukkan kesetiaan puncaknya. Ia memegang bendera perang kaum muslimin dengan gagah berani. Meski kedua tangannya tertebas oleh pedang musuh, ia tetap berusaha mendekap panji Islam dengan sisa-sisa kekuatannya hingga ajal menjemput.

Kain Kafan yang Tak Cukup

Yang paling menyayat hati adalah saat Rasulullah SAW berdiri di depan jasad Mush’ab. Sang pemuda yang dulunya berpakaian serba mewah, kini hanya mengenakan sehelai kain lusuh yang pendek.

“Jika kepalanya ditutup, kakinya terlihat. Jika kakinya ditutup, kepalanya tampak.”

Tangis Nabi Muhammad SAW pecah melihat kondisi sahabat setianya itu. Sebuah pemandangan yang memberikan pelajaran keras bagi kita hari ini: tentang apa arti pengorbanan yang sesungguhnya.

Muhasabah dari Uhud

Berhenti di Jabal Uhud bukan sekadar berfoto atau melihat pemandangan. Uhud adalah pengingat bagi kita yang datang jauh-jauh dari tanah air. Apakah iman kita sudah sekuat Mush’ab? Ataukah kita masih sering mengeluh hanya karena fasilitas duniawi yang sedikit berkurang?

Sambil meninggalkan lembah ini, doa-doa terbaik kami titipkan untuk para syuhada. Semoga semangat juang dan keteguhan iman mereka meresap ke dalam sanubari kami, membawa pulang makna umrah yang lebih dari sekadar perjalanan fisik, tapi perjalanan ruhani menuju ketaatan yang hakiki.(*)

Tinggalkan Balasan

Search