Dai Muda: Jantung Kemakmuran Masjid di Era Digital

www.majelistabligh.id -

*)Oleh: Imam Sapari, S.HI, M.Pd.I
Ketua Majelis Tabligh PDM Kota Surabaya

Masjid itu lebih dari sekadar tempat salat dan ia adalah jantung peradaban Islam. Fungsi masjid amatlah luas, mulai dari pusat ibadah, tempat pendidikan, hingga ruang musyawarah dan kegiatan sosial lainnya. Namun, di tengah gempuran globalisasi dan pesatnya perkembangan teknologi, peran masjid seolah meredup, terutama bagi generasi muda. Di sinilah peran dai muda menjadi krusial, sebuah keniscayaan untuk menghidupkan kembali denyut nadi masjid dengan gaya, ciri khas anak anak muda.

Generasi muda saat ini, atau yang kerap disebut digital-native, hidup dalam dunia yang penuh tantangan. Mereka rentan terhadap berbagai masalah, mulai dari kecanduan gadget, pergaulan sesat, hingga isu kesehatan mental seperti depresi dan rasa insecure. Kelemahan seperti sikap labil, abai, dan instan juga sering melekat pada mereka. Namun, di balik semua itu, mereka memiliki potensi positif yang luar biasa seperti idealisme tinggi, energi melimpah, penguasaan teknologi, dan kreativitas tanpa batas.

Dai muda, dengan karakteristik yang serupa, adalah sosok yang paling tepat untuk menjembatani nilai-nilai Islam dengan dunia kontemporer saat ini. Mereka menguasai bahasa dan platform yang digunakan oleh generasi muda. Sebuah penelitian bahkan menunjukkan bahwa konten dakwah yang visual, interaktif, dan relevan dengan isu sehari-hari memiliki dampak signifikan dalam meningkatkan minat pemuda terhadap agama.

Oleh karena itu, pendekatan dakwah harus inovatif dan adaptif. Masjid tidak bisa lagi hanya mengandalkan ceramah formal. Dai muda dapat memanfaatkan media sosial seperti YouTube atau TikTok untuk kajian singkat, atau Instagram Live untuk diskusi interaktif.

Mereka bisa mengadakan workshop kreatif, misalnya pelatihan videografi dakwah atau desain grafis Islami. Membentuk komunitas hobi Islami, seperti klub sepak bola syariah atau komunitas fotografi masjid, juga bisa menjadi cara efektif untuk menarik minat. Bahkan, inisiatif wirausaha (dai preneurship) seperti mendirikan kafe atau bisnis daring di lingkungan masjid bisa menjadi magnet baru.

Pada intinya, memakmurkan masjid bukan hanya mengisi saf salat, melainkan menjadikannya pusat peradaban yang dinamis. Dai muda adalah aset berharga dalam mewujudkan visi ini. Investasi dalam pembinaan mereka adalah investasi untuk masa depan umat. Dengan prinsip profesionalisme, keikhlasan, dan kreativitas, dai muda dapat mengembalikan masjid pada fitrahnya sebagai sumber keberkahan dan peradaban yang relevan bagi seluruh lapisan masyarakat, terutama generasi penerus.(*)

Tinggalkan Balasan

Search