Dakwah dengan Sentuhan Sosial Menjadi Perhatian Majelis Tabligh PWM Jatim

Ketua majelis taligh PWM Jatim (berdiri) saat memberikan sambutan.
www.majelistabligh.id -

Ketua Majelis Tabligh Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (MT PWM) Jawa Timur, Abdul Basith, Lc, MPdI  mengatakan bahwa banyak wilayah tertinggal dan terluar butuh sentuhan dakwah yang menggembirakan. Dakwah pada daerah-daerah khusus seperti ini jangan hanya memberikan ceramah dari mimbar, tetapi butuh sentuhan sosial yang nyata.

“Pada daerah-daerah seperti ini, mereka tidak sekedar butuh ceramah, tetapi yang lebih dibutuhkan adalah sentuan sosial, termasuk masalah ekonomi umat,” kata Ketua MT PWM Jatim, Abdul Basith, dalam sambutannya pada pembukaan Raker MT PWM Jatim, yang berlangsung di Kota Batu, Malang, Sabtu (24/1/2025).

Menurutnya, dinamika masyarakat memang terus berkembang, tetapi kita harus dapat memetakan daerah-daerah garapan dakwah. Sebab tidak semua daerah dilakukan sistem dakwah yang sama.

“Inilah tantangan kita. Coba kita lihat di desa-desa terpencil dengan tingkat ekonomi yang relatif tertinggal, maka dakwah dengan sentuhan sosial lebih tepat,” tambah Basith.

Karena itu, MT PWM Jatim, terus bergerak mecetak dan menyebarkan para dai dalam program Dai Pendamping Desa. Tentu saja pembekalan dilakukan menyesuaikan dengan karakter daerah masing-masing. “Inlah perlunya memetakan lokasi dakwah, khususnya di Jawa Timur,” paparnya.

Saat ini, lanjutnya, sedang berjalan para dai muda yang dilatih dan dikuliahkan di Universitas Muhammadiyah Surabaya. Para Dai inilah yang akan diterjunkan di daerah-daerah yang memang membutuhkan kehadiran dai yang mencerahkan, menggembirakan, serta dapat mengangkat kesalehan warga sekaligus berdaya dari sisi ekonomi.

“Ada 27 dai kita kuliahkan dengan beasiswa lengkap, termasuk living cost dan kebutuhan lainnya,” jelasnya.

Selain itu, pihaknya menggarisbawahi perlunya dakwah dilakukan sejak usia dini. Sebab anak-anak kita inilah harus menjadi kader dengan ideologi Muhammadiyah yang kuat. “Kalau tidak dibina sejak usia dini, maka pengkaderan kita akan sedikit terganggu,” jelasnya.

Pengkaderan usia dini ini, diterjemahkan oleh MT PWM Jatim dalam program FASHMU, atau Festival Anak Saleh Muhammadiyah. Program ini menjadi sangat penting, karena bisa  menjaring kader-kader Muhammadiyah usia dini dengan bakat dan kemampuan yang handal.

Basith mengingatkan, bahwa program yang disusun oleh MT PWM Jatim jangan hanya sebatas pada pelaksanaan program, tetapi harus dipikirkan tindak lanjut dari program tersebut. “Inilah yang harus kita perhatikan. Pembinaan pascaprogram menjadi bagian penting dari kesuksesan suatu program,” paparnya. (nun)

 

Tinggalkan Balasan

Search