*)Oleh: Alfain Jalaluddin Ramadlan
Ketua PC IMM Lamongan Bidang Tabligh dan Kajian Keislaman
Dalam tradisi keilmuan Islam, terdapat sebuah prinsip luhur yang telah diajarkan sejak zaman para salaf: “Adab sebelum ilmu.” Ungkapan ini bukan sekadar slogan, melainkan merupakan landasan fundamental dalam proses menuntut ilmu yang telah diwariskan turun-temurun oleh para ulama besar.
Adab atau akhlak yang baik merupakan pintu masuk utama agar ilmu tidak hanya menjadi tumpukan informasi, tetapi membentuk pribadi yang bijak, rendah hati, dan bermanfaat bagi sesama. Tanpa adab, ilmu bisa menjadi alat kesombongan, bahkan kehancuran moral.
Secara bahasa, adab berarti sopan santun, tata krama, dan perilaku terpuji. Dalam konteks Islam, adab mencakup seluruh aspek akhlak mulia yang mencerminkan kesempurnaan iman dan ketaatan kepada Allah Swt.
Imam Malik rahimahullah pernah berkata kepada murid-muridnya, “Pelajarilah adab sebelum kalian mempelajari ilmu.” Bahkan, Ibnu al-Mubarak menyatakan, “Kami mempelajari adab selama tiga puluh tahun dan mempelajari ilmu selama dua puluh tahun.”
Para ulama terdahulu meyakini bahwa tanpa adab, ilmu tak akan membawa manfaat. Ilmu yang tinggi tanpa adab bagaikan pedang tajam di tangan orang yang sembrono—membahayakan dirinya dan orang lain. Sebaliknya, orang yang beradab meskipun belum banyak ilmu, lebih mudah diberi petunjuk dan keberkahan oleh Allah.
Al-Qur’an dan hadis banyak memuat perintah untuk menjaga adab dalam berbagai situasi. Salah satu ayat yang sangat mencerminkan pentingnya adab adalah:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُقَدِّمُوا بَيْنَ يَدَيِ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ
“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kalian mendahului Allah dan Rasul-Nya, dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Qs Al-Hujurat: 1)
Ayat ini menekankan pentingnya menahan diri dan menghormati aturan serta petunjuk dari Allah dan Rasul, sebagai bentuk adab seorang mukmin.
Rasulullah Saw juga bersabda:
إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الأَخْلَاقِ
“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.”
(HR. Ahmad dan Al-Bukhari dalam al-Adab al-Mufrad)
Hadis ini menunjukkan bahwa salah satu misi utama diutusnya Nabi Muhammad Saw adalah untuk menyempurnakan makarim al-akhlaq (akhlak yang mulia). Dengan kata lain, Islam tidak hanya datang sebagai agama ibadah ritual semata, tetapi sebagai agama yang sangat menekankan pembinaan moral, adab, dan etika dalam seluruh aspek kehidupan manusia. Maka dari itu, adab bukan pelengkap, tapi inti dari risalah Islam itu sendiri.
Kasus Nyata
Di era modern ini, kita sering menyaksikan bagaimana kecerdasan atau keahlian seseorang justru menjadi bumerang karena tidak disertai adab.
Salah satu contoh yang nyata adalah kasus peneliti muda di Indonesia yang di tahun 2021 sempat viral karena menulis komentar merendahkan di media sosial terhadap institusi dan guru besarnya, padahal dia adalah mahasiswa yang menerima beasiswa riset dari kampusnya sendiri.
Meskipun cerdas secara akademik, sikapnya yang arogan dan tidak beradab membuat masyarakat mencibirnya, dan bahkan membahayakan karier ilmiahnya sendiri.
Kasus lain adalah perilaku sebagian pelajar dan mahasiswa yang kerap viral karena memaki guru atau dosennya di media sosial, atau menertawakan nasihat kebaikan yang diberikan orang tua atau ustadznya. Ini semua mencerminkan bahwa tanpa adab, ilmu yang seharusnya menjadi cahaya malah menjadi kegelapan.
Imam Syafi’i rahimahullah adalah contoh agung dalam menjaga adab kepada gurunya, Imam Malik. Beliau pernah berkata, “Aku membuka lembaran buku di hadapan Imam Malik dengan sangat pelan, karena aku tidak ingin suaranya mengganggu beliau.”
Bahkan Imam Syafi’i menempuh perjalanan ratusan kilometer hanya untuk mengambil satu hadis dari seorang guru.
Dalam kitab Tadrib ar-Rawi, Imam an-Nawawi menyatakan bahwa adab seorang penuntut ilmu terhadap gurunya merupakan faktor penting keberhasilan dalam menuntut ilmu. Sikap rendah hati, mendengar dengan seksama, dan memuliakan ilmu serta pengajarnya menjadi kunci utama terbukanya keberkahan ilmu.
Pendidikan Islam dan Penanaman Adab Sejak Dini
Pendidikan Islam sejati sejatinya bukan hanya bertujuan mencetak generasi yang cerdas secara intelektual, tetapi juga membentuk insan-insan yang santun, beradab, dan berakhlak mulia.
Kecerdasan yang tidak diimbangi dengan karakter yang baik justru dapat menjadi ancaman, baik bagi diri sendiri maupun bagi lingkungan sekitarnya. Oleh karena itu, pendidikan yang Islami harus berorientasi pada pembentukan kepribadian utuh: akal yang tercerahkan, hati yang bersih, dan perilaku yang mencerminkan nilai-nilai Islam.
Dalam perspektif ini, adab memiliki posisi yang sangat fundamental. Adab harus ditanamkan sejak usia dini, dimulai dari lingkungan terkecil yakni keluarga, lalu diperkuat di sekolah, dan ditopang oleh budaya sosial di masyarakat.
Orang tua sebagai pendidik pertama dan utama memiliki tanggung jawab untuk menanamkan nilai-nilai sopan santun, penghormatan kepada guru, kasih sayang kepada sesama, serta kedisiplinan.
Selanjutnya, lembaga pendidikan memiliki peran strategis dalam menumbuhkan budaya adab melalui keteladanan guru, kurikulum yang menyentuh aspek karakter, serta lingkungan belajar yang mendukung pembentukan kepribadian luhur.
Sayangnya, realitas pendidikan hari ini menunjukkan kecenderungan yang memprihatinkan. Banyak institusi pendidikan yang terlalu menitikberatkan pada capaian akademik dan penguasaan kognitif semata, sehingga aspek pembinaan karakter kerap terabaikan.
Ranking, nilai ujian, dan prestasi akademik menjadi tolok ukur utama keberhasilan pendidikan, sementara sikap, perilaku, dan moral peserta didik hanya menjadi aspek pelengkap, bahkan kadang diabaikan.
Kondisi ini mulai menampakkan dampaknya secara nyata. Dalam laporan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) pada tahun 2023, tercatat lebih dari 1.200 kasus kekerasan yang melibatkan siswa terhadap guru maupun antar siswa sendiri.
Angka ini sangat memprihatinkan dan menjadi cermin dari lemahnya pembinaan adab di dunia pendidikan kita. Siswa yang seharusnya menghormati gurunya sebagai sumber ilmu, justru menunjukkan perilaku agresif dan tidak sopan.
Bahkan dalam beberapa kasus ekstrem, terjadi perundungan (bullying), penganiayaan, hingga pelecehan verbal yang dilakukan oleh pelajar terhadap temannya sendiri.
Fakta ini menjadi peringatan keras bahwa sistem pendidikan kita perlu kembali menata orientasinya. Penanaman nilai adab dan akhlak tidak bisa lagi dianggap sebagai pelengkap, tetapi harus menjadi inti dari kurikulum dan budaya sekolah.
Pendidikan harus kembali pada tujuan hakikinya, sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasulullah Saw. Jika adab dijadikan pondasi sejak awal, maka ilmu yang dipelajari akan membuahkan kebijaksanaan, dan generasi yang lahir pun akan menjadi pribadi yang utuh: cerdas, beriman, dan berakhlak.
Penutup
Adab bukanlah penghambat ilmu, justru adab adalah pembuka jalan bagi ilmu yang bermanfaat. Ilmu tanpa adab hanyalah kesombongan intelektual, sementara adab tanpa ilmu akan kehilangan arah.
Oleh karena itu, keduanya harus berjalan beriringan, dengan adab sebagai fondasi awal.
Seorang Muslim sejati adalah mereka yang menuntut ilmu dengan penuh rasa hormat, kesungguhan, dan ketawadhuan. Marilah kita wariskan kepada generasi berikutnya nilai luhur ini: dahulukan adab sebelum ilmu, agar lahir pribadi-pribadi yang bukan hanya cerdas, tetapi juga beradab dan menjadi rahmat bagi semesta.
“Adab adalah cahaya yang menghantarkan ilmu menuju hikmah, dan hikmah menuju ridha Allah.” (*)
*) Wakil Sekretaris LSBO PDM Lamongan, Ketua Bidang Pustaka dan Literasi Kwarwil Hizbul Wathan Jawa Timur, Pengajar Pondok Pesantren Al Mizan Muhammadiyah Lamongan, KM3 Pimpinan Pusat Muhammadiya.
